Aceh Tengah — Fenomena tak biasa terjadi di wilayah dataran tinggi Gayo pasca bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa waktu lalu. Sejumlah komoditas pertanian justru mengalami peningkatan hasil panen secara signifikan, mulai dari durian hingga kopi.
Sebelumnya, komoditas durian lebih dulu menunjukkan lonjakan produksi dengan masa panen yang lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini terpantau di sejumlah daerah penghasil durian seperti Durian Jamat, serta beberapa kampung di Kecamatan Ketol, di antaranya Bergang, Kekuyang, Bah, Pantan Reduk, dan wilayah sekitarnya.
Memasuki musim kopi, fenomena serupa kembali terjadi. Hampir seluruh wilayah penghasil kopi di dataran tinggi Gayo mengalami peningkatan produksi. Namun di balik melimpahnya hasil panen, para petani justru dihadapkan pada persoalan baru, yakni kekurangan tenaga kerja untuk memetik kopi.
Akibatnya, tidak sedikit buah kopi yang terpaksa dibiarkan rontok karena tidak sempat dipanen.
Kondisi ini dipicu oleh panen yang terjadi secara serentak di hampir semua wilayah, sehingga petani lebih fokus mengelola kebunnya masing-masing.
Di sisi lain, buruh petik kopi yang biasanya didatangkan dari luar daerah seperti Aceh Tamiang, tahun ini tidak dapat hadir karena masih terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 26 November lalu.
Situasi ini bahkan memunculkan fenomena baru di kalangan petani, yakni dibukanya lowongan kerja buruh petik kopi secara luas, sesuatu yang sebelumnya jarang terlihat di wilayah dataran tinggi Gayo.
Meski demikian, melimpahnya hasil panen tetap menjadi berkah yang patut disyukuri. Para petani berharap pemerintah dapat hadir memberikan solusi, baik dalam hal penyediaan tenaga kerja maupun pengendalian harga, agar hasil panen yang melimpah tidak justru berdampak pada penurunan nilai jual di tingkat petani.










