REDELONG – Arus lalu lintas di ruas jalan nasional Bireuen–Takengon, tepatnya di Kampung Wih Porak, Kecamatan Pintu Rime Gayo, akhirnya kembali normal pada Selasa 7 April 2026.
Namun, di balik kembalinya pergerakan kendaraan, tersimpan ancaman serius yang belum sepenuhnya teratasi pascabencana melanda wilayah daratan tinggi Tahon Gayo.
Banjir susulan terjadi di wilayah Gayo, Luapan Sungai Wih Porak yang mengganas pada Senin sore kemarin, sekitar pukul 16.30 WIB tak hanya merendam kawasan sekitar, tetapi juga menggerus badan jalan hingga memperparah kerusakan infrastruktur.
Saat ini, pengendara masih harus melintasi dua jembatan darurat jenis Bailey, sebuah solusi cepat yang bersifat sementara dan rentan.
Di waktu bersamaan, kondisi serupa juga terjadi di jalur lintas KKA. Sejumlah titik ruas badan jalan dilaporkan masih rusak, dengan kontur tanjakan curam yang menuntut kewaspadaan ekstra dari para pengguna jalan.
Perbaikan menyeluruh dinilai mendesak pada pihak terkait agar akses menuju wilayah Aceh Tengah tidak terus berada dalam bayang-bayang risiko hingga ancaman nyawa yang mengintai bagi pengendara roda dua maupun empat.
Desakan pun menguat agar Pemerintah pusat, Pemerintah Aceh dan di dua Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah segera melakukan normalisasi sungai yang terdampak banjir bandang pada akhir 2025 lalu.
Pendangkalan dan penyempitan aliran sungai akibat material sisa banjir disebut menjadi pemicu utama berulangnya bencana.
“Jika tidak ditangani serius, ini hanya soal waktu sebelum bencana berikutnya terjadi,” demikian kekhawatiran yang disampaikan berbagai pihak.
Sementara itu, di waktu bersamaan di Aceh Tengah banjir bandang juga kemabli melanda wilayah Tanoh Gayo Aceh Tengah dan Bener Meriah tersebut pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur sejak sore hingga malam.
Arus deras menghantam jembatan darurat Berawang Gajah hingga ambruk, melumpuhkan akses transportasi menuju empat desa: Burlah, Kekuyang, Buge Ara, dan Bintang Pepara.
Dua hari sebelumnya, akses jalan nasional di titik yang sama di Wih Porak bahkan sempat lumpuh total akibat banjir dan longsor susulan yang menerjang kawasan dataran tinggi Tanoh Gayo.
Menanggapi situasi ini, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Bener Meriah, Muhammad Dahlan, mendesak pemerintah pusat melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera serta DPR RI untuk segera turun tangan.
“Jangan tunggu korban selanjutnya. Jalan ini menyangkut keselamatan dan denyut ekonomi masyarakat di wilayah Gayo. Pemerintah harus segara ambil tindakan cepat, tepat, dan nyata,” tegas Dahlan.
Ia memperingatkan kondisi Jalan KKA dan ruas Bireuen–Takengon yang saban hari semakin memperhatikan dan terus memburuk.
Karena itu, YARA kembali mendesak Dinas PUPR Aceh dan Satgas Nasional PRR untuk segera mengambil langkah konkret.
Tak hanya itu, Dahlan turut menagih komitmen Kasatgaswil Rehab Rekon Aceh, Safrizal ZA, terkait percepatan pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur dasar lainnya di wilayah Gayo.
Menurutnya, hingga kini proses rehabilitasi dan rekonstruksi terkesan berjalan di tempat, jauh dari harapan masyarakat yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan di jalur vital tersebut.










