Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Ayah Menjadi Luka, Menyembuhkan Pola Pikir Melepaskan Trauma

Atjeh Watch by Atjeh Watch
07/11/2026
in Opini
0
Ketika Ayah Menjadi Luka, Menyembuhkan Pola Pikir Melepaskan Trauma

Opini

Oleh: Nabilla Purnamasari semester 5 Studi psikologi Uin Ar-raniry

Bagi anak perempuan, ayah sering kali dianggap sebagai cinta pertama sekaligus pelindung. Dari ayah, anak belajar tentang kasih sayang, penghargaan, dan rasa aman.

Namun, tidak semua hubungan berjalan seperti yang diharapkan. Ada kalanya sosok yang dahulu menjadi tempat bersandar justru menjadi orang yang meruntuhkan kepercayaan. Pengalaman tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang dunia, hubungan, dan arti kepercayaan.

Fenomena ini dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak anak tumbuh dengan ingatan tentang ayah yang memeluk ketika mereka menangis, menggendong ketika lelah, atau berusaha memenuhi keinginan mereka. Namun, keadaan bisa berubah ketika anak menyaksikan pertengkaran orang tua, mengetahui pengkhianatan, atau melihat ibunya menangis diam-diam. Sosok yang dahulu terasa hangat perlahan menjadi sumber kekecewaan.

Anak mungkin merasa kehilangan sosok yang selama ini dipercayainya. Di satu sisi, ia masih menyayangi ayahnya, tetapi di sisi lain, ia juga terluka oleh perbuatannya. Dari situ muncul pertanyaan: bagaimana seseorang bisa tetap menyayangi orang yang sama, sementara orang tersebut juga menjadi sumber rasa sakitnya?

Salah satu hal paling menyakitkan dari pengalaman ini adalah ketika seseorang harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya tidak selalu mampu memberikan rasa aman. Luka tersebut bukan hanya tentang perbuatan yang pernah terjadi, tetapi juga tentang hilangnya kepercayaan yang sebelumnya dimiliki.

Penelitian Rahmandani et al. (2022) terhadap 398 mahasiswa di Indonesia menemukan adanya hubungan antara pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, pemaafan, dan depresi. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman masa kecil dan cara seseorang memaknai pemaafan berkaitan dengan kondisi psikologisnyMeski demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti setiap anak yang mengalami konflik dengan ayahnya pasti mengalami trauma atau depresi.

Dalam psikologi positif, proses pemulihan bukan hanya tentang menghilangkan kesedihan, tetapi juga tentang membangun kembali kesejahteraan dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi kehidupan.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Cognitive Reframing, yaitu meninjau kembali suatu pengalaman melalui sudut pandang yang lebih seimbang dan realistis.

Seseorang yang pernah dikecewakan oleh ayahnya, mungkin akan berpikir bahwa semua orang pasti akan mengkhianatinya.

Melalui pembingkaian ulang pikiran, ia dapat belajar memahami bahwa pengalaman buruk tersebut memang nyata, tetapi tidak otomatis menentukan bagaimana semua hubungan di masa depan akan berjalan. Ini bukan berarti membenarkan kesalahan ayah atau memaksakan diri untuk selalu berpikir positif, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk melihat kenyataan tanpa terus terjebak dalam ketakutan yang sama.

Selain itu, terdapat konsep forgiveness atau pemaafan yang dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Penelitian Aditya dan Utami (2025) menguji terapi pemaafan pada 16 orang dewasa muda dengan pengalaman buruk masa kanak-kanak. Hasilnya menunjukkan peningkatan pertumbuhan pascatrauma pada kelompok yang menerima terapi tersebut.

Namun, jumlah peserta penelitian ini relatif kecil, sehingga hasilnya perlu dipahami secara hati-hati dan tidak dapat diterapkan kepada semua orang. Memaafkan bukan berarti membenarkan pengkhianatan, melupakan apa yang terjadi, atau mengembalikan hubungan seperti semula tanpa adanya perubahan yang nyata.

