Oleh: Rusman, S.Pd.I. Sekretaris Umum PDPM Abdya.
Setiap 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Upacara, pidato, lomba, lalu selesai. Padahal Ki Hadjar Dewantara tidak pernah mendirikan Taman Siswa hanya untuk seremonial. Ia membangun sekolah karena yakin pendidikan adalah senjata melawan peradaban yang timpang.
Hari ini, tantangan peradaban itu datang lebih sunyi tapi mematikan.
Peradaban Digital Tanpa Akar
Anak-anak Abdya sudah pegang HP sejak SD. TikTok, AI, game online lebih fasih dari membaca peta Aceh. Tapi berapa banyak yang tahu sejarah Teuku Peukan, atau kenapa banyak persoalan yang tidak tundas? Kita mencetak generasi yang melek teknologi tapi buta konteks. Sekolah sibuk kejar nilai PISA, lupa mengakar.
2. Peradaban Ijazah Tanpa Nalar
Angka partisipasi sekolah naik, gedung baru banyak. Tapi lulusan bingung ketika disuruh mikir. Budaya “hafal-jawab-lupa” masih merajai kelas. Akibatnya kita panen sarjana yang gagap di pasar kerja, tapi juga gagap ketika diminta memecah masalah banjir langganan di Susoh atau harga pupuk mahal. Ijazah ada, nalar kritis nihil.
3. Peradaban Pasar Bebas yang Membunuh Sekolah
Pendidikan makin rasa bimbel. Yang kaya les, yang miskin tertinggal. Sekolah negeri kekurangan guru produktif, swasta mahal tapi kurikulum impor. Di Abdya, anak pedalaman Manggeng harus pilih: jalan 2 jam ke sekolah atau bantu orang tua ke kebun. Ini bukan salah mereka. Ini salah sistem yang abai pada geografi dan ekonomi.
Lalu, Hardiknas mau kita apakan?
Pertama, kembalikan sekolah sebagai ruang berpikir, bukan pabrik nilai. Guru harus dilatih jadi fasilitator nalar, bukan mesin koreksi. Kurikulum Merdeka bagus, tapi tanpa guru merdeka ya macet.
Kedua, digitalisasi jangan cabut akar. Ajarkan coding, tapi juga ajarkan filsafat meusueraya, gotong royong, tahan banting, hormat bumi. Teknologi tanpa budi pekerti cuma melahirkan penjajah baru yang lebih pintar.
Pahlawan Nasional yang juga pelopor pembaharuan Islam dan pendidikan modern di Indonesia, KH. Ahmad Dahlan pernah berkata; “Pendidikan adalah alat untuk menciptakan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.” — “Belajar bukan hanya sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter yang baik.”
Ketiga, negara harus hadir di tapal batas. Beasiswa afirmatif, guru penggerak untuk daerah 3T, internet gratis di meunasah. Kalau Abdya mau maju, anak Lembah Sabil dan Babahrot harus dapat kualitas guru yang sama dengan anak di Banda Aceh.
Ki Hadjar bilang: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.
Hari ini kita kebanyakan “tut wuri” dengan revisi kurikulum tiap ganti menteri. Tapi lupa “ing ngarsa” memberi teladan: pejabat jujur, birokrasi bersih, anggaran pendidikan tidak dikorupsi.
Peradaban tidak dibangun dengan upacara. Ia dibangun di kelas yang hidup, di guru yang merdeka, dan di kebijakan yang berpihak. Kalau tidak, 10 tahun lagi kita masih merayakan Hardiknas dengan krisis yang sama: generasi pintar main HP, tapi bingung bangun kampung.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga kita tidak hanya mengenang Ki Hadjar, KH. Ahmad Dahlan dan tokoh pendidikan tapi meneladaninya.











