BANDA ACEH – Forum Dakwah Perbatasan (FDP) menyalurkan hewan qurban ke Kawasan Perbatasan Aceh- Sumut hingga masyarakat Muslim Champa di Kamboja. Menyalurkan hewan qurban ke muslim minoritas di sepanjang perbatas Aceh- Sumut sudah menjadi tradisi tahunan Forum Dakwah Perbatasan.
Dari jumlah qurban yang tersalurkan menunjukan umat Islam Aceh dan Indonesia peduli dengan kondisisi umat perbatasan.
Zulkarnaini selaku pelaksana program ini menyebutkan bahwa pada Tahun 2023 lalu FDP menyalurkan 8 ekor sapi dan 82 ekor kambing atau domba dan tahun 2024 ini menyalurkan 11 ekor sapi dan 70 ekor kambing atau domba. Secara keseluruhan jumlah hewan qurban yang disalurkan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Para penyumbang qurban terdiri dari kalangan dokter, akademisi, pedagang dan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Secara khusus Forum Dakwah Dokter Indonesia (FDDI) menyumbang 4 ekor kambing. Tingginya minat para penyumbang qurban ke Perbatasan dan Pedalaman Aceh- Sumatera Utara menunjukan kepedulian umat Islam pada kondisi saudara di perbatasan yang secara wawasan Keislaman agak tertinggal dibandingkan saudara-saudara mereka yang hidup di kota-kota.
Fokus utama target pegiriman qurban adalah ke Kawasan-kawasan yang telah ditempat para dai dari FDP, hingga saat ini setidaknya ada 14 orang dai telah menjalankan tugas dakwah di Aceh; Aceh Tenggara khususnya Kecamatan Leuser, dan di Singkil fokusnya di Pulau Banyak. Sedangkan di Sumut, mencakup wilayah Kabupaten Karo, Dairi, Papak Bharat.
Kawasan lain yang juga menjadi target pengiriman hewan qurban adalah Kecamatan Danau Paris, yaitu Desa Biskang, Situbuh-tubuh, Sikoran, Situban, Lae Balno, Dusun Pancur Arang dan Desa Napagaloh, serta beberapa desa di luar Kecamatan Danau Paris. Meskipun FDP belum menempatkan dai di Danau Paris Singkil, namun bagi FDP Danau Paris punya makna historis sepanjang perjalan dakwah FDP dalam membina umat perbatasan.
FDP mulai kegiatan perdananya di Desa Napagaloh Danau Paris dan berulangkali dilaksanakan kegiatan besar dalam bentuk Safari Dakwah Perbatasan. Mengingat kondisi Perbatasan Singkil -Sumut termasuk Kawasan rentan degradasi wawasan Keislaman, FDP merencakan untuk tahun-tahun selanjutnya, Singkil Perbatasan Sumut menjadi fokus kegiatan dakwah FDP setelah Leuser Agara. Bentuk dakwah fokus pada peningkatan Pendidikan Islam kepada warga muslim kawasan tersebut lewat kegiatan berbeda-beda.
Demikian juga Subussalam, belum ada dai FDP yang ditempatkan di Kabupaten yang berbatas langsung dengan Papak Bharat, tapi sejumlah besar muallaf binaan FDP berasal dari Subussalam. Desa-desa di Subussalam antara lain; Desa Tangga Besi, Namo Buaya, dan daging juga disebarkan ke desa-desa lain dimana para mualaf binaan FDP berkediaman, demikian penjelasan T. Azhar Ibrahim, Lc selaku manager program FDP.
Menurut catatan tim pembinaan muallaf FDP, Subussalam merupakan kawasan yang paling banyak ditempati oleh para mualaf terutama dari suku Nias. Keberadaan mualaf yang sudah lama masuk Islam setelah memperoleh pemibinaan dari FDP mereka menjadi contoh baik bagi keluarga, dan itu mengundang anggota keluarga lain untuk mengikuti langkah saudaranya.
Menurut Muchlis Pohan Koordinator FDP Wilayah Subussalam -Singkil; Setiap kali mualaf pulang dari pembinaan selama 40 hari di Banda Aceh, tidak lama kemudian ada keluarga yang minta disyahadatkan di kantor wilayah FDP di pinggir jalan besar Subussalam.
FDP juga menyalurkan hewan qurban ke Kamboja, setelah kunjungan Ketua FDP, dr. Nurkhalis SpJP FIHA, atas undangan buka puasa bersama Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, bersama Forum Silaturrahim Kemakmuran Masjid Serantau (FORSIMAS).
Nurkhalis melihat Muslim minoritas Champa perlu perhatian dan membangun silaturrahim, karena bila ditilik sejarah; Aceh – Champa merupakan saudara tua yang silaturahim agak renggang. Meskipun Hun Sen dan anaknya Hun Manet memberi perhatian khusus untuk masyarakat muslim minoritas Kamboja baik dari suku Champ dan Khemr, karena mereka sebagai minoritas perlu usahakan keras untuk menduduki posisi ekonomi menengah keatas. Terutama keturunan Champ yang hidup sepanjang Sungai Mekong. Lewat qurban membangun silaturahim dengan saudara tua, motto yang dipakai adalah Qurban Bridge Silaturrahmi Acehnese-Champ Cambodian Muslim. Demikian juga dengan semua desa sepanjang perbatas dengan motto yang sama; Qurban Jembatan Silaturrahim. Dengan Qurban yang sampai ke saudara-saudara yang jauh akan mendekatkan tali silaturrahim dengan saudara muslim yang hidup di kota-kota.
Menyalurkan Qurban ke Perbatasan dan Pedalaman tidak semudah di kota-kota dan perkampungan, misalnya Untuk Desa Saka Dame Dairi, butuh waktu satu hari satu malam untuk tiba di lokasi. Jalur perjalanan terhitung ektrem, butuh banyak relawan yang mendapingi karena kawatir bila lembu sempat lepas urusan menjadi sangat panjang, dan kawasan tersebut tidak banyak orang pelihara kambing atau lembu, terpaksa harus didatangkan dari Kawasan lain. Akhirnya lembu sampai tujuan dan menyisakan kisah perjalanan yang panjang. []










