Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Power Syndrome Terhadap Pemimpin Baru

redaksi by redaksi
23/02/2025
in Opini
0
[Opini] Power Syndrome Terhadap Pemimpin Baru

Oleh Fadhlullah (Alul). Penulis adalah alumni Ilmu Politik UIN Ar-Raniry

Post power syndrome adalah fenomena psikologis yang terjadi ketika seseorang kehilangan kekuasaan atau jabatan yang sebelumnya memberikan identitas dan pengaruh.

Di Indonesia, fenomena ini kerap dialami oleh para elit politik yang telah lama berkecimpung dalam pemerintahan dan kemudian harus beradaptasi dengan kehidupan di luar lingkaran kekuasaan.

Para ahli kesehatan jiwa mengidentifikasi sejumlah gejala yang dialami oleh penderita PPS, antara lain: kurang bergairah, mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan, sikap yang tidak mau kalah, sulit mendengar pandangan pihak lain, dan secara repetitive suka membicarakan kebesaran diri dan kekuasaan di masa lalu.

Suatu tindak-tanduk yang menggangu bukan?. Karena itu, bagi kebanyakan orang, kehilangan kekuasaan dan berhenti dari suatu jabatan, boleh jadi merupakan hal yang amat ditakuti.

Pimpinan DPR, DPD, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota semuanya akan mengalami pergantian pada waktunya. Inilah indahnya demokrasi. Hadirnya pemimpin baru diharapkan membawa kebaruan dan, tentu saja, perbaikan dalam menjalankan amanat kepemimpinannya.

Keadaan ini seharusnya disadari oleh setiap pemangku jabatan publik, dan karenanya setiap pejabat publik harus bersiap untuk kehilangan posisinya. Hanya soal waktu setiap pejabat public akan berhenti, dan dengan demikian akan kehilangan privilese, kekuasan, dan pengaruhnya. Ini berarti, pada setiap siklus politik, sejumlah orang berpotensi mengalami PPS.

Fenomena ini terlihat dari beberapa mantan pejabat yang sulit menerima kenyataan bahwa mereka tidak lagi memiliki otoritas yang sama. Ada yang terus mencari cara untuk kembali ke panggung politik dengan membangun kelompok organ relawan dan komunitas sehingga perlu sebagai alat validasi dalam kinerja.

Beberapa di antaranya juga cenderung mengkritik kebijakan pemerintahan baru tanpa melihat konteks yang lebih luas, seolah-olah ingin tetap menjadi pusat perhatian.

Post power syndrome dalam politik juga berbahaya jika diiringi dengan penyalahgunaan pengaruh lama, seperti memanfaatkan loyalis di birokrasi untuk kepentingan pribadi atau menghambat kebijakan pemimpin baru.

Ini bisa menciptakan instabilitas politik dan memperlambat pembangunan nasional.

Namun, tidak semua mantan pejabat mengalami sindrom ini. Ada yang mampu beradaptasi dengan baik, misalnya dengan berkontribusi melalui jalur akademik, filantropi, atau peran sebagai negarawan yang memberikan kritik konstruktif tanpa ambisi kembali ke kekuasaan.

Untuk mengatasi post power syndrome, perlu ada perubahan dalam budaya politik Indonesia. Elit politik harus sadar bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak pribadi yang harus dipertahankan selamanya.

Selain itu, membangun sistem politik yang lebih demokratis dan meritokratis dapat mengurangi dominasi individu atau kelompok tertentu yang terlalu lama bercokol dalam kekuasaan.

Memang, karakter budaya politik di indonesia yang masih kental dengan aroma feodalisme agak sedikit sulit menyembuhkan penyakit PPS ini yang terpapar terhadap segelintir elit.

Budaya psikologi politik indonesia yang sangat enggan menyadari bahwa kekuasaan bersifat sementara, dan ingin terus di puja puji sampai ia mati. Ingin terus menerus di sapa dengan istilah “bapak ketua” di setiap dan berbagai pertemuan dengan melibatkan orang banyak seolah olah mahkota yang di amanatkan oleh masyarakat itu bersifat abadi dan di bawa hingga mati.

Pada akhirnya, politik harus dipandang sebagai sarana pengabdian, bukan sekadar panggung kekuasaan. Seorang pemimpin sejati adalah mereka yang mampu melepaskan jabatannya dengan elegan, meninggalkan warisan yang baik, dan mendukung regenerasi kepemimpinan demi kemajuan bangsa. []

Previous Post

Ketua Gerindra Pidie Sesalkan Pernyataan Ketua DPR Aceh

Next Post

Warga Aceh Ditangkap Usai Sembunyikan 33 Kilogram Sabu dalam Dinding Mobil

Next Post
Warga Aceh Ditangkap Usai Sembunyikan 33 Kilogram Sabu dalam Dinding Mobil

Warga Aceh Ditangkap Usai Sembunyikan 33 Kilogram Sabu dalam Dinding Mobil

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

‎Masyarakat Gayo Patungan Perbaiki Jalan Nasional, YARA: Pengakuan Tito Karnavian Soal Infrastruktur Rusak Harus Dibuktikan dengan Aksi Nyata

‎Masyarakat Gayo Patungan Perbaiki Jalan Nasional, YARA: Pengakuan Tito Karnavian Soal Infrastruktur Rusak Harus Dibuktikan dengan Aksi Nyata

11/06/2026
Masjid Raya Baiturrahman Aceh Akan Gelar Malam Muhasabah Bersama Abu Muda Bakongan

Masjid Raya Baiturrahman Aceh Akan Gelar Malam Muhasabah Bersama Abu Muda Bakongan

11/06/2026
Selenggarakan Seminar Series, Prodi MPBEN FKIP USK Bahas Perkembangan Akademik Hingga Budaya Aceh

Selenggarakan Seminar Series, Prodi MPBEN FKIP USK Bahas Perkembangan Akademik Hingga Budaya Aceh

11/06/2026
Pangkalan Udara Israel Hancur Dihujani Rudal-rudal Iran

Pangkalan Udara Israel Hancur Dihujani Rudal-rudal Iran

11/06/2026
Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir yang Alami Gangguan Jiwa

Dedengkot Apartheid Ini Tewas Ditikam Kurir yang Alami Gangguan Jiwa

11/06/2026

Terpopuler

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

04/06/2026

Pesantren Jadi Lokomotif Pertanian Modern, IPB Kenalkan Varietas Padi Cerdas Iklim di Pidie Jaya

Plt Sekda Lantik 50 Pejabat Fungsional Tenaga Kesehatan dan Guru

Cita-cita Anak Desa Jadi Bupati

HUT Pidie Jaya 2026: Antara Perayaan, Pemulihan Pascabencana dan Penguatan Syariat

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com