Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kampus

EDSA Kembali Gelar ISSE Vol. 3, Dorong Generasi Muda Menjembatani Perbedaan Budaya Menuju Pemahaman Global

redaksi by redaksi
04/09/2026
in Kampus
0
EDSA Kembali Gelar ISSE Vol. 3, Dorong Generasi Muda Menjembatani Perbedaan Budaya Menuju Pemahaman Global

Banda Aceh —English Department Student Association (EDSA) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry menyelenggarakan International Seminar English Education (ISSE) Vol. 3 pada Kamis, 3 September 2026, di Aula Theater UIN Ar-Raniry. Mengangkat tema “Bridging Cultures, Embracing Change: From Cultural Differences to Global Understanding”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai keberagaman budaya, komunikasi lintas budaya, dan tantangan kehidupan di tengah masyarakat global.

Kegiatan yang dihadiri oleh mahasiswa dan civitas akademika UIN Ar-Raniry tersebut menghadirkan Mr. Ken Atkinson, Mr. George F. Ball, dan Ms. Cali Atkinson sebagai pemateri, dengan Jana Safira Jarjani sebagai moderator.

Ketua Panitia ISSE Vol. 3, Akrim Mufaddhil, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ISSE tidak hanya menjadi wadah untuk menerima pengetahuan dari pemateri, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan, pengalaman, dan perspektif.

“Therefore, through ISSE (International Seminar English Education) Volume Three, we hope to create a space where knowledge doesn’t simply move from speaker to participant, but where ideas, experiences, and perspectives can meet and interact,” ujarnya.

Menurutnya, pertukaran perspektif tersebut menjadi bagian penting dari pelaksanaan seminar, terutama dalam membangun pemahaman terhadap budaya yang berbeda.

Selanjutnya, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry, Syarifah Dahliana, menyampaikan harapannya agar seminar dapat berlangsung sebagai sebuah dialog, bukan sekadar komunikasi satu arah antara pemateri dan peserta. Ia mendorong peserta untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berpartisipasi dalam proses pertukaran gagasan selama kegiatan berlangsung.

Ia juga menekankan pentingnya memandang perbedaan budaya secara positif. Perbedaan, menurutnya, bukan sesuatu yang seharusnya menjadi alasan untuk memisahkan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan dan pemahaman antarmanusia.

“And I hope that this seminar will inspire us to look at cultural differences, not as values, but as bridges,” ungkap Ms. Syarifah.

Sementara itu, Wakil Dekan III UIN Ar-Raniry, Pak Yusran, dalam sambutannya menyoroti hubungan antara kemampuan berbahasa dan kecerdasan. Ia menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kecerdasan seseorang.

Menurut Yusran, pembelajaran bahasa seharusnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlebih dahulu menggunakan bahasa berdasarkan pengalaman dan situasi nyata. Pemahaman terhadap grammar kemudian dapat berkembang seiring dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat pembelajaran bahasa tidak hanya berfokus pada aturan, tetapi juga pada kemampuan berkomunikasi.

Setelah itu, Gordon Simaremare dari Cinta Baca turut menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan ISSE Vol. 3. Sebagai sponsor kegiatan, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, organisasi mahasiswa, dan berbagai pihak dalam menciptakan generasi muda yang berdaya dan memiliki kemampuan untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Cinta Baca juga menyampaikan keterbukaannya terhadap berbagai bentuk kolaborasi dengan institusi maupun organisasi mahasiswa, termasuk dalam bidang penelitian, kegiatan pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kerja sama yang memberikan manfaat lebih luas bagi mahasiswa dan masyarakat.

Memasuki sesi utama, para pemateri kemudian membahas berbagai pengalaman dan perspektif mengenai komunikasi lintas budaya serta perubahan yang terjadi dalam dunia global.

Salah satu pemateri menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membuka peluang yang semakin luas bagi generasi muda untuk berkolaborasi dan bekerja dengan orang-orang dari berbagai negara. Batas geografis yang semakin tidak menjadi hambatan membuat kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi semakin penting di dunia kerja.

“Cultural understanding and respect and excellent communication are key areas employers are looking for,” jelasnya.

Selain kemampuan bahasa Inggris, ia menekankan bahwa dunia kerja global juga membutuhkan kemampuan untuk memahami perspektif budaya lain, menunjukkan empati, menghargai perbedaan, dan berkomunikasi secara efektif. Ia juga membagikan pengalamannya ketika bekerja dengan individu dari berbagai latar belakang budaya, termasuk Jerman dan Jepang.

