Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Menatap Aceh Pasca Damai

redaksi by redaksi
12/08/2025
in Opini
0
[Opini] Menatap Aceh Pasca Damai

Oleh Hafizhuddin Islamy. Penulis adalah pelajar Aceh di Istanbul, Turki.

Memasuki dua dekade masa damai, Aceh terus berbenah untuk menjadi provinsi yang mandiri. Mencerdaskan sumber daya manusianya agar dapat mengolah kekayaan alam yang tersimpan utuh di bumi Serambi Mekah. Melepaskan diri dari ketergantungan kepada wilayah lain dan menjadi daerah yang disegani serta bisa mensejahterakan rakyatnya.

Banyak hal yang hingga kini masih menjadi tantangan bagi provinsi paling barat Indonesia ini untuk menjadi lebih maju. Daerah istimewa yang mendapatkan dana otsus triliunan rupiah ternyata masih belum bisa lepas dari predikat provinsi termiskin di Sumatra. Entah apa indikator dari Badan Pusat Statistik hingga menyebabkan Aceh secara berturut-turut masih dinobatkan sebagai provinsi termiskin.

Bukti nyata bahwa banyaknya kucuran dana yang mengalir sekalipun ternyata tidak dapat melepaskan Aceh dari cap provinsi termiskin. Pertanyaannya adalah kemana larinya dana triliunan itu jika rakyat Aceh masih hidup dibawah garis kemiskinan. Sudah 20 tahun lebih Aceh meraih kedamaian dengan berbagai keistimewaan yang diperolehnya, namun nyatanya waktu 20 tahun itu masih belum cukup untuk menjadikan Aceh makmur apalagi sejahtera.

Pembangunan yang masih belum merata antara wilayah perkotaan dengan pedesaan, antara wilayah timur dan barat masih menjadi problematika klasik yang menghiasi hari-hari masyarakat Aceh. Tak heran jika hal-hal seperti ini kerap menimbulkan kecemburuan sosial hingga perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Tak heran pula jika ada daerah di Aceh yang ingin mekar menjadi provinsi sendiri dikarenakan ketimpangan pembangunan ini. Dana otsus yang tidak tahu dialokasikan kemana, atau mungkin telah dialokasikan tetapi tidak tepat sasaran. Namun yang jelas, hanya segelintir orang yang merasakan manfaat dari adanya dana tersebut. Selebihnya masyarakat hidup dengan mengandalkan kerja keras pantang menyerah menghidupi dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Apakah 20 tahun usia damai masih tergolong muda bagi sebuah bangsa dalam membangun dan membentuk cita-cita masa depannya? Dimana letak keistimewaan Aceh jika warga Aceh yang tinggal diluar Aceh saja ketika ingin pulang ke Aceh harus memilih transit terlebih dahulu di Malaysia demi mendapatkan tiket pesawat yang lebih murah.

Tingginya biaya untuk pesawat yang terbang langsung ke Aceh membuat orang-orang Aceh diluar sana berpikir dua kali ketika ingin kembali ke Aceh. Anehnya oleh pihak terkait, malah menganggap minat orang Aceh ke Malaysia semakin tinggi untuk berwisata atau bekerja. Padahal orang Aceh ke Malaysia hanya untuk sekedar transit, bukan untuk berwisata lebih-lebih lagi bekerja. Inilah potret masyarakat Aceh hari ini.

Melihat ke bagian yang lain, ada syari’at Islam yang ternyata masih belum terimplementasi sebagaimana mestinya. Orang-orang yang memamerkan auratnya dengan bangga masih berkeliaran di jalan-jalan, laki-laki dan wanita yang bukan mahram bermesraan hingga larut malam di tempat-tempat umum. Ruang publik seakan menjadi tempat unjuk kemaksiatan dan sarang dosa, kemanapun kaki melangkah di tanoh teulebeh ini mata tidak pernah selamat dari melihat hal-hal yang diharamkan.

Rupanya 20 tahun masih belum cukup untuk menginternalisasi nilai-nilai syari’at Islam dengan benar ke dalam kehidupan masyarakat. Aceh masih terlalu sibuk dengan simbol dan lupa pada substansi. Ketika di sebut daerah istimewa kita bangga dengan adanya hak menjalankan syari’at Islam, kita bangga dengan adanya otsus, kita bangga menjadi satu-satunya provinsi yang bisa mengikutsertakan partai lokal dalam kontestasi politik. Namun kita melupakan substansi dari semua itu, sejauh mana sudah keistimewaan yang diberikan mengubah wajah Aceh menjadi lebih baik hari ini?

