Banda Aceh – Dinas Perhubungan Aceh menilai rencana pengembangan perkeretaapian di Aceh perlu dikaji ulang secara komprehensif agar pembangunan jalur kereta api dapat dipercepat dan segera memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal mendorong Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk memberikan perhatian serius terhadap pembangunan kereta api di Aceh guna mendukung mobilitas barang dan penumpang.
“Kereta api merupakan moda transportasi yang paling efisien sehingga perlu segera dikembangkan untuk mendukung konektivitas dan perekonomian Aceh,” ujar Teuku Faisal dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Ia menekankan pentingnya evaluasi dan kaji ulang jaringan kereta api Aceh mengingat tingginya dinamika di lapangan, mulai dari perubahan tata ruang wilayah, pembangunan infrastruktur, hingga dampak bencana alam.
Pemerintah pusat diketahui memprioritaskan pembangunan jaringan kereta api Aceh–Sumatra Utara, khususnya lintasan Aceh–Besitang, sebagai bagian dari program prioritas nasional untuk mengurangi ketimpangan infrastruktur dan menekan biaya logistik.
Program tersebut masuk dalam percepatan pengembangan jaringan transportasi Trans Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi yang menjadi fokus pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
Menurut Teuku Faisal, Pemerintah Aceh siap mendukung penuh pembangunan jaringan kereta api agar selaras dengan visi pemerintah pusat dalam memperkuat konektivitas nasional dan menurunkan biaya logistik daerah.
Hal itu disampaikan Teuku Faisal dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Perkeretaapian di Wilayah Aceh bersama Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Medan pada Selasa, 5 Mei 2026.
Rapat tersebut turut dihadiri Plt Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh, perwakilan Bappeda Aceh, serta sejumlah pejabat struktural Dishub Aceh.
Dalam pertemuan itu, Dishub Aceh membahas kondisi sarana dan prasarana kereta api yang terdampak bencana hidrometeorologi, progres rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas perkeretaapian, serta rencana pengembangan jaringan kereta api Aceh ke depan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BTP Kelas I Medan, Jimmy Michael Gultom menyambut baik usulan penataan ulang rencana pembangunan kereta api Aceh dan menilai dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam perencanaan pengembangan jaringan perkeretaapian.
Berdasarkan paparan BTP Kelas I Medan, terdapat 65 titik fasilitas prasarana kereta api di lintas Lhokseumawe (Muara Satu)–Bireuen (Kuta Blang) yang terdampak bencana. Kondisi tersebut menyebabkan layanan angkutan kereta api perintis Aceh yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terhenti sementara.











