MEUREUDU — Kemiskinan sering kali hadir tanpa suara, Ia tidak selalu tampak dalam angka-angka statistik, laporan pemerintah, atau pidato tentang pembangunan, Ia bersembunyi di balik pintu rumah yang nyaris roboh, di piring yang kosong, dan di mata anak-anak yang terlalu cepat belajar menerima kenyataan.
Di Gampong Meunasah Mulieng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, kemiskinan memiliki wajah yang sangat nyata.
Wajah itu adalah lima bersaudara yang hidup tanpa pendampingan orang tua setelah ayah dan ibu mereka berpisah sekitar lima tahun lalu.
Selama lima tahun, mereka menjalani kehidupan yang seharusnya tidak pernah dipikul oleh anak-anak. Mereka mengatur rumah sendiri, mencari cara agar dapur tetap mengepul, membagi pengeluaran yang nyaris tidak ada, dan berusaha mempertahankan sekolah di tengah himpitan ekonomi.
Mereka tidak sedang belajar mandiri.
Mereka sedang berjuang agar tetap hidup.
Di rumah itu, rasa lapar bukan cerita sesekali.
Ia pernah menjadi kenyataan selama dua hari penuh.
Tidak ada nasi.
Tidak ada lauk.
Tidak ada uang.
Yang ada hanya harapan bahwa masih ada tetangga yang bersedia meminjamkan beras agar mereka bisa bertahan hingga hari berikutnya.
Bagi sebagian orang, dua hari tanpa makan mungkin hanya angka.
Bagi lima anak itu, dua hari adalah waktu yang sangat panjang untuk melawan rasa lapar sambil tetap berpikir bagaimana esok mereka akan hidup.
Anak sulung, AM (20), mengorbankan masa depannya. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan harus ia tinggalkan. Ia memilih bekerja agar adik-adiknya tetap bisa makan.
Pilihan itu bukan karena ia tidak ingin sekolah.
Pilihan itu lahir karena kemiskinan sering memaksa seseorang memilih siapa yang harus diselamatkan lebih dahulu.
Nasib serupa dialami adik ketiganya yang masih duduk di kelas II SMP. Pendidikan sempat terputus karena biaya. Di usia ketika teman-teman sebayanya sibuk belajar dan bercita-cita, ia justru bekerja membantu penyemaian bibit kakao demi mendapatkan upah.
Anak kedua merantau bekerja ke luar daerah. Dua adik lainnya tetap bersekolah dengan segala keterbatasan, menjalani hari-hari tanpa kepastian apakah kebutuhan mereka akan terpenuhi hingga akhir pekan.
Mereka masih menyimpan mimpi.
Tetapi setiap hari kemiskinan memaksa mereka menunda mimpi itu demi bertahan hidup.
Yang paling mengusik bukan hanya kisah kemiskinan mereka.
Yang paling mengusik adalah pertanyaan mengapa kondisi ini dapat berlangsung bertahun-tahun.
Bagaimana mungkin lima anak hidup tanpa pengasuhan orang tua selama sekitar lima tahun, bahkan pernah mengalami kelaparan, tanpa lebih dulu menjadi perhatian luas?
Apakah kondisi mereka telah terdata sebagai keluarga rentan?
Apakah mereka telah memperoleh seluruh bentuk perlindungan dan bantuan sosial yang memang menjadi hak keluarga yang memenuhi syarat?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting dijawab, bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi agar tidak ada lagi anak lain yang mengalami nasib serupa dalam diam.
Ironisnya, kisah ini justru mencuat setelah sampai ke telinga Aipda Jonni Rahmad, personel Polres Pidie Jaya.
Pada Rabu, 29 Juli 2026, ia mendatangi rumah tersebut.
«”Setelah kami cek dan mendatangi langsung rumahnya, ternyata benar terdapat lima orang anak yang hidup mandiri di desa tersebut,” ujarnya.»
Ia kemudian menyerahkan bantuan berupa uang tunai, kebutuhan pokok, makanan ringan, dan perlengkapan sekolah.
Bantuan itu sangat berarti.
Namun bantuan individu, seberapa pun tulusnya, tidak dapat menjadi pengganti sistem perlindungan sosial yang seharusnya mampu menjangkau anak-anak dalam kondisi seperti ini.
Kisah lima bersaudara ini bukan sekadar kisah tentang kemiskinan.
Ini adalah potret tentang rapuhnya perlindungan terhadap anak-anak yang kehilangan pengasuhan, tentang pentingnya pendataan yang akurat, tentang gotong royong yang tidak boleh padam, dan tentang tanggung jawab bersama untuk memastikan tidak ada anak yang tumbuh dalam kelaparan.
Sebab ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya jalan yang mulus, kantor yang megah, atau laporan realisasi anggaran yang tinggi.
Ukuran keberhasilan yang paling sederhana adalah ketika tidak ada lagi anak yang harus berhenti sekolah demi membeli beras.
Ketika tidak ada lagi anak yang tidur dengan perut kosong.
Ketika tidak ada lagi saudara kandung yang menggantikan peran ayah dan ibu karena keadaan.
Dan ketika masyarakat, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan hadir sebelum sebuah penderitaan berubah menjadi berita.
Sebab sebuah daerah tidak dinilai dari seberapa sering ia berbicara tentang kesejahteraan, tetapi dari seberapa cepat ia menemukan dan melindungi warganya yang paling rentan.
Lima bersaudara di Meunasah Mulieng telah bertahan selama bertahun-tahun.
Kini, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah mereka membutuhkan bantuan.
Melainkan, apakah kita akan membiarkan kisah seperti ini kembali terulang di rumah lain, di gampong lain, sementara kita baru tersadar setelah rasa lapar itu menjadi berita.[Mul]










