Banda Aceh – Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh menyatakan realisasi program normalisasi saluran tambak terdampak bencana hidrometeorologi di provinsi ujung barat Indonesia tersebut mencapai 69,5 kilometer.
Kepala DKP Provinsi Aceh Safrizal di Banda Aceh, Senin, mengatakan luas saluran tambak yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November mencapai 525 kilometer.
“DKP Aceh menargetkan normalisasi saluran tambak pada tahun ini sepanjang 78 kilometer. Hingga data saat disampaikan, realisasi fisiknya sudah mencapai 69,5 kilometer,” katanya.
Ia mengatakan Pemerintah Aceh melalui DKP memfokuskan pemulihan sektor perikanan, khususnya tambak masyarakat terdampak bencana. Pemulihan tersebut mendapat dukungan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) RI.
Berdasarkan data DKP, kata dia, luas tambak terdampak bencana terdiri rusak ringan mencapai 11.792 hektare, rusak sedang seluas 10.313 hektare, dan rusak berat mencapai 30.487 hektare.
“Kabupaten Aceh Utara merupakan wilayah terluas yang terdampak bencana, mencapai 10.660 hektare. Berdasarkan data DKP Aceh, luas tambak terdampak yang menjadi basis penanganan mencapai 30.847 hektare,” kata Safrizal.
Untuk program rehabilitasi tambak terdampak bencana, kata dia, mencapai 807,22 hektare pada 2026. Dari 807,22 hektare tersebut, seluas 743,22 merupakan kegiatan KKP RI dan 64 hektare lainnya merupakan program rehabilitasi DKP Aceh.
“Realisasi fisik program rehabilitasi tambak yang dikelola DKP Aceh sudah mencapai 25 hektare. KKP RI juga menyiapkan delapan alat berat berupa ekskavator untuk mempercepat program rehabilitasi tambak terdampak bencana di Provinsi Aceh,” kata Safrizal.









