TAPAKTUAN – Situs Bupaleh yang berada di kawasan pesisir Pasie Kuala Ba’u, Kecamatan Kluet Utara, tidak hanya dikenal sebagai tempat musyawarah ulama dan pejuang, tetapi juga diyakini pernah berfungsi sebagai benteng pertahanan dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.
Tokoh masyarakat setempat, Syahed Habibi, mengungkapkan bahwa kawasan Bupaleh memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perjuangan rakyat Aceh Selatan.
“Bupaleh ini merupakan sebuah benteng pada masa itu. Dahulu terdapat tiga meriam di sekitar kawasan Bupaleh. Namun karena kurangnya perawatan dan perhatian, dua meriam tersebut hilang. Hingga saat ini hanya tersisa satu meriam yang masih dapat dilihat dan terpajang di lokasi tersebut,” ujar Syahed Habibi.
Menurutnya, keberadaan meriam tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kawasan Bupaleh memiliki peran strategis dalam mempertahankan wilayah dari ancaman kolonial pada masa lampau. Selain menjadi tempat bermusyawarah para ulama dan pemimpin perang, lokasi ini juga berfungsi sebagai titik pertahanan yang mendukung perjuangan rakyat Aceh.
Tidak jauh dari situs Bupaleh, terdapat pula kompleks pemakaman para habib yang disebut ikut berjuang bersama masyarakat dalam mempertahankan tanah Aceh Selatan dari penjajahan.
“Di samping Bupaleh terdapat kuburan para habib yang turut memperjuangkan tanah Aceh Selatan ini. Mereka tidak hanya berdakwah, tetapi juga ikut berkontribusi dalam perjuangan melawan penjajah,” tambahnya.
Keberadaan situs bersejarah tersebut menjadi pengingat akan eratnya hubungan antara ulama, habaib, dan para pejuang dalam mempertahankan kedaulatan Aceh. Namun, hilangnya sebagian peninggalan sejarah seperti dua meriam yang pernah berada di kawasan itu juga menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat.
Sementara itu, Syahrul Amin dari PMII Aceh mengajak generasi muda untuk ikut menjaga dan melestarikan Situs Bupaleh sebagai warisan berharga perjuangan para pahlawan Aceh Selatan.
“Sebagai pemuda yang cinta terhadap peninggalan sejarah pahlawan lokal Aceh Selatan terdahulu, kita sepatutnya menjaga situs ini agar tidak tinggal nama saja. Situs ini menjadi bukti bahwa cerita perlawanan pahlawan Aceh memang ada, bukan sekadar cerita biasa. Dengan suguhan pemandangan alam yang ada di Pasie Kuala Ba’u, situs ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi masyarakat luar untuk berkunjung ke sini,” ujar Syahrul Amin.
Ia menambahkan, keberadaan satu meriam yang masih tersisa serta makam para habib pejuang di sekitar kawasan Bupaleh semakin memperkuat bukti sejarah perjuangan rakyat Aceh Selatan melawan kolonial Belanda. Karena itu, ia berharap pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga serta merawat situs tersebut agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Sejumlah warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian Situs Bupaleh beserta berbagai peninggalan sejarah yang masih tersisa. Dengan demikian, warisan perjuangan para ulama, habaib, dan pahlawan Aceh Selatan dapat terus dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian penting dari sejarah daerah.
Tapi sangat disayangkan tempat Bupaleh tersebut tidak terawat dengan baik, kotoran hewan dan coretan di tempat tersebut.