Padahal keistimewaan yang diperoleh Aceh merupakan hasil dari kesepakatan damai 20 tahun silam. Menjaga perdamaian sangatlah penting, namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana agar poin-poin dari hasil perdamaian yang tertuang di dalam Mou Helsinki dapat dijalankan sebagaimana mestinya.

Dalam hal ini dibutuhkan kesadaran semua pihak mulai dari kalangan atas hingga bawah. Aceh tidak pernah kekurangan potensi, bangsa yang kaya dengan sumber daya alamnya ini juga tidak pernah kosong dari tokoh-tokoh hebat yang lahir menghiasi sejarah tanah di ujung paling barat pulau Sumatra. Dari kalangan ulama sebut saja ada Abuya Mudawali yang menjadi pencetak kader ulama di Aceh, di kalangan tokoh politik lokal Aceh pernah punya Hasan Tiro; seorang senator pejuang kemerdekaan Aceh yang begitu disegani dan dikagumi hingga kini.

Hari ini nilai-nilai semangat yang diajarkan dan ditanamkan baik oleh Abuya Mudawali ataupun Hasan Tiro mulai pudar dan terkelupas dari diri orang Aceh. Melihat kondisi Aceh hari ini yang begitu memprihatinkan membuat rakyat bertanya-tanya “Apa yang sedang dilakukan dan diperjuangkan oleh para elit politik di Aceh hari ini?”. Seperti yang biasanya di gaungkan, “Melakukan sesuatu demi kepentingan rakyat”. Semoga para pemimpin di Aceh masih terus hidup untuk memenuhi hak-hak rakyat, bukan hidup untuk memenuhi isi rekening dan memperkaya diri sendiri.

Sudah cukup Aceh menderita dengan konflik berkepanjangan di masa lalu. Sekarang sudah saatnya semua pihak dari kalangan ulama, umara dan rakyat biasa bekerja sama untuk merawat Aceh. Menjadi Aceh mulia, makmur dan sejahtera sebagaimana cita-cita para leluhur pejuang masa lalu. Membuang ego, menyudahi konflik kepentingan antar kelompok dan merajut persatuan adalah kunci keberhasilan untuk meraih masa depan yang gemilang. []

Previous Post

Marak Hubungan Seks Sesama Jenis Picu Lonjakan Kasus HIV di Aceh

Next Post

Yahwa Dorong Madrasah di Aceh Besar Optimalkan Penerapan Belajar Sistem Inklusi

Next Post
Yahwa Dorong Madrasah di Aceh Besar Optimalkan Penerapan Belajar Sistem Inklusi

Yahwa Dorong Madrasah di Aceh Besar Optimalkan Penerapan Belajar Sistem Inklusi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Teuku Rahmatsyah Jadi Kajati Baru Aceh

Teuku Rahmatsyah Jadi Kajati Baru Aceh

23/07/2026
Ramlan, Pemilik Toko Emas Baru Serahkan Zakat Tijarah ke Baitul Mal Abdya

Ramlan, Pemilik Toko Emas Baru Serahkan Zakat Tijarah ke Baitul Mal Abdya

23/07/2026
Mahasiswa KKN USK Kelompok 11 Gelar Home Visit, Berikan Pemeriksaan Glukosa Darah dan Tekanan Darah Gratis bagi Warga Cut Langien

Mahasiswa KKN USK Kelompok 11 Gelar Home Visit, Berikan Pemeriksaan Glukosa Darah dan Tekanan Darah Gratis bagi Warga Cut Langien

23/07/2026
DEMA FSH UIN Ar-Raniry Luncurkan Program Desa Binaan Enam Gampong di Lhoong

DEMA FSH UIN Ar-Raniry Luncurkan Program Desa Binaan Enam Gampong di Lhoong

23/07/2026
Timnas Putri Indonesia Juara Piala AFF Wanita usai Cukur Laos 5-0

Timnas Putri Indonesia Juara Piala AFF Wanita usai Cukur Laos 5-0

23/07/2026

Terpopuler

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

21/07/2026

[Opini] Menatap Aceh Pasca Damai

Kapaloe, Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur

STAI Tgk. Chik Pante Kulu dan Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh Bangun Kolaborasi Penguatan Tridarma Perguruan Tinggi

Rp4,65 Miliar Dana Umat Siap Disalurkan, Baitul Mal Pidie Perketat Verifikasi demi Cegah Salah Sasaran

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com