GUSTI hampir roboh. Namun ia berulangkali menguatkan diri. Ia dibantu Henky dengan menopang dari belakang.
“Bulek jangan bercanda. Masak aku tidak kenal dengan sepupu sendiri!” ujar Gusti dengan mimik serius.
“Bulek bisa berbohong sama orang lain, tapi sama keluarga sendiri, jangan. Nanti kalau saya serius, dan kemudian tak sengaja menceritakan pada Papa di rumah! Kan, bisa berabe,” ujar Gusti. Ia hanya ingin Bulek Rani bicara serius. Karena hanya dengan begitu, ia bisa mengetahui status Rindu dan hubungannya dengan Bulek.
Gusti paling tahu jika selama ini, Bulek cuma hidup berdua dengan Paklek Wahyu. Sejak menikah, Bulek memang sempat mengandung dan melahirkan anak laki-laki. Tapi bayi itu meninggal setahun kemudian. Bayi itu meninggal karena kelainan jantung bawaan. Sang bayi meninggal bersamaan dengan kelahirannya.
Inilah mengapa kemudian pasangan itu sering berkunjung ke rumahnya. Terutama saat pasangan itu merindukan anaknya yang sudah meninggal.
Saat Gusti berusia 1 tahun, ia sempat diambil oleh Bulek Rani dan Paklek Wahyu sebagai ‘anak pancingan.’ Pada saat itu, ibu Gusti baru melahirkan anak kedua. Konon katanya, Gusti yang masih kecil sering cemburu dengan bayi yang baru lahir. Ibunya pun keteter mengurus dua bayi.
Sejak saat itu, Gusti pindah ke rumah Bulek di komplek belakang Malioboro. Posisi Gusti sebagai ‘anak pancingan’ ternyata cukup berhasil. Tak sampai setahun, Bulek Rani kembali hamil. Setahun kemudian, ia kembali melahirkan bayi perempuan.
Namun sejak lahir, bayi itu kembali divonis menderita cacat jantung bawaan. Sang bayi hanya berumur 4 bulan. Sejak itu, Paklek memutuskan untuk tak lagi memiliki anak. Ia khawatir jika Bulek kembali hamil, maka bayi yang dikandung akan kembali divonis cacat bawaan. Paklek menyalahkan diri sendiri karena mewarisi gen tak lengkap.
Jika dipikir-pikir, jika sepupu perempuannya itu berumur panjang, ia pasti seumuran dengan Rindu. Mungkin hal itu pula yang membuat Bulek Rani memeluk erat Rindu. Ia mungkin mengingat bayi-nya yang sudah tiada.
Gusti sendiri, baru pindah dari rumah Bulek Rani saat usia masuk SMA. Papa-nya memohon pada Bulek Rani agar membiarkannya kembali ke rumah. Kedua adiknya, perempuan, sehingga ia menjadi satu satunya harapan mereka di hari tua.
Sementara Bulek Rani dan Paklek Wahyu tinggal berdua. Namun tak ada keributan atau pertengkaran yang pernah ia dengar.
Memikirkan hal ini, Gusti menarik nafas panjang. Ia yakin jika Bulek kecewa berat saat melepaskannya dulu. Apalagi, selama hampir dua tahun di UGM, ia jarang berkunjung. Atau ia berkunjung saat pasangan itu tidak ada di rumah.
Bulek Rani memandang Gusti dengan mimik serius. Kemudian tawa-nya pecah. “Bulek tahu. Kau khawatir, jika ia sepupumu. Kau tak bisa lagi mengejarnya kan?” ujar Rani sambil menepuk bahu Gusti. Dari arah belakang, Henky mengangguk. Sementara wajah Rindu merona.
“Untuk apa malu! Bukankah kalian dulu sering main air dan mandi bersama,” ujar Rani dengan santai.
Wajah dua pemuda di depannya itu langsung shock. “Mandi bersama,” ujar mereka serentak.
[Bersambung]
Baca juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)

![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





