Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (29)

Admin1 by Admin1
24/02/2020
in Cerbung
0
Wasiet (24)

Blang Bintang, 2014

IBNU mengamati sekeliling. Ada hamparan sawah yang menguning sejauh mata memandang. Kemudian ada juga kios kecil di sisi kiri jalan yang relative sepi di sana.

Lokasi ini terletak di dekat Bandara Blang Bintang, kabupaten Aceh Besar. Jauh dari keramaian. Hanya beberapa pengunjung di sana. Konon di lokasi inilah para sahabat dari almarhum ayahnya ingin bertemu.

Saat Ibnu memasuki warung, dua pria berdiri sambil tersenyum. Satu bertubuh kekar dan satu lagi kurus dengan kaki kiri pincang. Ibnu yakin jika kedua pria inilah yang menghubunginya beberapa waktu lalu.

“Saya Aneuk Meuruwa, dan ini Lemha. Kami pernah bersama ayahnya selama hidup. Terimakasih telah datang,” ujar pria bertubuh kekar.

Ibnu mengangguk.

Pria itu kemudian bergantian memeluknya. Ibnu membalas pelukan kedua pria tadi dengan hangat. Ia menghargai kedua pria itu karena mereka mengaku mengenal ayahnya semasa hidup. Setidaknya, itu kata mereka melalui handphone kepada dirinya, beberapa waktu lalu.

“Sejak ayahmu tertembak. Kami terus mencarimu. Namun kalian menghilang tanpa jejak,” ujar Lemha, pria berbadan kurus tadi.

“Kami sangat mirip dengan ayahmu semasa hidup. Bang Man mengaku pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan Teungku Fiah. Informasi ini yang membuat kami yakin jika kamu adalah anak Teungku Fiah yang menghilang itu. Kami bertahun-tahun mencarimu dan akhirnya ketemu,” kata Lemha lagi.

Teungku Fiah merupakan sandi ayahnya dalam Gerakan Aceh Merdeka. Sedangkan nama Bang Man yang disebut terakhir tak dikenalnya.

Memang ada sejumlah mantan kombatan GAM yang mencarinya selama beberapa tahun terakhir. Mereka bahkan tak segan untuk datang ke kampusnya. Namun Ibnu sendiri belum tertarik untuk membahas masa lalu orangtuanya.

Ia ingat apa yang disampaikan ayahnya sebelum tertembak dalam perang.

“Walaupun ayah syahid, kau jangan sekali-kali memegang senjata untuk membalas dendam. Biarlah dendam ini terputus pada ayah,” ujarnya. Seminggu kemudian ia terlibat kontak tembak dengan TNI dan tubuhnya bersarang peluru. Informasi ini disampaikan seseorang kepada ibunya. Ibnu sendiri saat itu masih kecil, tapi tahu kondisi yang sedang terjadi.

“Bagaimana kabar ibumu?” ujar pria yang menyebut diri dengan sandi Aneuk Meuruwa tadi.

Ibnu menarik nafas panjang.

“Ibuku sudah lama meninggal teungku. Sejak kematian ayah, kami pindah ke Bireuen. Kami menetap di sana sekitar 3 tahun. Ibuku sakit dan meninggal. Sejak itu, saya dititip di dayah dan kemudian kuliah di sini,” ujarnya pelan. Ada rasa sakit yang luar biasa setiap dirinya mengenang masa lalu itu.

Kedua pria di depannya tertunduk lesu. Mereka seperti kehilangan kata-kata.

“Tak kusangka, perang ini telah meninggalkan banyak luka. Namun akhirnya kita tetap tunduk di bawah pemerintahan Jawa,” kata Lemha.

“Pengorbanan ini tak setimpal dengan hasil yang diraih saat ini. Pemimpin kita saat ini sibuk dengan jabatan dan uang. Celakalah mereka yang berpesta pora dari darah pejuang nanggroe,” tambah Aneuk Meuruwa.

Ketiganya kemudian terdiam. Ibnu tak mau berkomentar soal unek-unek dua pria di depannya itu.

“Apakah kau mendapat dana diyat dari perjuangan ayahmu?” tanya Lemha lagi.

Ibnu menggeleng.

“Tidak teungku. Pemerintah sekarang tak salah. Ini karena saya sendiri yang menutup jati diri selama ini. Saya tak ingin menjual perjuangan orangtua saya dengan sejumlah uang,” kata Ibnu lagi kemudian.

Lemha dan Aneuk Meuruwa tersenyum.

“Kau seperti ayahmu. Mudah-mudahan Allah Swt memberi tempat yang layak untuknya di atas sana,” ujar Lemha lagi.

“Sejak damai, kami berdua hijrah ke Malaya. Kami tak ingin menjual perjuangan ini dengan harta. Kami bermaksud mengajakmu kesana,” kata Aneuk Meuruwa.

Ibnu terdiam. Ia kini mengerti dengan kondisi yang terjadi dan alasan mengapa kedua pria di depannya ingin ketemu dengannya. Namun ia tak ingin cepat-cepat mengambil kesimpulan sendiri.

“Kami tidak ingin perjuangan ini sia-sia, nak. Kami tak ingin sejarah Daud Beureueh terulang. Semoga Allah melaknat mereka yang menjual perjuangan ini dengan setumpuk materi,” ujar Lemha lagi.

[Bersambung]

Tags: wasiet
Previous Post

4 Masjid Megah di Turki, Nomor 2 Warisan UNESCO

Next Post

Tragis, Penganut Bumi Datar Meninggal Saat Luncurkan Roket

Next Post

Tragis, Penganut Bumi Datar Meninggal Saat Luncurkan Roket

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lagi, Staf Ahli dan Pejabat Lainnya di Abdya Ikuti Program “Satu Pejabat Satu Anak Yatim”

Lagi, Staf Ahli dan Pejabat Lainnya di Abdya Ikuti Program “Satu Pejabat Satu Anak Yatim”

06/09/2026
IKAT Gelar Mubes V, Usung Agenda Penguatan Syiar Dakwah dan Kemandirian Kelembagaan

IKAT Gelar Mubes V, Usung Agenda Penguatan Syiar Dakwah dan Kemandirian Kelembagaan

06/09/2026
Jelang Kedatangan Utusan AS, Putin Perintahkan Setop Serang Kyiv

Jelang Kedatangan Utusan AS, Putin Perintahkan Setop Serang Kyiv

06/09/2026
Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

06/09/2026
Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

05/09/2026

Terpopuler

Senat UIN Ar-Raniry Minta Pemerintahan Aceh Transparan Terkait Anggaran Tanggap Darurat, Masa Transisi, dan Rehab-Rekon PascaBencana Hidrometorologi

Senat UIN Ar-Raniry Minta Pemerintahan Aceh Transparan Terkait Anggaran Tanggap Darurat, Masa Transisi, dan Rehab-Rekon PascaBencana Hidrometorologi

04/09/2026

Wasiet (29)

Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

USK–ANU Perkuat Kolaborasi Riset, Dalami Dinamika Perdamaian Aceh dan Bangsamoro

3.069 Huntap Pidie Jaya, Baru 110 Ditender: Korban Bencana Kembali Menunggu

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com