Luka ini menimbulkan beberapa pertanyaan yang bisa direnungkan. Seberapa besar pengalaman menyakitkan di masa lalu memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan dan dirinya sendiri? Mengapa seseorang bisa tetap menyayangi sosok yang pernah membuatnya kehilangan rasa aman? Apakah perubahan sikap seorang ayah otomatis membuat luka anaknya sembuh? Dan apakah seorang hubungan mereka dianggap seharusnya tetap utuh? Pertanyaan-pertanyaaanak harus memaafkan ayahnya hanya karenan seperti ini sering kali ditanyakan seorang anak untuk dapat memahami dan memaklumi orang tuanya, sementara perasaannya sendiri justru kurang mendapatkan ruang untuk didengarkan.

Proses pemulihan dapat dimulai dengan mengakui perasaan sendiri. Seseorang tidak harus berpura-pura baik-baik saja hanya untuk menjaga pandangan orang lain terhadap keluarganya. Rasa marah, kecewa, dan sedih merupakan bagian dari pengalaman yang perlu dipahami, bukan selalu ditekan.

Setelah itu, ia dapat belajar meninjau kembali pola pikir yang terbentuk dari pengalaman masa lalu. Ia boleh mengakui bahwa ayahnya pernah melakukan kesalahan besar tanpa harus menyimpulkan bahwa dirinya tidak layak dicintai atau tidak akan pernah bisa mempercayai orang lain lagi.

Luka dari masa lalu tidak harus membuat seseorang kehilangan keberanian untuk mencintai dan mempercayai orang lain. Namun, proses sembuh juga tidak harus dibuktikan dengan seberapa cepat seseorang mampu memaafkan .

Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dalam memahami dan menerima pengalaman hidupnya. Anak tidak harus membenci ayahnya untuk mengakui bahwa dirinya pernah disakiti. Ia juga tidak harus menyangkal rasa sayangnya hanya karena masih menyimpan kekecewaan.

Mungkin, proses penyembuhan dimulai ketika seseorang berhenti memaksa dirinya untuk terlihat baik-baik saja dan mulai memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk pulih.

Sebab, berdamai dengan masa lalu bukan berarti menganggap luka itu tidak pernah ada, melainkan belajar agar luka tersebut tidak lagi menentukan seluruh arah kehidupan.

Previous Post

YPB-HAM Pidie Dukung Komnas HAM Turun ke Pidie, Said Safwatullah Desak TKP Penembakan Dijaga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ketika Ayah Menjadi Luka, Menyembuhkan Pola Pikir Melepaskan Trauma

Ketika Ayah Menjadi Luka, Menyembuhkan Pola Pikir Melepaskan Trauma

07/11/2026
YPB-HAM Pidie Dukung Komnas HAM Turun ke Pidie, Said Safwatullah Desak TKP Penembakan Dijaga

YPB-HAM Pidie Dukung Komnas HAM Turun ke Pidie, Said Safwatullah Desak TKP Penembakan Dijaga

07/11/2026
ITF Ar-Raniry Resmi Menjadi Lembaga Amil Zakat Tingkat Provinsi

ITF Ar-Raniry Resmi Menjadi Lembaga Amil Zakat Tingkat Provinsi

07/11/2026
Bupati Abdya Bersama Para SKPK Kopi Morning dengan Wartawan, Perkuat Sinergi dan Keterbukaan Informasi

Bupati Abdya Bersama Para SKPK Kopi Morning dengan Wartawan, Perkuat Sinergi dan Keterbukaan Informasi

07/11/2026
TRK Ajak Masyarakat Meriahkan Car Free Day Nagan Raya 2026

TRK Ajak Masyarakat Meriahkan Car Free Day Nagan Raya 2026

07/11/2026

Terpopuler

Ketika Ayah Menjadi Luka, Menyembuhkan Pola Pikir Melepaskan Trauma

Ketika Ayah Menjadi Luka, Menyembuhkan Pola Pikir Melepaskan Trauma

07/11/2026

Sarjani Minta Insiden Berdarah di Pulo Keunari Pidie Diusut Tuntas dan Transparan

Siswi MAN 3 Aceh Besar Raih Juara III AI Prompt Manifest 2026, Bersaing dengan Mahasiswa

Mahasiswa Kepung DPRK Pidie, Desak Dandim hingga Pangdam Dicopot! “Setiap Nyawa Berharga”

Nyan, Pemkab Pidie Jaya Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Selama 14 Hari

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com