Tangis Hartati Musirun Mukmin tumpah saat menceritakan musibah banjir bandang di Aceh Tamiang yang turut menghancurkan rumahnya. Bahkan hingga saat ini, ia tidak tahu nasib rumah yang sudah tertutup material banjir dan longsor setinggi lehernya itu, mau diapain.
Hartati mengaku tak punya uang untuk memperbaiki rumah warisan orang tuanya tersebut. Namun ia bersyukur niat berhaji tetap terlaksana di tengah musibah yang dialaminya.
“Uang enggak ada untuk perbaiki rumah. Tapi dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, Pak, saya bisa kemari,” kata Hartati sambil meneteskan air mata, saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di kawasan Jarwal, Makkah, Selasa (12/5/2026).
Selain tak ada uang, seluruh dokumen kependudukannya hilang tak tersisa. KTP, KK, termasuk dokumen pendaftaran hajinya sudah tidak diketahui keberadaannya.
“Air itu tiba-tiba langsung sreeet (menerjang) gitu naik. Jadi kami enggak bisa lagi sempat nyingkirkan (menyelamatkan). Barang tuh udah langsung habis, jadi nggak bisa diamankan lagi,” ungkap Hartati.
Beruntung, datanya di Kemenhaj dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil masih ada. Sehingga Hartati bisa mendapatkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk berangkat haji.
Hartati pun bersyukur punya tiga anak yang berbakti. Berkat patungan ketiga anaknya ini, ia bisa melunasi setoran sebesar Rp17 juta untuk naik haji tahun ini. Meski ia tidak punya apa-apa, tapi karena panggilan Allah, akhirnya Hartati bisa melangkahkan kakinya di Tanah Haram.
“Karena Allah, kalau saya sendiri enggak ada (duit), Pak. Rumah aja dikasih warisan sama orang tua belum bisa saya perbaiki,” kata perempuan yang ditinggal wafat sang suami sejak 2014 ini.
Sejatinya, Hartati mendaftar haji bersama suaminya, Muhammad Sofyan. Namun takdir berkata lain, sang suami wafat pada 2014. Sejak saat itu, ia membesarkan anak-anaknya seorang diri.
Pengorbanan Hartati mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan ikhlas, kini dibalas Allah dengan memanggilnya ke Tanah Suci. Ia bisa melunasi setoran haji berkat biaya yang dikumpulkan oleh ketiga anaknya.
Perempuan berusia 56 tahun ini bersiap menunggu puncak haji. Wukuf di Padang Arafah, menengadahkan tangan memohon pertolongan dan ampunan Yang Maha Kuasa. Ia merasa sangat bersyukur atas nikmat yang ia dapatkan.
“Saya bersyukur, mungkin ada di balik itu Allah berikan rezeki buat saya. Hanya itu, Pak. Entah mungkin saya pulang dari sini saya dapat rezeki, entah rezeki apa saya enggak tahu, rahasia Allah, Pak. Cuma saya yakin saya pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah,” harapnya.
Kini, Hartati menjadi salah satu dari 5.426 jemaah haji dari Provinsi Aceh yang sebagian besar sudah sampai di Tanah Suci. Mereka terbagi dalam 14 kelompok terbang (kloter), 8 (delapan) diantaranya telah tiba di Arab Saudi melalui Bandara Madinah dan Jeddah.











