Banda Aceh – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK) kembali menegaskan perannya dalam pengabdian kepada masyarakat. Sebanyak 50 mahasiswa resmi dilepaskan oleh Dekan FISIP USK, Prof. Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum., untuk melaksanakan Program Pengabdian Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program pengabdian tersebut akan berlangsung selama 20 hari penuh, terhitung sejak 5 hingga 25 Februari 2026, dengan lokasi kegiatan di Desa Lubok Mane, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Wilayah ini merupakan salah satu kawasan terdampak bencana banjir dan banjir bandang yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nasional Kemendiktisaintek dalam mendukung pemulihan sosial, lingkungan, dan pendidikan masyarakat pascabencana, yang tidak hanya dilaksanakan di Aceh, tetapi juga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Ketua Program Pengabdian Berdampak dari FISIP USK, Maimun, S.Pd., M.Soc.Sc., menjelaskan bahwa tim mahasiswa akan menjalankan dua program pemulihan utama yang dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat di lokasi pengabdian.
“Pertama, kami melaksanakan program pemurnian air bersih dan pipanisasi, sebagai respons atas terganggunya akses air layak konsumsi pascabanjir. Kedua, kami fokus pada pemulihan ekosistem pendidikan, melalui kegiatan penguatan literasi dan numerasi, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak dan warga terdampak,” ujar Maimun.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya bertujuan memulihkan kondisi fisik dan pendidikan masyarakat, tetapi juga memperkuat kembali ketahanan sosial dan mental warga setelah mengalami bencana.
“Kami ingin kehadiran mahasiswa benar-benar memberi dampak nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial,” katanya.
Sementara itu, Dekan FISIP USK Prof. Dr. Mahdi Syahbandir dalam sambutannya menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan pilar penting tridarma perguruan tinggi. Menurutnya, mahasiswa harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu membaca persoalan sosial dan menawarkan solusi berbasis keilmuan.
“Mahasiswa FISIP tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga diuji kepekaan sosialnya di tengah masyarakat. Program ini menjadi ruang pembelajaran nyata tentang empati, solidaritas, dan tanggung jawab akademik dalam situasi krisis,” ujar Mahdi.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan yang digunakan harus menghormati kearifan lokal dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat desa agar hasil program dapat berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, FISIP USK berharap tercipta model pengabdian mahasiswa yang berdampak langsung, sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Selain itu, program ini diharapkan mampu membantu mempercepat pemulihan kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat Desa Lubok Mane pascabencana, serta menjadi inspirasi bagi pelaksanaan pengabdian serupa di wilayah terdampak lainnya.












