Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Kisah Wabah Ta’eun Ijak Brok dan Wabasampoh di Aceh

redaksi by redaksi
22/03/2020
in Sejarah
0
Saat Wabah Kolera Menggerogoti Kedaulatan Kesultanan Aceh

Ilustrasi wabah di masa lalu

Di akhir abad 18, sejumlah negara di dunia dilanda wabah mengerikan. Di Eropa, wabah ini dikenal dengan istilah The Black Death. Sebahagian orang menyebutnya dengan istilah kolera. Sedangkan orang Aceh menyebutnya dengan Ta’eun Ija Brok.

Sebutan ini karena virus mematikan pada masa itu dilaporkan menjadikan kain-kain kotor sebagai sarang dan kemudian menular pada manusia.Menurut Profesor Farid Wjdi, wabah Ta’eun Ija Brok hampir mengosongkan

Aceh saat itu. Virus ini di bawa oleh serdadu Belanda hingga membuat kehidupan masyarakat di Aceh mencekam.

Di kampung-kampung, masyarakat Aceh menggelar salat tolak bala. Menyalakan penerang sejenis obor usai Magrib dan kemudian keliling kampung sambil membacakan doa-doa tolak bala.

Warga di Aceh juga membakar kain-kain kotor sebagai upaya dalam menolak bala.

Ada juga sebahagian warga yang membakar barang-barang pemberian Belanda karena dianggap bahagian dari sumber penyakit.

Yang paling banyak menerima imbas dari keberadaan wabah ini, adalah orang-orang Aceh yang bekerja di kantor kantor Belanda, mereka menderita kolera hingga dijauhi oleh masyarakat Aceh itu sendiri. Tak hanya yang terkena wabah tapi juga anak cucu mereka yang tinggal jauh dari pusat wabah.

Semua melakukan upaya masing-masing untuk meminimalisir wabah ini. Termasuk tak menikah dengan anak gadis dari silsilah keluarga yang terkena Ta’eun Ijak Brok.

Konon, wabah kolera atau Ta’eun Ijak Brok, awalnya mulai melanda Batavia.

Dari berbagai sumber menyebutkan, ketika Belanda memulai agresi keduanya ke Aceh, wabah kolera mulai menjangkiti pasukan Belanda. Jenderal Jan van Swieten diangkat Loudon menjadi Panglima Militer Tertinggi Ekspedisi ke Aceh kedua.

Van Swieten adalah ketika itu berusa 66 tahun. Ia telah pesiun sebagai Tentara Hindia Belanda. Ia kemudian menjadi anggota Dewan Negara dan Komisaris Nederlands-Indische Spoorwegmaatchappij, perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda (Paul van t’Veer: 1985).

Ekspedisi kedua membawa hampir tiga belas ribu orang. 389 perwira, 8156 bawahan, 1.037 pelayan perwira, 3.280 narapidana dan 234 wanita. 18 kapal perang uap, tujuh buah kapal uap angkatan laut, 12 kapal barkas, dua kapal peronnda yang dipersenjatai, 22 kapal pengangkut dengan alat-alat pendarat yang terdiri dari 6 kapal uap, dua rakit besi, dua rakit kayu, kurang lebih 80 sekoci, beberapa sekoci angkatan laut dan sejumlah besar tongkang. (Ibrahim Alfian: 2016)

Ekspedisi pun dimulai dengan pelayaran dari Batavia. Ribuan orang berjejal dalam kapal-kapal selama 10-14 hari perjalanan. Pelayaran sudah mengundang maut ketika wabah kolera pada Oktober 1873 telah mencapai Batavia. Keberangkatan ekspedisi yang seharusnya dimulai 1 November 1873, diundur hingga 10 hari. (Paul van t’Veer: 1985)

Segera setelah berlayar, ribuan orang yang berjejal dalam ekspedisi militer ke Aceh tersebut menjadi mangsa wabah kolera.

Begitu kapal-kapal mencapai Aceh, 60 orang sudah tewas akibat kolera. Begitu kapal mendarat angka korban kolera segera meroket. Hujan tanpa henti, bedeng-bedeng yang becek, dan kurangnya tenaga medis membuat jumlah korban wabah kolera meningkat setiap hari. (Paul van t’Veer: 1985)

Angkanya terus meroket. Bahkan pada akhir bulan Desember telah tewas 150 orang akibat kolera. 18 perwira dan ratusan bawahan segera dibawa ke rumah sakit di Kota Padang, tanpa pembasmian hama terlebih dahulu. Sebelum peluru ditembakkan dari ekspedisi ini, Van Swieten telah kehilangan lebih dari sepersepuluh kekuatannya. (Paul van t’Veer: 1985)

