Aceh Selatan — Dampak bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera mulai terasa kuat di Aceh Selatan. Masyarakat kini tidak hanya menghadapi gangguan aktivitas akibat listrik yang belum pulih, tetapi juga kesulitan mendapatkan BBM dan bahan pokok. Kondisi diperparah dengan munculnya permainan harga oleh oknum pedagang di beberapa titik.
Di Tapaktuan, situasi paling terasa. Selain aliran listrik yang masih padam, warga dihadapkan pada kelangkaan BBM selama beberapa hari terakhir. Di tingkat eceran, BBM dijual dengan harga yang melambung tak wajar. Dimana Pertalite isi 1,5 liter yang bahkan tidak penuh—dijual seharga Rp40.000 hingga Rp50.000 per botol. Sementara botol isi 500 mililiter menembus Rp20.000.
Tak hanya itu, harga bahan pokok ikut meroket. Cabai merah di pasar setempat tercatat mencapai Rp140.000 per kilogram. Lonjakan harga ini semakin mencekik warga yang sudah berjuang melewati masa sulit akibat dampak bencana.
Meski masyarakat menyambut baik imbauan Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, agar pedagang tidak menaikkan harga, mereka berharap pernyataan tersebut diikuti dengan tindakan tegas di lapangan. Salah satu warga Tapaktuan, Nurhasanah, menyampaikan keluhan sekaligus harapan mewakili suara masyarakat.
“Kami senang pak bupati sudah mengingatkan pedagang. Tapi jangan hanya jadi pernyataan saja. Kami butuh tindakan nyata. Harga barang di sini sudah tidak masuk akal. Tolong ada pengawasan yang benar-benar dilakukan, bukan sekadar imbauan,” ujarnya, (30/11/2025).
Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi warga semakin terjepit akibat kenaikan harga yang terjadi setelah bencana di Aceh dan Sumatera.
“Kami mohon pak bupati turun langsung melihat bagaimana kondisi kami di Tapaktuan. Banyak warga yang tidak terdampak banjir secara langsung tapi ikut menderita karena listrik padam, BBM tidak ada, dan harga barang naik semua. Kami butuh solusi cepat, kami butuh pemerintah hadir,” tegas Nurhasanah.
Warga berharap pemerintah daerah bergerak cepat memulihkan pasokan listrik, menormalkan distribusi BBM, serta menindak oknum yang memainkan harga. Bagi mereka, kehadiran pemerintah bukan hanya soal bantuan, tapi tentang memastikan kehidupan tetap berjalan di tengah situasi darurat.










