Tamiang — Universitas Syiah Kuala (USK) terus menunjukkan komitmennya dalam merespons bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Tidak hanya menyalurkan bantuan logistik dan layanan darurat, USK melalui program USK Respon Senyar juga memberikan layanan trauma healing bagi anak-anak korban banjir yang dilaksanakan mulai awal Desember 2025 hingga 30 Desember 202.
Program trauma healing ini merupakan bagian dari upaya pemulihan psikososial pascabencana, yang difokuskan pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan terdampak secara psikologis. Sebelumnya, USK telah lebih dulu menyalurkan bantuan logistik tahap awal, menyediakan air bersih, layanan pengobatan, serta dukungan alat telekomunikasi bagi masyarakat terdampak.

Ketua Tim Trauma Healing USK, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si, menegaskan bahwa intervensi psikologis pada anak pascabencana merupakan kebutuhan mendesak yang tidak boleh diabaikan.
“Banjir tidak hanya merusak rumah dan lingkungan fisik, tetapi juga meninggalkan jejak trauma yang dalam pada anak-anak. Ketakutan, kecemasan, gangguan tidur, hingga perubahan perilaku sering kali muncul setelah bencana. Trauma healing menjadi sangat penting untuk membantu anak-anak memulihkan rasa aman, mengekspresikan emosi, dan kembali menjalani proses tumbuh kembang secara sehat,” ujar Dr.Okta.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini disesuaikan dengan usia dan kondisi psikologis anak, melalui metode bermain, menggambar, bercerita, aktivitas kelompok, serta permainan edukatif yang dirancang untuk membangun kembali rasa percaya diri dan keceriaan anak-anak.
Kegiatan trauma healing ini melibatkan mahasiswa lintas disiplin, khususnya dari Program Studi Psikologi, Bimbingan dan Konseling, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USK. Mahasiswa yang terlibat merupakan mereka yang berasal dari wilayah setempat atau memiliki pemahaman kuat terhadap konteks sosial-budaya Aceh Tamiang.
“Kami sengaja melibatkan mahasiswa dan pembina yang memahami adat, bahasa, dan karakter masyarakat lokal. Hal ini penting agar proses pendampingan berjalan lebih efektif, komunikatif, dan diterima dengan baik oleh anak-anak maupun keluarga mereka,” jelas Dr. Okta.
Selama pelaksanaan kegiatan, anak-anak tampak antusias dan gembira mengikuti setiap sesi. Tawa, ekspresi ceria, dan interaksi aktif menjadi pemandangan yang mendominasi lokasi kegiatan, mencerminkan mulai pulihnya kondisi emosional anak-anak setelah mengalami masa sulit akibat bencana banjir.
Program trauma healing ini juga mendapat perhatian langsung dari pimpinan universitas. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., turun langsung ke lapangan untuk memantau pelaksanaan kegiatan serta memberikan dukungan moral kepada tim dan relawan mahasiswa.
Selain itu, pemantauan juga dilakukan oleh Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil, selaku Coordinator of Geohazards Mitigation Division, serta Prof. Dr. Ir. Nasrul, S.T., M.T, Wakil Ketua Bidang Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK.
Kehadiran para pimpinan ini menunjukkan bahwa penanganan bencana oleh USK tidak hanya bersifat respons darurat, tetapi juga berbasis keilmuan, kemanusiaan, dan keberlanjutan pemulihan masyarakat.
Melalui program trauma healing ini, USK berharap anak-anak korban banjir Aceh Tamiang dapat kembali merasakan rasa aman, semangat belajar, serta optimisme untuk menatap masa depan, sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai institusi yang hadir dan bertanggung jawab di tengah krisis kemanusiaan.
Pelaksanaan trauma healing ini juga dipantau langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa penanganan anak korban bencana harus dilakukan secara menyeluruh dan berimbang.
“Anak-anak korban bencana bukan hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik semata, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mereka juga sangat membutuhkan sentuhan pada aspek psikologis. Tanpa pemulihan mental dan emosional, proses pemulihan jangka panjang akan berjalan tidak optimal,” kata Prof. Mustanir.










