Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

Pakar: Sejarah Indrapurwa Harus Dihidupkan Kembali

redaksi by redaksi
13/08/2026
in Lintas Timur
0
Pakar: Sejarah Indrapurwa Harus Dihidupkan Kembali

JANTHO – Museum Indrapurwa Kecamatan Peukan Bada menggelar Seminar menghadirkan dua akademisi UIN Ar-Raniry dan satu Pemateri dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Aceh, Kamis 13 Agustus 2026 di Aula UDKP Kecamatan Peukan Bada.

Pemateri pertama, Dr Azwar Fajri MSi, dosen UiN Ar-Raniry, Warisan Peradaban Indrapurwa: Dari Sejarah Menuju Penguatan Identitas dan Kemajuan Daerah.

Pemateri kedua, Hermansyah, M.Th., M.Hum, Dosen Prodi Sejarah dan Kebudayaan Isla. (SKI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dan Pemateri dari BPK, Sudirman, Jejak Peradaban Indrapurwa

Kegiatan tersebut dibuka oleh Bupati Aceh Besar yang diwakili Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Dr. Agus Jumaidi, M.Pd.

Seminar mengusung tema “Menelusuri Jejak Sejarah Indrapurwa, Menghidupkan Kembali Warisan Peradaban”.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Ikatan Pemuda Peukan Bada dan dilaksanakan melalui kerja sama Museum Indrapurwa dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Aceh serta Kecamatan Peukan Bada.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepedulian terhadap sejarah dan budaya lokal, sekaligus memperkenalkan kembali jejak peradaban Indrapurwa kepada generasi muda.

Dalam sambutannya, Dr. Agus Jumaidi menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, guru, pelajar, mahasiswa, budayawan, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak yang telah berpartisipasi untuk pelestarian sejarah melalui keberadaan Museum Indrapurwa.

“Upaya menggali dan menghidupkan kembali jejak peradaban masa lalu terus mendapat perhatian di Aceh Besar. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mendorong sejarah Indrapurwa tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi berkembang menjadi sumber pendidikan, penelitian, dan kebudayaan bagi generasi mendatang, “katanya.

Menurutnya, lahirnya Museum Indrapurwa yang diinisiasi masyarakat Peukan Bada tersebut merupakan langkah penting, terlebih Peukan Bada memiliki perjalanan sejarah dan peradaban yang panjang.

Ini merupakan museum yang lahir dari inisiatif masyarakat dan berada di sebuah kecamatan yang memiliki peradaban luar biasa. Ini menjadi langkah penting untuk menggali kembali sejarah sekaligus menjadikannya sebagai ruang pendidikan dan penelitian,” ujarnya.

Dr. Agus Jumaidi menilai keberadaan Museum Indrapurwa memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan. Tidak hanya bagi masyarakat Peukan Bada, tetapi juga generasi muda Aceh khususnya generasi Aceh Besar.

Agus Jumaidi mengingatkan, perkembangan zaman membuat generasi muda berpotensi semakin jauh dari pengetahuan mengenai sejarah daerahnya sendiri. Karena itu, upaya dokumentasi, penelitian dan rekonstruksi sejarah yang lebih serius perlu dilakukan sejak sekarang.

“Anak-anak kita hari ini adalah generasi Z dan ke depan akan ada generasi berikutnya. Mereka perlu mengetahui seperti apa Peukan Bada dan peradabannya 100, 200 bahkan 300 tahun yang lalu,” katanya.

Ia juga menyoroti posisi Peukan Bada sebagai salah satu wilayah yang memiliki perjalanan sejarah penting, termasuk kawasan yang terdampak berat tsunami. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari sejarah yang penting untuk diteliti dan didokumentasikan dengan baik.

Dalam kesempatan itu, Agus Jumaidi menyebut terdapat peluang besar untuk menjadikan Museum Indrapurwa sebagai laboratorium sejarah, tempat penelitian, sekaligus ruang belajar bagi generasi muda.

“Harapannya museum ini bisa menjadi tempat anak-anak muda belajar, menjadi laboratorium sejarah dan kebudayaan. Bukan hanya untuk generasi muda di Peukan Bada, tetapi juga Aceh Besar, Aceh, bahkan ke tingkat nasional,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Agus Jumaidi menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, pemerhati sejarah, budayawan, lembaga kebudayaan dan berbagai pihak terkait dalam mengembangkan Museum Indrapurwa.