Menurutnya, cara seseorang memahami sebuah ucapan dapat dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Karena itu, seseorang perlu melihat komunikasi melalui cultural lens agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari perkataan orang lain.

Pemateri lainnya turut membagikan pengalaman profesionalnya dalam bekerja di lingkungan internasional. Ia menceritakan bagaimana perjalanan kariernya membuatnya berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, termasuk ketika bekerja dengan perusahaan dan rekan kerja dari Jepang.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa setiap budaya memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Ia juga mengakui bahwa proses memahami budaya lain tidak selalu berjalan tanpa kesalahan. Namun, pengalaman dan kesalahan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar untuk dapat bekerja secara lebih efektif dalam lingkungan multikultural.

Rangkaian diskusi kemudian ditutup dengan refleksi dari moderator ‘Jana Safira Jarjani’ mengenai pesan utama yang dapat dibawa pulang oleh para peserta. Ia merangkum bahwa pembahasan seminar tidak hanya berkaitan dengan perbedaan budaya, tetapi juga bahasa, komunikasi, globalisasi, media sosial, identitas lokal, serta peran generasi muda dalam menghubungkan berbagai budaya.

“When we choose to give respect and actually listen instead of assuming, difference becomes a bridge, not a barrier,” tutur Jana.

Pesan tersebut menjadi penegasan terhadap tema ISSE Vol. 3 bahwa perbedaan budaya tidak seharusnya dipandang sebagai penghalang. Dengan saling menghormati, mendengarkan, dan memahami perspektif satu sama lain, perbedaan dapat menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih luas dalam kehidupan global.

Melalui penyelenggaraan International Seminar English Education (ISSE) Vol. 3, EDSA berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai budaya dan komunikasi lintas budaya, tetapi juga mampu mengembangkan sikap terbuka, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan untuk berinteraksi dan berkolaborasi dalam lingkungan global.

Previous Post

Netanyahu ‘Pede’ Rezim Mojtaba Khamenei Akan Segera Tumbang, Kenapa?

Next Post

Bupati Abdya Ultimatum Pejabat: Rapor Merah Siap Dimutasi

Next Post
Bupati Abdya Ultimatum Pejabat: Rapor Merah Siap Dimutasi

Bupati Abdya Ultimatum Pejabat: Rapor Merah Siap Dimutasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kemenag Salurkan Rp11,628 Miliar untuk Pemulihan 306 Masjid dan Musala Terdampak Bencana di Aceh

Kemenag Salurkan Rp11,628 Miliar untuk Pemulihan 306 Masjid dan Musala Terdampak Bencana di Aceh

04/09/2026
9 Mobil Operasional KDMP di Abdya Diserahterimakan, Dandim: Kelola Dengan Baik

9 Mobil Operasional KDMP di Abdya Diserahterimakan, Dandim: Kelola Dengan Baik

04/09/2026
Bupati Abdya Ultimatum Pejabat: Rapor Merah Siap Dimutasi

Bupati Abdya Ultimatum Pejabat: Rapor Merah Siap Dimutasi

04/09/2026
EDSA Kembali Gelar ISSE Vol. 3, Dorong Generasi Muda Menjembatani Perbedaan Budaya Menuju Pemahaman Global

EDSA Kembali Gelar ISSE Vol. 3, Dorong Generasi Muda Menjembatani Perbedaan Budaya Menuju Pemahaman Global

04/09/2026
Netanyahu ‘Pede’ Rezim Mojtaba Khamenei Akan Segera Tumbang, Kenapa?

Netanyahu ‘Pede’ Rezim Mojtaba Khamenei Akan Segera Tumbang, Kenapa?

04/09/2026

Terpopuler

Di Abdya, Gerakan “Satu Pejabat Satu Anak Yatim” Mulai Berjalan

Di Abdya, Gerakan “Satu Pejabat Satu Anak Yatim” Mulai Berjalan

02/09/2026

EDSA Kembali Gelar ISSE Vol. 3, Dorong Generasi Muda Menjembatani Perbedaan Budaya Menuju Pemahaman Global

3.069 Huntap Pidie Jaya, Baru 110 Ditender: Korban Bencana Kembali Menunggu

Data Google Trend: Blangpidie Catat Minat Pencarian “Slot” Tertinggi di Aceh

Ohku, Dana Bencana Rp37,9 Miliar Mengendap: 96% Belum Terserap, Bupati Pijay Ancam Sanksi OPD

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com