Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Saleuem

Para ‘James Bond’ Aceh

redaksi by redaksi
21/01/2026
in Saleuem
0
Para ‘James Bond’ Aceh

Bagi semua kalangan umur, nama James Bond tentu bukanlah sesuatu yang asing di telinga. Ya, film seri James Bond adalah rangkaian film layar lebar produksi Inggris. Jika dihitung, dari era lawas hingga 2025, sudah ada sekitar 25  seri.

Film ini mengambarkan tokoh utama bernama James Bond sebagai karakter mata-mata fiktif yang diciptakan oleh penulis Ian Fleming pada tahun 1953. Dikenal dengan kode agen 007, ia bekerja untuk dinas intelijen Inggris, MI6.

Secara garis besar, semua seri James Bond selalu focus pada karakter si tokoh utama yang tampan, jago tembak menembak, penuh pertualangan, disukai para gadis cantik serta (maaf-red) seks liar.

Lantas apa hubungannya dengan Aceh? Padahal secara kultur kita berbeda dengan dunia barat.

Di Aceh, imajinasi tentang karakter James Bond mungkin juga diidolakan oleh hampir para pria dewasa.

Dimana, perang pura pura selama hampir dua decade dengan kematian sungguhan telah melahirkan banyak para pahlawan di era damai. Para pahlawan ini dikrabit menjadi idola dan kemudian menikahi para gadis cantik. Harta, takhta dan wanita.

Hal ini pula yang menyebarkan anak-anak di Aceh lebih senang ‘perang-perangan’ ketika hari raya tiba.

Di luar Aceh, image bahwa pemuda Aceh sebagai ‘tukang kawin’ juga cukup melekat selama hampir dua decade. Tak percaya? Silahkan merantau ke Jawa dan sekitar. Padahal sebelumnya, Aceh adalah daerah penghasil ulama dan juga santri dengan nilai nilai keagamaan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

Dua decade sebelumnya, setiap pria Aceh yang merantau adalah iman masjid serta guru agama di daerah orang. Namun kini, image Aceh lebih dikenal dengan ‘ganja, tramadol, dan tukang kawin.’

Kenapa hal ini bisa terjadi? Kita terlalu banyak mengimpor duta ‘james bond’ dibanding pria dengan karakter masjid keluar.

Demikian juga dengan sikap dan para pemimpin yang terpilih di pilkada Aceh setelah damai. Pemimpin yang harusnya menjadi suri teladan bagi masyarakat soal etika dan normal sering kali abai. Imbasnya adalah kondisi saat ini.

Para pemimpin yang lahir di Aceh setelah damai, kecuali Doto Zaini, adalah para ‘James Bond.’

Alhasil, pemimpin Aceh saat ini lebih memilih menjadi sosok ‘james bond’ dibanding suri teladan rakyat. Yang secara kultur dan budaya berbeda dengan dunia barat.

Menutup nafsu liar dibalik topeng syariat. Agama sering dijadikan tameng untuk urusan ‘selangkangan.’ Mengabaikan etika serta moral. Sementara korupsi dibiarkan leluasa terjadi dengan alasan menjaga kop dan organisasi.

Inilah kondisi saat ini. Rakyat masih berjibaku lumpur. Ribuan warga masih bertahan di tenda pengungsian. Sementara pemimpin sibuk merebut hati para gadis cantik.

Saat rakyat protes, sebahagian pengikut akan berkoar,’semua sesuai tuntunan syariat.’

Seharusnya, tak masalah Aceh dicap provinsi miskin di Indonesia. Asal jangan miskin moral dan etika. Karena moral dan adab juga bagian dari ajaran agama.

 

Previous Post

Mendagri Tinjau Korban Banjir di Pidie Jaya

Next Post

Lukisan Gua Tertua Ditemukan di Pulau Muna Sulawesi, Segini Usianya

Next Post
Lukisan Gua Tertua Ditemukan di Pulau Muna Sulawesi, Segini Usianya

Lukisan Gua Tertua Ditemukan di Pulau Muna Sulawesi, Segini Usianya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

KAMMI Aceh Besar Laksanakan RAPIMDA: Konsolidasi Kader Memperkuat Arah Gerak untuk Kemaslahatan Masyarakat

KAMMI Aceh Besar Laksanakan RAPIMDA: Konsolidasi Kader Memperkuat Arah Gerak untuk Kemaslahatan Masyarakat

15/06/2026
Ancaman Terhadap Amien Rais, PW Muhammadiyah Aceh: Bukan Zamannya Lagi Premanisme Mengatur Hukum

Hilirisasi Darat Blok Andaman: Dr. Nasrul Zaman Desak Optimalisasi KEK Arun Demi Efisiensi Bisnis yang Berkeadilan

15/06/2026
Siswi MAS Chiek Oemar Diyan, Hafizah 30 Juzz Putri Aceh Selatan Raih Prestasi Gemilang Lolos di ITB

Siswi MAS Chiek Oemar Diyan, Hafizah 30 Juzz Putri Aceh Selatan Raih Prestasi Gemilang Lolos di ITB

15/06/2026
Bupati Pidie Nonaktifkan Kadisdik dan Kepala BPBD, Sinyal Keras Evaluasi Kinerja Pejabat

Bupati Pidie Nonaktifkan Kadisdik dan Kepala BPBD, Sinyal Keras Evaluasi Kinerja Pejabat

15/06/2026
Gempa M 7,8 Guncang Filipina Berpotensi Tsunami

Lagi, Gempa Magnitudo 4.0 Guncang Sinabang

15/06/2026

Terpopuler

Para ‘James Bond’ Aceh

Para ‘James Bond’ Aceh

21/01/2026

Di Balik WTP, BPK Bongkar Dana BOSP Rp312 Juta Bermasalah di Pidie Jaya

Sambut HUT ke-19 Pidie Jaya, Pemkab Luncurkan Twibbon Resmi untuk Masyarakat

Bupati Pidie Nonaktifkan Kadisdik dan Kepala BPBD, Sinyal Keras Evaluasi Kinerja Pejabat

Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com