BANDA ACEH — Aktivis perempuan Aceh Penerima Yap Thiam Hien Award 2001 dan UNDP N-Peace Award 2012, Suraiya Kamaruzzaman, menilai perempuan memiliki peran penting dalam upaya pencegahan ekstremisme, terutama melalui keluarga, komunitas dan lingkungan sosial.
Hal itu disampaikan Suraiya saat menjadi narasumber Ngopi Damai bersama Kesbangpol Aceh di Aula Badan Kesbangpol, Banda Aceh, Selasa (22/9/2026), yang membahas keterlibatan perempuan dan organisasi masyarakat sipil dalam upaya pencegahan ekstremisme serta penguatan ketahanan masyarakat.
Suraiya mengatakan, perempuan tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek perlindungan atau korban. Perempuan juga memiliki pengetahuan, pengalaman dan jaringan sosial yang dapat berkontribusi dalam mendeteksi berbagai persoalan sejak dini.
Menurutnya, persoalan ekstremisme tidak bisa hanya dilihat dari perspektif keamanan. Ada sejumlah faktor sosial yang dapat membuat seseorang rentan, antara lain ketidakadilan, diskriminasi, trauma, konflik keluarga, tekanan ekonomi dan persoalan di lingkungan sosial.
“Perempuan tidak bisa hanya ada sebagai dampak atau korban. Dia juga punya kapasitas pengetahuan dan sosial,” ujar Suraiya.
Ia menjelaskan, kedekatan perempuan dengan keluarga dan komunitas membuat mereka memiliki informasi mengenai berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Mulai dari perubahan sikap anak, hubungan dalam keluarga, tekanan ekonomi hingga perubahan pola komunikasi.
Karena itu, pengalaman perempuan perlu dilibatkan dalam seluruh tahapan program pencegahan, bukan sekadar menghadirkan mereka sebagai peserta kegiatan.
“Bukan hanya jumlah kehadiran perempuan, tetapi suaranya didengar dan diberikan kesempatan dalam proses pengambilan keputusan,” katanya.
Suraiya juga menyoroti tantangan di ruang digital. Menurutnya, media sosial telah menjadi salah satu ruang penting dalam pembentukan opini dan penyebaran berbagai narasi.
Karena itu, masyarakat perlu memperkuat kemampuan untuk memilah informasi sekaligus mengisi ruang digital dengan konten yang positif.
“Ganti ruang-ruang itu, isi dengan hal-hal yang positif,” ujarnya.
Selain perempuan, Suraiya menilai organisasi masyarakat sipil atau OMS memiliki posisi penting dalam pencegahan ekstremisme. Kedekatan OMS dengan masyarakat memungkinkan mereka memahami persoalan sosial, sejarah konflik dan kondisi komunitas secara lebih mendalam.
Ia mengatakan, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika sebuah persoalan sudah muncul. Pencegahan harus dimulai dari penguatan keluarga, komunitas dan ruang sosial yang aman.
“Pencegahan harus dilakukan bukan sekadar menangani, tetapi merawat,” kata Suraiya.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, keluarga, perempuan, tokoh agama, generasi muda, OMS dan komunitas menjadi penting untuk memperkuat ketahanan sosial.
Suraiya menegaskan, masyarakat harus diberikan ruang untuk terlibat dalam menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi sendiri.
“Ini tidak soal menangkap, tetapi menemukan ruang untuk perubahan,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, pelibatan perempuan diharapkan tidak berhenti pada aspek kehadiran, tetapi benar-benar memberikan ruang bagi pengalaman dan suara perempuan dalam merancang, menjalankan serta mengevaluasi program pencegahan ekstremisme.
Hadir pada acara tersebut unsur lintas organisasi antara lain Ketua MPU Faisal Ali, kepala Sekretariat BRA Mahdi Efendi, Ketua MAA Prof. Yasir, Ketua FKUB Hamid Zein dan lain-lain.
Selain Suraiya, Tampil sebagai pemateri Polda Aceh AKBP Zaunuddin dan Kaban Kesbangpol Aceh Dr. Munawar. []









