BANDA ACEH – Masih ingat dengan alat inovasi peredam sinyal handphone dalam masjid selama salat jamaah berlangsung? Inovasi ini ditemukan oleh beberapa mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan meraih medali emas dalam penghargaan tingkat internasional.
Alat ini diberi nama Islamic Jammer. Karya mahasiswa tersebut menjadi salah satu karya mahasiswa Aceh yang dipamerkan di stand UIN Ar-Raniry di ajang International Islamic Education Expo (IIEE) tahun 2017. Pameran tersebut digelar di ICE BSD Serpong , Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, 21-24 November 2017.
Selain mengharumkan nama UIN Ar-Raniry, inovasi tadi juga mengharumkan nama Aceh serta mendapat pujian dari para ilmuwan.
Namun sayangnya, petugas dari Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh menyita alat tersebut dari laboratorium UIN Ar-Raniry, Rabu pagi 11 Maret 2020, pukul 10.00 WIB kemarin.
Petugas menyita inovasi mahasiswa ini dari laboratorium kampus. Meskipun sudah dijelaskan berulangkali bahwa alat tersebut hanya inovasi mahasiswa dan tak akan disalahgunakan, tetapi petugas tetap mengambil paksa alat tadi.
Informasi ini kemudian berhembus cepat di kalangan aktivis mahasiswa UIN Ar-Raniry.
Sejumlah aktivis mahasiswa UIN Ar-Raniry mendatangi ruang Wakil Rektor Bidang Mahasiswa, Saifullah, untuk meminta sikap kampus. Hadir juga dalam pertemuan ini, Budi Azhari M.Pd, mewakili unsur pimpinan fakultas di UIN AR-Raniry.

“Prilaku ini membunuh inovasi mahasiswa. Kita minta alat tersebut dikembalikan oleh Balai Monitor Spektrum,” ujar sejumlah mahasiswa.
Sejumlah aktivis mengencam aksi penyitaan inovasi mahasiswa yang memperoleh penghargaan tersebut.
“Masa inovasi itu dinilai menganggu. Disitanya di lab kampus lagi.”
Menyangkut hal ini, Budi Azhari dalam pertemuan tersebut, meminta mahasiswa bersabar dan tidak bertindak gegabah.
“Kita telah mendengarkan persoalan yang terjadi. Apalagi Bapak Warek III sudah berjanji akan melakukan komunikasi dan pendekatan melalui tim yang ditunjuk, untuk mengembalikan inovasi mahasiswa tadi,” ujar Budi.
“Setiap inovasi harusnya mendapat penghargaan dari pemerintah, bukan malah membunuh kreatifitas mahasiswa. Kita menawarkan kerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan dan inovasi, termasuk Balai Monitor Spektrum untuk dapat bersama-sama mendukung inovasi anak negeri,” kata mantan aktivis mahasiswa ini lagi.












