Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (46)

Admin1 by Admin1
12/03/2020
in Cerbung
0

DI Panton, Sakdiah dan dua anaknya berjalan kaki menelusuri kota kecil itu. Ia kalut karena harus meninggalkan rumah duka tanpa tujuan. Ia juga sedih atas tragedi yang menimpa almarhum Ruslan.

Istri Ruslan juga menitip sejumlah uang kepada dirinya. Pria yang diminta menjaga mereka tadi hanya mengantar hingga ke jalan tembus menuju kota. Ia harus kembali untuk melaksanakan fadhu kifayah untuk abang iparnya itu.

Di tengah kepanikan, ia tiba-tiba teringat dengan kampung halamannya di Nicah Awe. Sakdiah bertekad untuk pulang.

Tak peduli sedang dicari oleh tentara republic, Sakdiah hanya berharap ada tempat berteduh bagi anak-anaknya nanti. Ia tak ingin lagi ada orang yang terluka dan menderita karena menampung mereka.

Sakdiah menyetop bus antar kota ke arah Medan. Uang pemberian istri almarhum Ruslan digunakan untuk ongkos pulang. Hanya beberapa penumpang saat itu. Selama konflik, memang tak banyak warga yang rela menempuh perjalanan. Faktor razia dadakan serta perang membuat warga enggan berpergian.

Hanya hitungan menit, mereka akhirnya tiba kembali di Nicah Awe. Rumah Sakdiah berada di dekat bekas rel kereta api. Rumah mereka hanya berdinding kayu dengan alas tanah dan beratap daun anyaman kelapa.

Namun ia dan dua anaknya itu justru terdiam saat tiba di lokasi.

“Mak rumah kita hilang?” ujar Ibnu tiba-tiba.

Air mata Sakdiah kembali tumpah. Rumah yang ditinggalinya kini jadi abu. Nyaris tanpa jejak. Hanya bekas arang yang menghitam di tanah yang tinggal.

Budi memeluk ibunya. Remaja itu mencoba menguatkan ibunya untuk tetap tegar.

Beberapa tetangga, yang melihat kepulangan Sakdiah, tiba-tiba keluar dan memeluk wanita itu. Namun jiwa Sakdiah terguncang. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia kemudian roboh tak sadarkan diri.

Sakdiah baru sadar jelang dini hari. Saat membuka mata, ia sudah di atas ranjang rumah imum meunasah yang juga tetangganya. Jarak rumah mereka hanya sekitar 100 meter.

Sang pemilik rumah itu bernama Teungku Baka. Pria berwajah teduh itu memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan yang sudah besar. Namun hanya memiliki tiga kamar. Salah satu kamarnya kini ditempati oleh Sakdiah dan anaknya.

“Kamu istirahat saja dulu. Jangan berpikir macam-macam,” ujar Teungku Baka. Lelaki itu kemudian keluar kamar.

Sakdiah menurut. Orangtua itu sudah seperti keluarganya. Ia kembali merebahkan kepalanya ke kasur. Budi mengurut kepala ibunya dengan pelan dan lembut. Remaja itu lebih penurut usai penculikan abangnya.

“Mak tidur aja. Besok Budi cari cara untuk menghubungi ayah. Ayah pasti tak akan menelantarkan kita,” ujar remaja itu.

Sakdiah tersenyum mendengar penuturan Budi. Ia tak ingin membuat anak-anaknya itu tambah menderita dengan wajah kusutnya.

“Adikmu mana?” ujarnya kemudian.

“Ibnu di kamar sebelah mak. Ia sedang tidur,” jawab Budi.

Sakdiah terdiam. Ia benar-benar lelah dalam pelarian selama beberapa bulan terakhir. Ia ingin tidur panjang.

“Bud. Jaga adikmu baik-baik jika seandainya mamak tiada nanti ya,” ujarnya kemudian. Suaranya pelan seperti orang yang kehilangan harapan.

Mendengar hal itu, tubuh Budi tersentak. Ia tahu maksud dari kata-kata yang keluar dari bibir ibunya itu. Meskipun kini berstatus sebagai pelajar putus sekolah, ia sebenarnya adalah remaja yang cukup cerdas untuk seumurannya.

“Mamak jangan menyerah. Ini cobaan terhadap kita. Allah tak akan memberi cobaan di luar kesanggupan hambanya,” kata remaja itu.

Sakdiah terdiam mendengar kalimat anaknya itu. Ia benar-benar sudah dewasa dari umur yang seharusnya.

[Bersambung]

Tags: wasiet
Previous Post

Bukan Pelukan, Ibu Ini Semprot Anaknya dengan Disinfektan di Bandara

Next Post

Wiratmadinata: Banyak Orang Tidak Sadar ikut Berbagi Hoax

Next Post
Wiratmadinata: Banyak Orang Tidak Sadar ikut Berbagi Hoax

Wiratmadinata: Banyak Orang Tidak Sadar ikut Berbagi Hoax

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lagi, Staf Ahli dan Pejabat Lainnya di Abdya Ikuti Program “Satu Pejabat Satu Anak Yatim”

Lagi, Staf Ahli dan Pejabat Lainnya di Abdya Ikuti Program “Satu Pejabat Satu Anak Yatim”

06/09/2026
IKAT Gelar Mubes V, Usung Agenda Penguatan Syiar Dakwah dan Kemandirian Kelembagaan

IKAT Gelar Mubes V, Usung Agenda Penguatan Syiar Dakwah dan Kemandirian Kelembagaan

06/09/2026
Jelang Kedatangan Utusan AS, Putin Perintahkan Setop Serang Kyiv

Jelang Kedatangan Utusan AS, Putin Perintahkan Setop Serang Kyiv

06/09/2026
Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

06/09/2026
Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

05/09/2026

Terpopuler

Wasiet (46)

12/03/2020

Senat UIN Ar-Raniry Minta Pemerintahan Aceh Transparan Terkait Anggaran Tanggap Darurat, Masa Transisi, dan Rehab-Rekon PascaBencana Hidrometorologi

Pelatihan Kader Penggerak Nanggroe Japakeh 2026 Dibuka

Sekda, Para Kadis hingga Camat mulai Ramai jadi Orang Tua Asuh Anak Yatim di Abdya

3.069 Huntap Pidie Jaya, Baru 110 Ditender: Korban Bencana Kembali Menunggu

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com