Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] 20 Tahun Damai, Transformasi GAM: dari Kamoe Keu Awak Nyan

redaksi by redaksi
16/08/2025
in Opini
0
Mualem Himbau Tak Ada Pengibaran Bulan Bintang di 4 Desember 2024

Foto merdeka.com

Oleh Teungku Mustafa. Penulis adalah warga biasa yang menyukai catatan sejarah Aceh.

SUDAH dua puluh tahun Aceh berada dalam damai. Penandatangan kesepakatan perjanjian di Helsiki atau yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki menutup konflik berkepanjangan di Aceh.

Ada banyak kesepakatan yang terjalin dalam MoU Helsinki yang dikemudian hari melahirkan UUPA. Salah satunya diatur keberadaan dana Otsus dari 2 persen hingga satu persen hingga 2027 mendatang.

Ini seolah kompensasi dari pemotongan senjata para kombatan serta menerima ideologi Pancasila serta NKRI harga mati.

Dana ini tentu tak sedikit. Setiap tahunnya mencapai triliunan. Dalam jejak digital disebutkan, ada seratusan triliun setiap tahunnya kuncuran Otsus untuk Aceh yang hingga kini seolah raib ditelan bumi.

Di awal damai, keberadaan para kombatan GAM seolah menjadi prioritas bagi pusat.

“Apapun diberikan, asal jangan merdeka.” Begitu persepsi para elit di Jakarta saat itu.

Makanya di awal damai, ketimpangan di lapangan menjadi hal yang lumrah ditemukan. Para penegak hukum, jika kita mau jujur, para fase 2005 hingga 2010, juga terkesan tutup mata jika ada pelanggaran yang pelakunya adalah oknum mantan kombatan.

Jakarta tak ingin konflik di Aceh terulang.

Kemudian bagi masyarakat, keinginan GAM berdamai juga membuat mereka tampil seolah pahlawan pasca damai. Konflik berkepanjangan yang membuat masyarakat risau antara hidup dan mati setiap harinya. Tidur dihantui letusan senjata serta mencari rejeki untuk keluarga was-was, terutama di daerah basis konflik.

Maka ketika damai terjadi, GAM mendapat posisi yang mulia di hati masyarakat. Banyak keluarga yang seolah ‘naik level’ pasca damai karena memiliki kerabat atau anggota keluarga yang menjadi anggota GAM.

Saat itu, para kombatan menjadi ‘awak kamoe’ dalam tutur ke-Aceh-an. GAM seolah-olah menjelma menjadi milik Aceh. Sebuah kebanggaan sekaligus simbol perlawanan Aceh terhadap Jakarta.

Namun dua puluh tahun yang berlalu bukanlah waktu yang sebentar. Mereka yang lahir per 15 Agustus 2005 kini tepat berusia 20 tahun serta telah dewasa. Demikian juga dengan para mantan kombatan di Aceh. Mereka kini berusia rata-rata di atas 40 tahun.

Banyak tokoh GAM yang telah meninggal dunia. Hanya satu dua yang masih hidup.

Usai damai, salah satu persoalan serius adalah transformasi kombatan GAM menjadi masyarakat sipil di Aceh. Ternyata kucuran ratusan triliun Otsus Aceh belum mampu membuat GAM beralih menjadi sipil biasa.

20 tahun berlalu, banyak kombatan GAM hingga kini masih hidup di bawah garis kemiskinan di Aceh. Banyak keluarga para syuhada kombatan GAM yang morat marit karena kurangnya perhatian dari para elit.

Lantas muncul pertanyaan, kemana ratusan triliun dana Otsus yang mengalir di Aceh? Apakah dana tersebut benar-benar mengalir ke anggota paling bawah? Ini belum lagi dana yang mengalir dari BRR dan BRA pasca damai untuk para kombatan GAM. Jumlahnya tentu tak jauh dari Otsus.

Dari awak kamoe keu awak nyan.

Elit GAM setiap tahun, atas nama ‘demi perjuangan, yatim piatu konflik’ mendapat kucuran dana puluhan miliar setiap tahun. Awalnya, masyarakat menganggap wajar dan pantas agar ketimpangan di Aceh bisa selesai. Namun 20 tahun berlalu, ternyata banyak kombatan di lapangan masih morat marit serta hidup miskin. Demikian juga dengan janda para syuhada kombatan GAM yang meninggal selama konflik.

