Banda Aceh – Menakar rencana pengelolaan gas bumi di Lapangan Tengkulo WK South Andaman, Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Nasrul Zaman, menyatakan bahwa mengalirkan gas ke darat menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe adalah satu-satunya pilihan rasional yang menguntungkan semua pihak.
Dari aspek teknis ekonomi (techno-economic), Nasrul Zaman memaparkan bahwa Lhokseumawe telah memiliki warisan infrastruktur energi kelas dunia eks-PT Arun NGL, mulai dari tangki penyimpanan LNG raksasa, pelabuhan laut dalam (deep-water seaport), hingga fasilitas regasifikasi dan sistem perpipaan yang matang.
Memanfaatkan infrastruktur eksisting ini sebagai Onshore Processing Facility (OPF) secara logis akan menghemat biaya kapital awal (capital expenditure) kontraktor dibandingkan membangun fasilitas FPSO baru di laut dalam yang berisiko tinggi.
Lebih lanjut, Nasrul menjelaskan bahwa kepastian pasokan gas di darat akan memicu economic multiplier effect yang masif. Gas ini akan menjadi darah baru bagi reaktivasi industri strategis seperti PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan menarik investasi petrokimia baru yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja terdidik setempat.
“Jika dialirkan ke darat, raksasa tidur KEK Arun akan bangkit. Sebaliknya, jika diperas lewat FPSO di laut, efek domino ini menguap dan daratan Aceh tetap sunyi dari pembangunan. Saya menyerukan mahasiswa Aceh bergerak mengawal isu ini; hilirisasi darat di KEK Arun adalah harga mati bagi masa depan ekonomi generasi muda Aceh,” pungkasnya.









