SUASANA dalam mobil sedikit canggung usai Bulek Rani berkata. Sunyi dan sepi. Rindu hanya terdiam penuh makna. Sedangkan Gusti semakin penasaran dengan masa lalu yang mengikat mereka bertiga. Sayangnya, tak ada satupun, serpihan masa lalu, yang mampu diingatnya.
“Nak-ku. Apa Ayah-mu baik-baik saja?” tanya Bulek Rani ke Rindu tiba-tiba memecah kesunyian. Rindu terlihat mengangguk kecil.
“Apa Ayahmu yang memberi nomor telepon Mama?” tanyanya lagi. Seperti tadi, Rindu kembali mengangguk. Setiap kata dari Bulek Rani terdengar penuh emosional. Seolah setiap satu kalimat perlu penjabaran lebih tebal dari satu kamus terjemahan Bahasa Inggris.
“Apa katanya?” tanya Bulek lagi dengan nada keibuan.
“Awalnya, Ayah mengirim beberapa nomor handphone milik rakannya di Yogyakarta. Katanya, beritahu mereka bahwa Rindu ada di Yogyakarta. Mereka mata dan kloning ayah di Yogya. Mereka akan datang meski angin badai dan gempa bumi,” jelas Rindu dengan nada penuh semangat.
“Apa kau sudah menghubungi mereka? Rakan Ayahmu di Yogya,” selidik Bulek Rani.
“Belum,” jawab Rindu singkat.
Bulek Rani tiba tiba menarik nafas panjang. Seolah ada rasa lega. “Kenapa?” tanya Bulek lagi.
“Karena belum ada badai dan gempa bumi. Yang ada cuma angin sepoi-sepoi,” ujar Rindu lagi sambil melirik Gusti di bagian belakang. Bulek tertawa keras mendengar penuturan Rindu. Gusti di belakang hanya melongo. Ia tak mengerti dengan maksud dari perkataan Rindu.
“Kamu memang seperti Ayahmu,” ujarnya kembali ceria. Emosional berubah dengan cepat.
“Kata Ayah, kalau Rindu kangen rumah. Rindu bisa menghubungi seseorang. Nomor yang dikirim adalah milik Mama Rani. Rindu tak menyangka, Mama Rani datang begitu cepat. Bahkan menjemput hingga ke masjid,” kata Rindu lagi.
Bulek terdiam beberapa saat usai mendengar penjelasan Rindu. Ia seperti memikirkan sesuatu. Tangan kiri-nya terlihat menyekat sesuatu di wajah.
“Jadi kamu benar-benar tak ingat dengan Mama,” ujar Rani kemudian. Rindu menggeleng kepala.
Laju mobil melamban saat memasuki komplek belakang Malioboro. Deretan rumah mewah khas Jawa berdiri dengan kokoh. Nuansa yang sangat familiar dengan Gusti selama bertahun-tahun.
Memasuki deretan kedua perumahan. Di rumah kedua dari kiri, seorang lelaki paruh baya terlihat berdiri di pintu gerbang. Gusti mengenal jelas sosok itu. Ia adalah Paklek Wahyu, pria yang disapanya Papa bertahun-tahun lalu.
Paklek Wahyu terlihat jauh lebih kurus dari pertemuan terakhir. Wajahnya terlihat menitikkan air mata.
Bulek memarkir mobil di garasi. Gusti turun dan mencoba memeluk Pakcek. Tapi sosok itu justru berlari ke bagian kiri depan mobil.
“Maaf-kan papa nak. Kecemburuan Papa membuatmu pergi,” ujarnya sambil memeluk Rindu.
“Papa minta maaf,” ujar Wahyu lagi.
Rindu awalnya terkejut menerima pelukan dari pria paruh baya di depannya. Sosok itu masih asing baginya. Tapi tubuhnya tak mampu menolak.
Melihat pemandangan tersebut, Gusti kembali melongo. Ia sempat mengira jika air mata Paklek untuk dirinya. Sedangkan Mata Rani berkaca-kaca. Ia senang suaminya menerima Rindu tanpa melihat apa yang terjadi di masa lalu.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 26
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 27
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 28
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 29
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)




![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)