Realita ini benar benar miris. Seolah-olah ‘perjuangan dan kombatan GAM’ menjadi komoditi untuk meraup rupiah. Tapi kucurannya tak sampai ke bawah.

Keadaan ini tak membuat elit GAM sadar akan keadaan. Hingga stigma di masyarakat kemudian mulai berubah dari ‘awak kamoe’ menjadi ‘awak nyan.’

Elit GAM tak pernah benar-benar serius membuat transformasi GAM menjadi sipil biasa di Aceh. Tak juga benar-benar memperhatikan kesejahteraan para anggota kombatan di Aceh. Seolah-olah ‘rasa lapar’ para kombatan sengaja dibiarkan agar para elit bisa beralasan meraup rupiah setiap tahunnya.

Kini 20 tahun damai sudah berlalu. Dua puluh tahun sudah kita bicara soal kesejahteraan para kombatan. Miliaran dana setiap tahunnya dikucurkan tapi para kombatan GAM masih hidup sederhana.

Tepat 20 tahun damai kemarin, Muzakir Manaf sebagai gubernur Aceh yang juga panglima GAM kembali bicara soal uang dan kesejahteraan para anggota GAM. Kali ini, wacana dana abadi untuk kombatan berjumlah Rp1,5 triliun. Yang bersangkutan, kabarnya akan menyurati presiden terkait dengan wacana ini.

Dibalik pernyataan ini, sebenarnya ada yang dilupakan atau mungkin sengaja dilupakan. Bahwa sudah 20 tahun kita bicara soal uang dan kesejahteraan para kombatan di tingkat bawah juga masih gagal diraih.

Sementara di luar kombatan, Aceh sendiri masih berstatus termiskin di Sumatera. Lapangan kerja di Aceh masih sangat sulit. Banyak para pemuda di Aceh berstatus pengangguran. Kemudian keluar Aceh dan terlibat dalam jaringan sabu serta tramadol di Jakarta.

Kebiasaan para elit GAM bicara soal uang hanya membuat masyarakat biasa antipati. Kapan Aceh menjadi milik semua lapisan? Kapan elit GAM bisa sejahtera sehingga masyarakat biasa mendapat perhatian dari pemerintah.

 

Previous Post

Bupati Al- Farlaky Kukuhkan 75 Anggota Paskibraka

Next Post

AS Setop Beri Visa untuk Kunjungan Orang-orang dari Gaza

Next Post
AS Setop Beri Visa untuk Kunjungan Orang-orang dari Gaza

AS Setop Beri Visa untuk Kunjungan Orang-orang dari Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Gempa M 7,8 Guncang Filipina Berpotensi Tsunami

Lagi, Gempa Magnitudo 4.0 Guncang Sinabang

15/06/2026
Empat Orang Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Pidie

Empat Orang Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Pidie

15/06/2026
Karhutla di Aceh Barat Meluas Jadi 34,1 Hektare

Karhutla di Aceh Barat Meluas Jadi 34,1 Hektare

15/06/2026
Ketua MWA USK Dorong Perluasan Program Pengabdian Masyarakat FK USK ke Seluruh Wilayah Terdampak Bencana di Aceh

Ketua MWA USK Dorong Perluasan Program Pengabdian Masyarakat FK USK ke Seluruh Wilayah Terdampak Bencana di Aceh

15/06/2026
Tiga Desa di Aceh Barat Mulai Terendam Banjir Luapan

BPBD Siagakan Personel Hadapi Banjir Luapan di Aceh Barat

15/06/2026

Terpopuler

Mualem Himbau Tak Ada Pengibaran Bulan Bintang di 4 Desember 2024

[Opini] 20 Tahun Damai, Transformasi GAM: dari Kamoe Keu Awak Nyan

16/08/2025

Di Balik WTP, BPK Bongkar Dana BOSP Rp312 Juta Bermasalah di Pidie Jaya

Sambut HUT ke-19 Pidie Jaya, Pemkab Luncurkan Twibbon Resmi untuk Masyarakat

Rp800 Juta untuk HUT Pidie Jaya: Sederhana Bagi Pemkab, Bagaimana Menurut Rakyat?

Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com