Rambo mengajak Rusli duduk terpisah di atas balai. Mereka seperti sedang bicara dari hati ke hati. Sekitar 15 menit, Rusli tertunduk lesu dan ia seperti tak bisa berkata-kata mendengar ‘omelan’ Rambo.
Dari kejauhan, aku kemudian melihat Rusli mengambil sesuatu dibalik baju-nya. Aku sedikit terkejut.
“Untungnya, kami cepat sadar. Ternyata Rusli masih menyimpan FN. Kalau sempat berpas-pasan sama Tentara Republik atau polisi, maka ia bisa celaka,” gumamku dalam hati.
“Salah satu butir perjanjian dalam MoU di Helsinki. GAM harus memotong senjata. Tentara Nanggroe yang masih memiliki senjata akan dianggap kriminal dan diproses secara hukum.”
Dari kejauhan, Rambo memberi kode ‘aman’ ke arahku dan aku mengangguk tanda mengerti.
Setelah damai. Aku memang memberi tugas khusus kepada Rambo untuk lebih dekat dengan eks anggota pasukan kami. Mulai dari proses transisi bersenjata hingga kembali ke sipil. Termasuk persoalan yang dihadapi mereka di tengah-tengah masyarakat dan kehidupan keluarga.
“Aku tak mau ada tentara nanggroe di bawahku yang hidupnya terlunta-lunta,” gumamku.
Sosok Rambo-lah yang bertugas mengawasinya selama setahun terakhir. Sandi kata Rambo bagi pemuda kekar asal Krueng Geukuh ini memiliki sejarah di era konflik.
Aku memberi nama sandi itu kepada dirinya usai seorang tantara nanggroe ‘Rambo’ lainnya meninggal dunia dalam salah satu kontak tembak. Almarhum meninggal bersama Udin, dalam salah satu pertempuran.
Bagi kami, tantara nanggroe, pasukan bisa gugur kapan saja. Orang bisa mati tapi nama sandi harus tetap ‘hidup.’ Hal inilah yang terjadi pada kasus Rambo. Nama sandi itu tetap hidup dan diwarisi ke anggota lainnya.
Sama halnya seperti sebutan Jamaika. Sandi nama itu telah diwarisi oleh tiga orang semasa konflik. Sandi Jamaika awalnya berasal dari Teungku Ismail Saputra, Jubir GAM sekitar tahun 1999, dan kemudian ia gugur. Sandi Jamaika kemudian diwarisi oleh Hasanudin (Jamaika kedua) yang juga Jubir GAM Wilayah Samudra Pase. Usai Hasanuddin meninggal, gelar Jamaika diwarisi oleh Syarif atau computer.
Demikian juga sandi Teungku Agam yang melekat pada Irwandi dan sandi ‘Bang Yan’ Dawood.
“Sementara aman, Pakwa. Rusli mengaku Senjata FN miliknya rakitan. Ia rakit sendiri,” kata Rambo di telingaku saat mendekat.
Dari arah belakang, Bang Lah, sang pemilik Warkop, datang dengan menyapa kami dengan membawa sejumlah gelar berisi kopi dan teh.
“Pakwa, kau kopi ginseng. Yang lain, ada kopi hitam dan tea susu. Pilih sendiri,” ujarnya sambil berlalu.
Rusli kembali bergabung semeja saat melihat kopi datang. Saat kami berempat sedang ngopi, Pudin serta 5 rekan lainnya kembali bergabung. Ini hanya seperempat dari jumlah pasukan kami.
[Bersambung]
Baca juga
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