Akibat khawatir akan penularan wabah pula, akhirnya pada 9 Desember 1873, satu dari ketiga brigade didaratkan di Pantai Rawa. Pasukan induk sendiri akhirnya tiba di Peunayong setelah 14 hari menembus serangan pasukan Aceh. Pertempuran untuk menguasai Masjid Raya terus berlangsung hingga akhir Desember. (Mohammad Said: 2007)

Pasca menguasai Masjid Raya, pasukan Belanda merangsek ke Istana Kesultanan Aceh. Celakanya mereka bukan hanya menembakkan peluru tetapi juga menularkan kolera ke kubu Aceh. Kolera segera merebak di dalam Istana yang sedang dipertahankan. (Mohammad Said: 2007)

Setidaknya 150 orang Aceh setiap hari tewas akibat kolera. Salah satu yang ikut terkena kolera adalah Sultan Mahmud. Ia menjadi orang yang terakhir Bersama Panglima Tibang keluar dari istana. Sultan kemudian diungsikan ke Pagar Aye. Takdir menentukan berbeda. Pada 28 Januari 1874 Sultan Aceh tersebut wafat. (Mohammad Said: 2007)

Kepanikan bertambah parah kala wabah tersebut kemudian menyebar dengan cepat di seluruh Aceh.

Asumsi awal, wabah ini cuma menjangkit orang-orang miskin di Aceh. Ini karena mereka mengenakan Ija Brok, namun belakangan para ulee balang di Aceh juga terkena imbasnya meskipun mereka berpakaian bagus.

Istilah Ta’eun pun kemudian bergeser dari Ta’eun Ija Brok menjadi Ta’eun Wabasampoh. Artinya, wabah ini bisa menimpa siapa saja orang-orang yang terjangkit. Tak peduli ia kaum bangsawan maupun rakyat jelata.
Wabah ta’eun wabasampoh sendiri baru redam di Aceh hingga pertengahan abad 19. Orang yang terjangkit wabah ini dikucilkan hingga prilaku lainnya. []

Tags: ta'eun ijak brokta'eun wabasapohwabah di masa lalu
Previous Post

Nova Minta Walikota Tutup Warkop Sementara

Next Post

Akibat Virus Corona, Penyair Din Saja: Seniman Susah Harus Dibantu

Next Post
Akibat Virus Corona, Penyair Din Saja: Seniman Susah Harus Dibantu

Akibat Virus Corona, Penyair Din Saja: Seniman Susah Harus Dibantu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Tuanku Muhammad Minta Pemko Bertindak Cepat, Taman Meuraxa Tak Boleh Jadi Korban Pencurian Berulang

Tuanku Muhammad Minta Pemko Bertindak Cepat, Taman Meuraxa Tak Boleh Jadi Korban Pencurian Berulang

07/08/2026
Penyaluran Dana Desa di Aceh Sudah Capai Rp1,45 Triliun

Penyaluran Dana Desa di Aceh Sudah Capai Rp1,45 Triliun

07/08/2026
Al Farlaky Temui Mendagri Tito Karnavian Bahas Percepatan Penanganan Pascabanjir

Al Farlaky Temui Mendagri Tito Karnavian Bahas Percepatan Penanganan Pascabanjir

07/08/2026
Pelajar Asal Aceh Besar dan Aceh Tamiang Wakili Aceh di Paskibraka Nasional 2026

Pelajar Asal Aceh Besar dan Aceh Tamiang Wakili Aceh di Paskibraka Nasional 2026

07/08/2026
Kapolresta Banda Aceh dan Kasat Narkoba Diperiksa Propam Mabes Polri

Kapolresta Banda Aceh dan Kasat Narkoba Diperiksa Propam Mabes Polri

07/08/2026

Terpopuler

Jelang Hari Damai Aceh, Kapolres Pidie Gandeng HUDA Perkuat Persatuan dan Stabilitas Daerah

Jelang Hari Damai Aceh, Kapolres Pidie Gandeng HUDA Perkuat Persatuan dan Stabilitas Daerah

06/08/2026

Baju Khas Pidie Resmi Bersertifikat, Ikhtiar Menjaga Identitas Budaya dari Klaim dan Kepunahan

Kisah Wabah Ta’eun Ijak Brok dan Wabasampoh di Aceh

Haykal Nahkodai FPRB Pidie Jaya 2026–2031, Siap Perkuat Ketangguhan Daerah Hadapi Bencana

Mualem dan Mentan Bahas Pemulihan Sawah Pascabencana di Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com