BLANGPIDIE — Pendangkalan kembali menutup akses keluar-masuk perahu di Muara Lhok Pawoh, Aceh Barat Daya.
Nelayan bersama Panglima Laot bergotong royong mengeruk sedimen pada Minggu (12/08/2026), setelah perahu besar maupun kecil kesulitan melintas.
Pengerukan awal dilakukan dengan menyedot sedimen menggunakan mesin dari Dinas Pertanian Aceh Barat Daya. Namun upaya itu tidak berjalan sesuai rencana.
Material yang menumpuk di muara ternyata bukan hanya pasir. Di dasar muara juga terdapat pecahan batu karang yang menghambat kerja mesin sedot.
Panglima Laot Aceh Barat Daya, T. Indra Kusuma atau Achek Muntir, mengatakan kondisi tersebut membuat proses penyedotan tidak dapat dilanjutkan.
“Sedimen di muara ini ternyata bukan hanya pasir, tetapi juga banyak pecahan karang. Jadi, proses penyedotan tidak bisa dilakukan lebih lanjut,” kata Achek Muntir kepada wartawan.
Menurutnya, pendangkalan telah mengganggu aktivitas nelayan. Perahu yang hendak keluar maupun kembali ke muara kini menghadapi kesulitan melintas.
Karena itu, Panglima Laot telah meminta bantuan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya untuk menurunkan alat berat jenis ekskavator guna mengeruk sedimen.
“Kita sudah menghubungi pelaksana tugas Kepala BPBK dan meminta alat berat beko untuk mengerok sedimen tersebut. Respons beliau positif,” ujar Achek.
Pelaksana Tugas Kepala BPBK Aceh Barat Daya, Mukhsin, mengatakan pihaknya akan lebih dulu mengirim operator alat berat ke lokasi untuk melakukan survey.
“Jika kondisi muara memungkinkan untuk dikerjakan dengan alat berat milik BPBK, pengerukan akan dibantu. Namun, bila penanganannya tidak memungkinkan, persoalan itu akan dikoordinasikan dengan Dinas Pangan, Kelautan, dan Perikanan,” kata Mukhsin.
“Kami akan turunkan operator untuk survei dulu. Kalau memungkinkan, akan kami bantu pengerukannya. Kalau tidak memungkinkan, sebaiknya dikoordinasikan dengan dinas terkait agar penanganannya sesuai dengan kewenangan,” ujarnya.
Warga nelayan berharap pengerukan segera dilakukan agar akses muara kembali normal. Muara Lhok Pawoh merupakan salah satu jalur vital keluar-masuk nelayan di pesisir Abdya.






