Usai menepi, kami satu persatu melangkah keluar. Cafe yang kami tuju terbilang rimbun. Ada sejumlah mobil bermerek di parkiran depan. Mayoritas adalah penyintas dengan tujuan atau dari wilayah tengah Aceh.
Mustafa menunjuk ke meja yang berada di sudut kanan cafe. Ia sepertinya akrab betul dengan lokasi tersebut. Tempatnya, agak jauh dari keramaian dan suasananya mendukung untuk berbicara yang ‘berat-berat’ tanpa khawatir menarik perhatian.
Mustafa kemudian memberi isyarat ke pelayan dari arah parkir. Pria muda itu pun mengangguk dan bergegas ke belakang cafe.
Berdasarkan ilmu gerilya yang kuperoleh selama konflik, kode antara Mustafa dan sang pelayan tadi, pasti didasari kepentingan yang sudah terbangun lama. Kemungkinan meja dan lokasi pertemuan malam ini pun sudah diatur sedemikian rupa.
Kalau kondisi seperti ini terjadi di bawah tahun 2005, aku pasti sudah mengangkat pistol ke arah Mustafa. Karena keadaan ‘By Setting’ lebih banyak berakhir dengan pengepungan dan perang jarak dekat.
Namun untuk kali ini, aku masih bisa berpura-pura seolah-olah tak tahu apa-apa.
Aku cuma diam dan memandang Mustafa dengan senyum tipis. Namun wajahnya pucat saat melihatku.
“Pakwa, ini tak seperti yang kau pikirkan,” ujar dia kemudian.
Rusli merangkul pundakku dari arah berangkat. Sedangkan Iwan menunjuk ke arah kamar kecil yang berada di belakang cafe.
Di meja yang tertuju ada enak kursi dan satu meja dalam kondisi baru dirapikan. Kondisi ini bukan kebetulan semata.
“Sepertinya, ada dua tambahan tamu ya?” tanyaku kemudian. Wajah Mustafa dan Rusli kembali pucat. Mereka sadar aku mengetahui trik yang sedang mereka siapkan.
Aku menarik salah satu kursi di sudut tadi dan melempar pantat di atasnya. Kursi sengaja kuarahkan ke hadapan Mustafa dan Rusli.
“Apakah di antara kalian berdua, ada yang ingin menjelaskan? Minimal pengantar untuk pertemuan malam ini,” kataku kemudian.
“Kalau penjelasan kalian masuk akal. Aku bisa pura pura tak tahu dan akan menemani kalian hingga selesai. Tapi kalau sebaliknya, aku akan pulang meski berjalan kaki,” kataku lagi.
Wajah Mustafa pucat basi. Meski sekarang era damai, aku pernah menjadi komandannya. Ia tahu betul watakku jika sedang marah atau murka.
“Aku minta semua yang di belakang keluar. Tak ada yang perlu disembunyikan,” ujarku lagi.
Kali ini Rusli tergagap. Semula aku mengira kalau Mustafa-lah aktor utama dalam perjalanan kali ini. Namun sepertinya Rusli juga memiliki peran penting.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 2
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)

![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





