BANDA ACEH – Akademisi dan pegiat seni, Ari Palawi, menyoroti masih minimnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan seni dan kebudayaan di Aceh. Menurutnya, hingga saat ini para pelaku seni masih berjuang secara mandiri untuk menciptakan ruang-ruang kreatif yang mampu menghidupkan ekosistem kesenian secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah diskusi seniman Aceh dan komunitas SKATE PARK STATE Banda Aceh di Sophi Sunset Coffee, Geuce, Banda Aceh, Rabu (17/6/2026), yang dihadiri sejumlah seniman, musisi, aktor teater, dan pegiat budaya.
Ari yang juga dosen sendratasik USK menilai kesenian selama ini masih dipandang sebatas hiburan dan pelengkap acara seremonial. Akibatnya, dukungan pemerintah terhadap penguatan ekosistem seni belum menjadi prioritas pembangunan.
“Kesenian masih dianggap sekadar hiburan. Padahal di dalamnya ada pendidikan, kreativitas, ekonomi, dan pembentukan karakter masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ari, pemerintah seharusnya tidak hanya hadir melalui penyelenggaraan acara seremonial, tetapi juga membangun sistem yang mampu mendukung proses kreatif para seniman secara berkelanjutan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan ruang berekspresi, pendampingan, dokumentasi karya, hingga pembentukan ekosistem ekonomi kreatif yang berpihak kepada pelaku seni.
Ia mencontohkan pengalaman mengembangkan program Skate Park Stage, sebuah ruang kreatif yang dibangun secara swadaya untuk memberikan kesempatan kepada seniman muda menampilkan karya mereka. Dari kegiatan tersebut, muncul berbagai potensi baru yang menunjukkan bahwa Aceh memiliki sumber daya kreatif yang besar.
“Potensi seniman kita luar biasa. Yang sering tidak tersedia adalah ruang, dukungan, dan keberpihakan kebijakan untuk mengembangkannya,” katanya.
Ari juga mengingatkan bahwa investasi di bidang kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran semata. Menurutnya, penguatan sektor seni dan budaya dapat melahirkan industri kreatif baru, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat identitas daerah.
Karena itu, ia berharap Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota mulai menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan daerah, bukan hanya sebagai kegiatan pelengkap.
“Kalau pemerintah serius membangun kebudayaan, maka yang dibangun bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi juga ekosistem yang membuat seniman bisa tumbuh, berkarya, dan hidup dari karya mereka,” tegas Ari.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, kampus, komunitas, dan pelaku seni dapat diperkuat agar Aceh memiliki ekosistem kebudayaan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.[]










