IDI – Pemerintah Kabupaten (Aceh Timur bersama Satuan Tugas Pusat Unggulan Produksi Lestari (Satgas PUPL) memulihkan sebanyak 411 hektare perkebunan sawit milik rakyat yang terdampak banjir.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Timur Murdhani di Aceh Timur, Kamis, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan pemerintah daerah bersama Satgas PUPL dan mitra dalam mendukung pembangunan perkebunan sawit rakyat yang produktif dan berkelanjutan.
“Program pemulihan ini menyasar kebun sawit milik petani yang mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat banjir hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada November 2025,” katanya.
Bantuan diberikan, katanya, ditargetkan menjangkau 350 petani binaan dengan cakupan lahan seluas 411 hektare di sejumlah wilayah terdampak banjir di Kecamatan Ranto Peureulak dan Peunaron.
“Pemerintah daerah berterima kasih atas upaya percepatan pemulihan produktivitas kebun petani yang terdampak banjir sehingga dapat kembali berproduksi dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat,” kata Murdhani.
Program pemulihan sawit tersebut didukung lembaga mitra yang mendukung pembangunan ekonomi hijau di Kabupaten Aceh Timur seperti Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH).
Kemudian, Forum Konservasi Leuser (FKL) melalui program National Initiative for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS).
NISCOPS merupakan program kerja sama internasional dengan pendanaan dari pemerintah Belanda dan Inggris bertujuan mendukung petani kelapa sawit swadaya agar dapat memproduksi minyak sawit secara berkelanjutan, ramah iklim, dan memenuhi standar tujuan pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Satgas PUPL Ibrahim mengatakan program tersebut dirancang untuk mempercepat pemulihan kebun sawit masyarakat melalui penyediaan sarana kerja, pembersihan lahan, serta aplikasi pupuk dolomit guna memperbaiki kondisi tanah pascabencana.
“Harapannya agar produktivitas kebun dapat pulih dan kesejahteraan petani kembali meningkat. Program rehabilitasi dilaksanakan selama sebulan dengan tiga komponen utama,” katanya.
Ibrahim menyebutkan komponen utama tersebut yakni pengadaan alat kerja berupa sepatu dan cangkul, pembersihan lahan dari semak dan vegetasi pengganggu, serta penyaluran pupuk untuk memperbaiki keasaman tanah dan meningkatkan kesuburan lahan.
Selain mendorong pemulihan ekonomi petani, program tersebut juga diharapkan memperkuat praktik pengelolaan kebun yang berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak bencana hidrometeorologi di sektor perkebunan.
“Para petani yang menerima bantuan merupakan petani binaan yang telah aktif didampingi sejak 2023 melalui program kelapa sawit berkelanjutan,” kata Ibrahim.
Selama beberapa tahun terakhir, Satgas PUPL bersama mitra telah menjalankan berbagai kegiatan, mulai pendampingan petani, penguatan kelembagaan kelompok tani.
Serta pelatihan praktik budidaya berkelanjutan, pemetaan kebun, hingga pengembangan kemitraan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Melalui berbagai program tersebut, Pemkab Aceh Timur bersama Satgas PUPL terus berupaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan perkebunan rakyat,” kata Ibrahim.










