Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Teuku Cut Ali, Jejak Gerilya dari Aceh Selatan

redaksi by redaksi
03/05/2026
in Sejarah
0
Teuku Cut Ali, Jejak Gerilya dari Aceh Selatan

Kuburan Teuku Cut Ali di Suaq Bakung, Aceh Selatan Kecamatan Kluet Selatan.

Oleh: Syahrul Amin (PMII Aceh)

NAMA Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien telah lama mengisi halaman utama sejarah perjuangan rakyat Aceh. Namun, di luar narasi besar itu, terdapat sosok lain yang hidup dalam ingatan lokal, tetapi belum mendapat tempat dalam historiografi nasional: Teuku Cut Ali.

Di wilayah Kluet Selatan, Bakongan, hingga Trumon, nama Teuku Cut Ali masih kerap disebut dalam tuturan masyarakat. Ia dikenal sebagai pemimpin gerilya yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda pada dekade awal abad ke-20, terutama sekitar 1925–1927.

Sejumlah sumber lisan menyebutkan, Teuku Cut Ali diperkirakan lahir di kawasan Trumon pada akhir abad ke-19 dari latar keluarga bangsawan. Ia kemudian menyandang gelar Panglimo Sagoe, sebuah posisi strategis dalam struktur kepemimpinan perang tradisional Aceh, yang berperan mengoordinasikan perlawanan di tingkat wilayah.

Perlawanan yang dipimpinnya berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang. Di satu sisi, pasukan gerilya mengandalkan persenjataan sederhana dan dukungan masyarakat setempat. Di sisi lain, Belanda mengerahkan pasukan Marsose satuan elit dengan perlengkapan militer modern yang dirancang untuk menghadapi perang gerilya di Aceh.

Syahrul Amin (PMII Aceh)

Dalam beberapa catatan lokal, Teuku Cut Ali disebut terlibat dalam peristiwa yang menewaskan seorang perwira Belanda, Letnan Molenaar. Peristiwa itu diduga memperkuat intensitas pengejaran terhadap dirinya oleh aparat kolonial.

Tekanan terhadap jaringan perlawanan kemudian meningkat. Strategi militer Belanda tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga pendekatan non-militer, termasuk intimidasi terhadap warga dan pemberian imbalan bagi informan.

Situasi tersebut diduga berujung pada terbongkarnya lokasi persembunyian Teuku Cut Ali di kawasan Alue Beberang. Serangan mendadak pun dilakukan oleh pasukan kolonial di bawah pimpinan Kapten Gosenson.

Peristiwa itu menjadi titik balik.

Sejumlah tokoh lokal dilaporkan gugur dalam insiden tersebut, termasuk istri Teuku Cut Ali, Fatimah, yang disebut tengah mengandung. Nama lain yang kerap muncul dalam tuturan masyarakat antara lain Nyak Meutia binti Teuku Nago, Imam Sabil, dan Teuku Nago.

Dalam kondisi terdesak, Teuku Cut Ali tetap melakukan perlawanan sebelum akhirnya gugur di medan pertempuran.

Pasca-peristiwa itu, beredar berbagai versi mengenai perlakuan terhadap jasadnya. Sebagian sumber menyebutkan adanya tindakan kekerasan simbolik oleh pihak kolonial, termasuk pemisahan bagian tubuh sebagai bentuk teror psikologis kepada masyarakat. Namun, informasi ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui penelitian arsip dan sumber tertulis yang lebih komprehensif.

Hingga kini, belum terdapat keseragaman data terkait riwayat keluarga Teuku Cut Ali. Sebagian masyarakat meyakini ia tidak meninggalkan keturunan, sementara versi lain menyebutkan adanya garis keturunan yang tersebar di beberapa wilayah Aceh.

Ketiadaan dokumentasi resmi menjadi salah satu kendala utama dalam upaya penelusuran sejarah tokoh ini. Sebagian besar informasi masih bertumpu pada sejarah lisan yang diwariskan antar generasi.

Meski demikian, dalam konteks sejarah lokal, Teuku Cut Ali tetap dipandang sebagai simbol perlawanan masyarakat Aceh Selatan terhadap kolonialisme.

Upaya untuk mengangkat kembali peran tokoh-tokoh lokal mulai disuarakan oleh kalangan intelektual muda dan aktivis muda. Salah satunya disampaikan oleh Syahrul Amin, yang menilai pentingnya integrasi sejarah lokal ke dalam sistem pendidikan.

“Penguatan sejarah lokal perlu dilakukan, termasuk memasukkan kisah tokoh seperti Panglimo Rajo Lelo, Mat Sisir, Teuku Cut Ali, Teungku Raja Ankasah hingga Teuku Ali Usuf ke dalam materi pembelajaran tambahan Sekolah di mata pelajaran PKN. Ini penting agar generasi muda memahami konteks perjuangan di daerahnya,” ujarnya.

Sejumlah pihak juga mendorong penelitian lebih lanjut berbasis arsip kolonial dan kajian akademik untuk memperkuat legitimasi historis tokoh-tokoh tersebut.

Tanpa upaya sistematis, bukan tidak mungkin narasi tentang Teuku Cut Ali akan tetap berada di pinggiran hidup dalam ingatan masyarakat, tetapi absen dari catatan resmi negara.

Padahal, sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tokoh-tokoh yang telah diakui secara nasional, tetapi juga oleh mereka yang berjuang dalam senyap di daerah-daerah.

Kuburan Teuku Cut Ali di Suaq Bakung, Aceh Selatan Kecamatan Kluet Selatan.
Previous Post

Dua Terduga Pembunuh Lansia di Pekanbaru Ditangkap di Aceh Tengah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Teuku Cut Ali, Jejak Gerilya dari Aceh Selatan

Teuku Cut Ali, Jejak Gerilya dari Aceh Selatan

03/05/2026
Dua Terduga Pembunuh Lansia di Pekanbaru Ditangkap di Aceh Tengah

Dua Terduga Pembunuh Lansia di Pekanbaru Ditangkap di Aceh Tengah

03/05/2026
Spanyol dan Brasil Rilis Pernyataan Bersama Kecam Israel soal Flotilla

China Lawan Sanksi AS ke Lima Perusahaan yang Beli Minyak Iran

03/05/2026
Spanyol dan Brasil Rilis Pernyataan Bersama Kecam Israel soal Flotilla

Spanyol dan Brasil Rilis Pernyataan Bersama Kecam Israel soal Flotilla

03/05/2026
Peringati Hardiknas, SMAN 8 Takengon Unggul Lakukan Aksi Nyata Peduli Lingkungan

Peringati Hardiknas, SMAN 8 Takengon Unggul Lakukan Aksi Nyata Peduli Lingkungan

02/05/2026

Terpopuler

JKA; Diluncurkan Masa Irwandi, Ditiru Nasional, Serta ‘Dipangkas’ Era Mualem

544.626 Warga di Aceh Resmi Dicoret dari Penerima Manfaat JKA

02/05/2026

Abi Roni Terpilih secara Aklamasi di Musprov FPTI Aceh 2026 – 2030

Ziarah Sejarah dan Spiritualitas, Mahasiswa UIN Ar-Raniry Kunjungi Makam Diraja Brunei

Pembangunan KDMP di Aceh Barat Mangkrak, Pekerja Banyak yang Lari

Teuku Cut Ali, Jejak Gerilya dari Aceh Selatan

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com