MEUREUDU — DPC Serikat Mahasiswa Islam Indonesia (SEMMI) Pidie Jaya menyampaikan apresiasi kepada Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) Polda Aceh, Kombes Pol. Iskandar ZA, S.I.K., M.H., yang memilih memaafkan Muhammad Hidayatullah dalam insiden pemukulan terhadap dirinya saat rangkaian peringatan Hari Damai Aceh di kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
SEMMI menilai sikap Iskandar bukan sekadar penyelesaian personal, tetapi mencerminkan kedewasaan dalam merawat perdamaian Aceh. Di tengah momentum Hari Damai Aceh, keputusan untuk menahan diri dan mengedepankan maaf dinilai jauh lebih bermakna daripada memperpanjang konflik.
Iskandar menyatakan, semangat perdamaian harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menahan diri, dan mengutamakan persatuan.
“Sebagai putra Aceh, kami dibesarkan dengan nilai tenggang rasa dan kearifan menahan diri. Memaafkan adalah jalan terbaik untuk menjaga agar persatuan tetap terjaga,” ujar Iskandar.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar menjadikan agama, etika, dan penghormatan terhadap sesama sebagai landasan dalam menyampaikan aspirasi maupun menjalankan aktivitas sosial.
Menurutnya, perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi tindakan yang merusak persatuan. Setiap persoalan harus disikapi dengan kepala dingin dan mengedepankan penyelesaian yang bijaksana.
Setelah dimaafkan, Muhammad Hidayatullah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Kapolda Aceh, Irwasda Polda Aceh, jajaran Polda Aceh, serta masyarakat Aceh. Ia mengaku menyesali perbuatannya dan berjanji tidak mengulangi tindakan serupa.
“Saya Muhammad Hidayatullah dengan ini memohon maaf kepada Bapak Kapolda Aceh, Bapak Irwasda Polda Aceh Kombes Pol. Iskandar ZA, S.I.K., M.H., serta seluruh masyarakat Aceh atas perbuatan saya dalam kejadian tersebut. Saya menyesali tindakan saya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari,” katanya.
Hidayatullah menegaskan permintaan maaf tersebut disampaikan atas kesadarannya sendiri tanpa tekanan maupun paksaan dari pihak mana pun.
Bagi SEMMI Pidie Jaya, penyelesaian tersebut menjadi pesan penting bahwa Hari Damai Aceh tidak boleh berhenti pada seremoni dan simbol semata. Nilai perdamaian justru diuji ketika terjadi persoalan—apakah pihak-pihak yang terlibat memilih memperbesar konflik atau meredakannya.
Sikap Iskandar yang memilih memaafkan dinilai menjadi contoh bahwa menahan diri bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, dalam konteks Aceh yang memiliki sejarah panjang konflik, kemampuan menghentikan persoalan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar merupakan bagian dari upaya merawat perdamaian.
SEMMI Pidie Jaya berharap sikap tersebut menjadi pelajaran bagi generasi muda Aceh agar setiap perbedaan dan persoalan dapat diselesaikan melalui dialog, etika, dan penghormatan terhadap sesama.[Mul]







