Pemerintah Aceh berencana membuka langsung pelayaran Aceh-Penang pada akhir Juli atau awal Agustus ini. Pelayaran ini diharapkan jadi awal baru ekspor komiditi khas Aceh langsung ke Malaysia. Salah satunya ‘mungkin’ adalah pisang kepok.
Target ini mungkin akan sulit terwujud pada akhir bulan ini mengingat pertanggalan Juli cuma tiga hari lagi. Bisa jadi bergeser ke awal Agustus seperti rencana Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.
Komitmen tersebut bisa jadi awal baru ekspor impor Aceh-Penang. Salah satu komoditi unggulan Aceh yang paling diminati dan mahal di Penang, menurut Mualem saat kampanye Pilkada Aceh 2024 di Peureulak, adalah pisang kepok.
Muhammad Yusuf, 32 tahun, salah seorang petani pisang di Pidie, mengatakan komitmen pemerintah Aceh ini belum diikuti langkah serius dari para petani pisang di Aceh.
“Belum. Saya pikir itu, (Mualem-red) bercanda,” ujar Yusuf.
“Kalau sudah ada kapal, dan jadi rutenya, baru nanti kita lihat lagi. Tapi ngapain ke Malaysia? Bukankah berat diongkos? Kebutuhan di Aceh saja sulit dipenuhi,” kata Yusuf lagi.
Marzuki, 45 tahun, petani pisang asal Laweung, Kabupaten Pidie, menambahkan bahwa perhatian pemerintah terhadap petani pisang masih sangat lemah.
“Terbukti hingga saat ini belum ada sentuhan apapun dari pemerintah Aceh untuk membina petani pisang. Kalau berharap petani pisang tumbuh sendiri, jangankan untuk ekspor ke Penang, untuk memenuhi stok Aceh aja tidak mampu,” ujar Marzuki.
Menurutnya, pemerintah belum serius dengan rencana ekspor pisang kepok ke Malaysia.
“Bek sampe lagee pepatah Aceh peugah, watee kapal trok baroe pula lada. Kalau serius, bina petani pisang, cari lahan yang luas, baru ekspor,” ujar dia.
Sebelumnya, dikutip dari berbagai media, Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengatakan pihaknya pada akhir bulan Juli atau awal Agustus mendatang segera memfungsikan pelayaran langsung ke Penang, Malaysia melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, Kota Lhokseumawe Aceh.
“Saya rencanakan dalam paling cepat akhir Juli atau di awal bulan Agustus 2025, akan dilayani penyeberangan langsung dari Lhokseumawe Aceh ke Penang, Malaysia,” kata Muzakir Manaf di Aceh Barat, dikutip dari antara, Selasa.
Hal ini ia sampaikan saat menghadiri peresmian pabrik karet remah di PT Pesona Bumi Sakti, di Desa Glee Siblah, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barar.
Pria yang akrab disapa Mualem ini mengatakan, pelayaran langsung antara Aceh dan Penang, Malaysia tersebut nantinya akan dilayani oleh kapal penumpang jenis Ferry Roro.
Hal ini sebelumnya sudah berulangkali disampaikan Mualem dalam berbagai kesepakatan. Dari catatan sejumlah media, komitmen tersebut pernah disampaikan dalam kampanye di Peureulak saat pilkada 2024, kemudian hal yang sama diulang dalam pelantikan walikota Lhokseumawe dan Bupati Gayo Lues.
Selain dapat menghubungkan langsung dengan negeri jiran Malaysia, Pemerintah Aceh berharap nantinya dari pelayaran ini akan mampu meningkatkan iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di Aceh.
Mualem mengatakan pembukaan jalur pelayaran melalui Selat Malaka tersebut, juga akan memudahkan petani dan masyarakat Aceh untuk menjual aneka hasil kebun ke negeri jiran Malaysia.
Selain itu, aneka hasil kebun, perikanan dan pertanian dari Aceh juga akan lebih mudah diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Lhokseumawe, Aceh.
Begitu juga sebaliknya, masyarakat Penang atau Malaysia secara umum dapat berwisata ke Aceh melalui pelayaran langsung ke Lhokseumawe dari Pulau Penang, Malaysia.
Muzakir Manaf mengatakan pembukaan pelayaran langsung dari Aceh ke Malaysia, juga diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan asing datang ke Aceh.
“Nanti warga Malaysia juga bisa ke Aceh sambil bawa kendaraan,” katanya.
Muzakir Manaf mengatakan dengan pembukaan jalur pelayaran langsung dari Aceh ke Pulau Penang, Malaysia diharapkan akan meningkatkan rasa emosional (persaudaraan) antara warga Indonesia dan Malaysia, agar ke depan semakin lebih baik dan akrab demi kemajuan Aceh di masa depan.
Lantas apa jadinya jika kapal Roro sudah ada dalam hitungan hari kedepan, tapi komoditi Aceh untuk ekspor justru belum terpenuhi? Jangan sampai kasus yang pernah menimpa pelayaran Langsa-Malaysia kembali terulang.