Ia juga membuka peluang koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk memperkuat kajian sejarah dan memastikan rekonstruksi yang dilakukan memiliki dasar penelitian yang kuat.

“Kita bisa duduk bersama, berdiskusi dan melakukan rekonstruksi yang sebenar-benarnya mengenai lokasi Benteng Indrapurwa. Ini membutuhkan penelitian dan kajian bersama agar sejarah yang kita wariskan kepada generasi mendatang memiliki dasar yang kuat,” katanya.

Agus Jumaidi berharap seminar tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan Museum Indrapurwa. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, kata dia, siap memberikan dukungan sesuai kewenangan dan kemampuan yang dimiliki.

Ia menilai keberadaan museum tersebut memiliki prospek jangka panjang. Dengan pengelolaan yang baik, Museum Indrapurwa dapat berkembang menjadi pusat edukasi sejarah sekaligus destinasi kebudayaan yang memperkenalkan kekayaan peradaban Aceh Besar kepada masyarakat luas.

“Ini adalah peluang yang sangat bagus untuk bagaimana Indrapurwa bisa berkembang dalam 10 sampai 20 tahun ke depan. Kita ingin sejarah tidak hilang, tetapi terus hidup dan dapat dipelajari oleh generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Seminar tersebut turut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Peukan Bada, pengelola Museum Indrapurwa, Ikatan Pemuda Peukan Bada, budayawan, tokoh masyarakat dan tokoh adat, guru, hingga para siswa yang diundang langsung untuk mendengarkan pemaparan seminar budaya tersebut.

Previous Post

Banggar Dewan Sampaikan Masukan Terhadap RKUA-PPAS APBK Banda Aceh Tahun Anggaran 2027

Next Post

Lembaga Wali Nanggroe Perkuat Literasi Hukum Kekhususan Aceh di Langsa

Next Post
Lembaga Wali Nanggroe Perkuat Literasi Hukum Kekhususan Aceh di Langsa

Lembaga Wali Nanggroe Perkuat Literasi Hukum Kekhususan Aceh di Langsa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Risiko Banjir Bandang Tinggi di Musim Penghujan Masyarakat Didorong Susur dan Periksa Sungai

Risiko Banjir Bandang Tinggi di Musim Penghujan Masyarakat Didorong Susur dan Periksa Sungai

13/08/2026
DLH Abdya Tambah 7 Unit Bentor Sampah Anyar Guna Peningkatan Kinerja Petugas Kebersihan

DLH Abdya Tambah 7 Unit Bentor Sampah Anyar Guna Peningkatan Kinerja Petugas Kebersihan

13/08/2026
Lembaga Wali Nanggroe Perkuat Literasi Hukum Kekhususan Aceh di Langsa

Lembaga Wali Nanggroe Perkuat Literasi Hukum Kekhususan Aceh di Langsa

13/08/2026
Pakar: Sejarah Indrapurwa Harus Dihidupkan Kembali

Pakar: Sejarah Indrapurwa Harus Dihidupkan Kembali

13/08/2026
Banggar Dewan Sampaikan Masukan Terhadap RKUA-PPAS APBK Banda Aceh Tahun Anggaran 2027

Banggar Dewan Sampaikan Masukan Terhadap RKUA-PPAS APBK Banda Aceh Tahun Anggaran 2027

13/08/2026

Terpopuler

Pakar: Sejarah Indrapurwa Harus Dihidupkan Kembali

Pakar: Sejarah Indrapurwa Harus Dihidupkan Kembali

13/08/2026

Pidie Jaya Masuk Daftar Waspada Cuaca Ekstrem, BPBD Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Dua Kali Diperiksa Polda, Wabup Pidie Jaya Pilih Jalan Damai: Delapan Saksi Sudah Dipanggil

8.000 Peserta Bakal Ramaikan HUT RI Pidie Jaya, Kesiapan Pemkab Diuji

Jamaluddin Idham Didampingi DKP Serahkan Bantuan Hibah Alat Tangkap untuk Nelayan Abdya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com