MEULABOH – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat, mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat dampak kabut asap kiriman mencapai puluhan orang setiap bulan.
“Dalam dua bulan terakhir, rata-rata pasien yang mendatangi rumah sakit didominasi oleh keluhan terkait ISPA, jumlahnya di atas 50 orang,” kata Direktur RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, dr Akbar Siregar kepada wartawan, Selasa.
Menurutnya, memasuki musim penghujan dan fenomena dampak kabut asap, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh mencatat adanya peningkatan signifikan pada kunjungan pasien dengan keluhan gangguan saluran pernapasan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Rata-rata lebih dari 50 pasien ISPA yang kita rawat sejak dua bulan belakangan ini,” katanya menambahkan.
Dr Akbar mengatakan dampak dari lonjakan kasus ISPA tersebut, menyebabkan seluruh ruang rawat dan tempat tidur pasien menjadi penuh.
Ia mengakui menjelang akhir tahun ini sudah memasuki musim penghujan dan banyak musibah asap. Sehingga terjadi peningkatan penyakit gangguan saluran pernapasan di masyarakat.
Meski terjadi lonjakan, dr Akbar memastikan bahwa penanganan medis terhadap pasien ISPA di RSUD Cut Nyak Dhien berjalan dengan optimal dan relatif singkat.
Berdasarkan data penanganan, kategori kasus ISPA yang ditemukan umumnya bersifat ringan.
“Kalau ISPA yang kita jumpai ini, mungkin karena kita tidak terdampak langsung dengan asap, kategorinya ringan. Tiga sampai lima hari itu perawatan biasanya sudah perbaikan dan sudah bisa pulang,” jelasnya.
Kendati demikian, jumlah pasien yang datang dalam sebulan tercatat cukup banyak, berkisar puluhan orang.
Manfaatkan Layanan Puskesmas
Menghadapi tingginya angka kunjungan, Manajemen RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat mengimbau masyarakat agar tidak terlalu tergesa-gesa mendatangi rumah sakit untuk penanganan keluhan yang tergolong ringan.
Mengingat kondisi rumah sakit yang kerap penuh, langkah ini dinilai penting untuk mengurangi antrean dan kepadatan pasien di instalasi gawat darurat (IGD).
“Harapan kita, masyarakat maunya bisa menjaga kesehatan. Tidak perlu terlalu tergesa-gesa ke rumah sakit untuk hal-hal yang mungkin ringan, karena rumah sakit sudah penuh. Jadi untuk mengurangi tumpukan-tumpukan pasien, harapan kita juga Puskesmas bisa dimaksimalkan nantinya untuk pelayanan-pelayanan ISPA ini,” tutur dr Akbar.









