TAKENGON – Siswa SMA Negeri Takengon Kabupaten Aceh Tengah menampilkan teater dengan tema “Tangisan Tanoh Gayo” di Lapangan Kutegelime pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tingkat Kecamatan Ketol.
Taeter yang ditampikan siswa SMA Negeri 9 Takengon itu, suasana mendadak berubah menjadi panggung penuh haru pada Senin (17/8/2026).
Kepala SMA Negeri 9 Takengon, Syafrudin SPd kepada media ini mengatakan, ribuan masyarakat yang hadir dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan dibuat terpaku oleh penampilan teater siswa SMA Negeri 9 Takengon.
Kata kepala sekolah, selama 15 menit para siswa memainkan sebuah kisah yang bukan sekadar pertunjukan seni. Tetapi menjadi gambaran luka, kehilangan, dan harapan masyarakat Gayo yang pernah menghadapi musibah bencana banjir Hidrometeorologi pada bulan November 2025.
Syafrudin menjelaskan, pertunjukan bertajuk “Tangisan Tanoh Gayo” itu berhasil menguras emosi penonton. Bahkan, Camat Ketol, para tamu undangan, Reje Kampung, guru, pelajar, hingga masyarakat terlihat tidak mampu menahan air mata ketika mengikuti setiap adegan yang diperankan dengan penuh penghayatan.
Ia menyampaikan, suasana lapangan yang sebelumnya meriah seketika berubah menjadi hening. Ribuan pasang mata tertuju ke tengah panggung.
“Tidak sedikit penonton yang menundukkan kepala dan menyeka air mata ketika alur cerita memasuki bagian paling tragis,” kata Syafrudin.
Dikatakannya, Drama “Tangisan Tanoh Gayo” mengangkat kisah sebuah keluarga yang pada awalnya hidup bahagia di tengah kesuburan alam Gayo, dan teater ini menjadi cermin kehidupan.
Lebih lanjut kepala sekolah menceritakan, sebuah keluarga memperoleh hasil panen cabai yang melimpah. Tanah yang subur, hutan yang masih lebat dan sungai yang mengalir jernih menjadi gambaran Tanoh Gayo yang memberikan kehidupan bagi masyarakatnya.
Lalu Syafrudin mengisahkan, kebahagiaan semakin lengkap ketika sang anak berencana mendaftarkan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci di Mekkah dan Madinah. Namun, kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi petaka.
“Keserakahan manuia membuat alam mulai dieksploitasi. Hutan di tebang, gunung dikeruk, sungai ditambang, dan keseimbangan alam semakin rusak,” tutur Syafrudin.
Diceritakannya, ketika musim hujan tiba, tanah yang telah kehilangan daya dukungnya tidak mampu lagi menahan derasnya air. Banjir dan longsor pun terjadi.
“Rumah hancur, lahan pertanian rusak, kehidupan masyarakat porak-poranda,” ungkap Syafrudin.
Lalu katanya, yang paling menyayat hati adalah kedua orang tua yang sebelumnya hendak diberangkatkan umrah juga menjadi korban bencana.
Kemudian, sang anak hanya mampu memandangi tiket umrah yang masih berada di tangannya. Tiket yang sebelumnya menjadi simbol kebahagiaan, kini terasa tidak berarti.
Di hadapannya hanya tersisa puing-puing bangunan, lahan yang hancur, dan kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Syafrudin menyampaikan, adegan tersebut menjadi salah satu titik paling emosional dalam pertunjukan, karena tangisan sang anak seakan menjadi tangisan tanoh Gayo.
Kepala sekolah menyebutkan, teater in ide daru guru Geografi, Muliadi Halil SPd, kemudian dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan oleh iim kreatif SMA Negeri 9 Takengon yang terdiri dari Amelia Oktami S.Pd, Erna Fitriyawati SPd dan
Syahrizal SPd dengan melatih para siswa yang ikut dalam teater.
“Terima kasih kepada para guru pembimbimbing yang telah berhasil melatih siswa kita dengan menampilkan teater ini sehingga banyak para tamu dan masyarakat yang hadir meneteskan air mata menyaksikannya,” pungkas Syafrudin.






