+++
USAI Salat Subur, Ibnu mulai merapikan diri. Ia memakai baju putih dan celana kain hitam. Ada juga sepatu dan jas hitam yang dipinjam dari Ahmadi. Hari ini ia berpenampilan beda dari biasanya. Meskipun sepatu bermerek yang dipakaiannya adalah pinjaman belaka.
Ibnu mematung beberapa lama di depan kaca. Ia hampir tak mengenali dirinya sendiri.
“Cukup ganteng. Mudah-mudahan setelah hari ini, garis hidupmu berubah, Nu,” ujar Ahmadi tiba-tiba.
Sosok ini berdiri di pintu kamar. Ia terlihat tersenyum di samping Gunawan yang juga terlihat sedang memandanginya.
Kedua sosok itu juga terlihat berpakaian rapi. Ibnu memandingi kedua kawan se-asrama ini dengan alis berkerut. Kemudian ia tiba-tiba tersenyum.
“Kalian ikut aku juga ke lokasi wisuda? Terimakasih Wak, Dek Gun. Kalian temanku yang sangat baik,” ujar Ibnu senang. Ia tidak memiliki keluarga kandung di hari wisuda, tapi ia masih memiliki sahabat.
Siwak tersenyum. Demikian juga dengan Gunawan.
“Aku tak akan membiarkan dirimu sendiri, Nu. Kami adalah keluargamu. Tapi dengan catatan, aku dan Gunawan tak akan masuk ke ruang wisuda. Aku males mendengar lomba pidato bapak-bapak bertoga,” kata Ahmadi.
Ibnu tak peduli dengan ocehan Ahmadi. Ia kemudian memeluk kedua pria di depannya itu dengan hangat.
Ketiganya kemudian bergegas turun dari lantai 2 asrama Unsyiah. Awalnya Ibnu ingin menuju parkir guna mengambil sepeda motor miliknya. Namun langkahnya itu ditahan oleh Ahmadi.
“Kita masih harus menunggu seorang lagi. Santai saja di sini!” ujar Ahmadi.
Sedangkan Gunawan cuma tersenyum tipis. Ia tak mengerti dengan pembicaraan kedua seniornya di asrama itu.
“Katanya ia masih di salon. Sekitar 15 menit lagi tiba,” kata Ahmadi lagi sambil menggoda Ibnu dengan kedipan mata. Ibnu sendiri mengerti dengan kalimat yang disampaikan Ahmadi. Hanya saja ia tak menyangka jika Riska ternyata juga ke salon untuk hadir di ruang ACC Dayan Dawood guna melihat dirinya diwisuda.
Seperti yang disampaikan Ahmadi, Riska tiba di asrama 15 menit kemudian. Ia datang dengan menggunakan Avanza hitam keluaran terbaru. Gadis itu melambai dari kejauhan dan meminta ketiganya untuk segera merapat ke mobil.
Gunawan terdiam saat melihat Riska. Ini baru pertama ia bertemu dengan gadis itu.
“Ya Allah, cantik sekali gadis itu. Pacar bang Ibnu?” ujar Gunawan tiba-tiba.
Ibnu terlihat salah tingkah saat dikatai bahwa Riska adalah pacarnya oleh Gunawan. Sementara Ahmadi hanya tersenyum penuh makna.
Riska memang wanita yang cantik. Ia merupakan gadis idaman untuk pemuda yang waras. Namun hari ini, ia terlihat sempurna. Kebaya kuning dengan jilbab yang tertata rapi serta wajah tersolek. Ia juga mengenakan alis mata palsu serta maskara tipis yang membuat keningnya kian menawan.
Jantung Ibnu berdetak kencang. Kali ini mungkin pertahanan-nya akan runtuh jika menatap Riska lama-lama.
“Riska dipinjami mobil sama kawan ayah. Khusus untuk antari Bang Ibnu seharian sebagai hadiah telah sarjana,” ujar Riska begitu mereka mendekat.
Bau mawar menebar sekeliling. Kali ini dosisnya lebih terasa dari biasanya. Ibnu sangat menyukai bau itu. Ia terasa berada di taman bunga. Entah wanita itu menyadarinya atau tidak.
Ketiga pemuda itu terdiam. Hal ini membuat Riska salah tingkah.
“Apa ada yang salah dengan aku? Apa make up-ku terlalu tebal sehingga kalian melihatku dengan pandangan begitu?” ujar Riska polos.
Ibnu menelan ludah. Ia tak ingin jika gadis itu tahu kalau dirinya terpesona dengan sosoknya hari ini.
“Tidak. Kau cantik sekali hari ini,” ujar Ibnu. Kalimat itu meluncur tanpa hambatan dari mulut Ibnu. Ia sendiri kaget mendengar kalimatnya itu. Kini giliran Riska yang terdiam kaku. Ia terkejut mendengar godaan pertama dari Ibnu setelah sekian lama mereka berkomunikasi.
[Bersambung]









![[Opini] JKA dan Martabat Keistimewaan Aceh](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-06-at-15.09.56-350x250.jpeg)
