Oleh : H. Roni Haldi, Lc*
*Penghulu Muda KUA Kec. Susoh, Abdya dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT Aceh).
Rindu adalah gelagak hati untuk berjumpa bersua dengan yang dicintai. Gelegak itu bagian dari tanda bahwa di hati seseorang ada cinta nyata bukan cinta dusta. Cinta nyata yang membuat mata sulit terpejam, walau kelopak menutup mata namun hitam putih mata bergerak tanda tak sudi untuk terpejam ke alam mimpi. Cinta yang mendebarkan hati menanti saat istimewa itu tiba menyapa. Tanpa rasa gelora rindu ingin bertemu dengan Ramadhan di lubuk hati sanubari, mustahil seseorang dapat memadu kasih. Tanpa rasa rindu diawal, hanya amal fisik saja yang didapat berupa lelah letih, haus dahaga dan lapar melelahkan.
Kerinduan akan hadirnya Ramadhan telah pun dulu dirindui oleh orang-orang shaleh sebelum kita, tergambar terpampang jelas pada apa yang diungkapkan oleh Yahya bin Abi Katsir rahimahullah. Beliau mengatakan bahwa salah satu do’a yang dipanjatkan para salafuna Shalihin adalah do’a berikut :
ا اللهم سلمني إلى رمضان وسلم لي رمضان وتسلمه مني متقبل
“Ya Allah, pertemukan diriku dengan bulan Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku, dan terimalah seluruh amalku di bulan Ramadhan.” (Ibnu Rajab al-Hambali, Lathaif al-Ma’arif hlm. 158).
Setiap yang dirindui tentulah punya sesuatu yang istimewa dipandang lebih oleh sesiapa saja. Apatah lagi bulan Ramadhan, didalamnya tersedia sungguh banyak keutamaan yang dihamparkan Allah SWT bagi para perindunya.
Pertama, kedudukan Alumni madrasah Ramadhan. Sungguh panggilan puasa Ramadhan hanya akan disahuti dengan penuh kerinduan dan kesungguhan oleh mereka yang beriman, sebab target akhir penunaian perintah kewajiban puasa Ramadhan adalah derajat taqwa; yaitu sebaik dan setinggi derajat seorang hamba-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183).
Kedua, Adanya janji pengampunan. Hadirnya Ramadhan membawakan pengharapan besar bagi setiap muslim agar seluruh dosa-dosanya yang telah lalu diampuni oleh Allah SWT. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pernah bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa dibulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka dosa-dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tentunya pengampunan dari Allah SWT akan diberikan kepada orang yang benar-benar yakin akan kewajiban puasa Ramadhan. Imam Izzuddin bin Abdissalam Al Sulami dalam kitabnya Maqashid Al Shaum menyampaikan bahwa maksud “îmânan—karena iman” dalam hadits di atas adalah meyakini kewajiban puasa dan melaksanakannya (bi wujûbihi). Dan maksud dari “ihtisâban—mengharapkan pahala” adalah, “li ajrihi ‘inda rabbihi—merendahkan diri memohon pahala dari Tuhannya”.
Ketiga, sarana terdekat antara hamba dengan Rabb-Nya. Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Dan Allah-lah yang akan memberikan balasannya. Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman :
“Tidaklah seorang anak Adam melakukan suatu amalan kebaikan, kecuali akan dituliskan baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat (pahala) kebaikan. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa maka sungguh puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang menentukan ganjaran (pahala)nya” (HR. An Nasa’i).
Apa sebab puasa Ramadhan Allah SWT sendiri yang membalasnya? Imam An Nawawi menjelaskan dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim : “Dikatakan (bahwasanya Allah sendiri yang akan memberikan pahala orang berpuasa) karena puasa adalah bentuk ibadah yang tersembunyi yang jauh dari perbuatan riya’, hal ini berbeda dengan ibadah shalat, hajji, berjihad, shadaqah dan amalan-amalan ibadah yang zhahir (tampak) lainnya.”
Keempat, bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan, Allah -ta’ala- berfirman :
“Bulan Ramadhan yang Allah turunkan didalamnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sekaligus penjelas dari petunjuk dan pembeda (antara kebenaran dan kebatilan).” (Al-Baqarah:185)
Dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu beliau berkata : Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah wajibkan berpuasa didalamnya, dibukakan didalamnya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu para setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang dihalangi dari kebaikannya, sungguh ia telah dihalangi dari segala kebaikan.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad 225/9-Al-Fath Ar-Rabbani dan An-Nasa’i 129/4).
Dalam hadits tersebut terdapat kabar gembira dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk hamba-hamba Allah yang shalih dengan kedatangan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengabarkan para sahabat akan kedatangan bulan ini, dan kabar ini bukanlah sekedar kabar tanpa makna : ini merupakan sinyal bagi para sahabat akan kehadiran waktu yang agung, yang tidak akan disadari kecuali oleh hamba-hamba yang shaleh dan giat beribadah, dimana Nabi -shallahu ‘alaihi wasallam- menerangkan apa-apa yang telah Allah persiapkan didalamnya dari hal-hal yang bisa mendatangkan ampunan Allah dan keridhaan-Nya. “Dan barangsiapa yang terluput dari ampunan di bulan Ramadhan maka sungguh ia telah melewatkan sesuatu yang tak ternilai.
Kelima, Pahala yang dilipatgandakan dan tak terbatas. Rasulullah shalallahu alaihi wa mengabarkan peluang berharga itu dalam sabdanya :
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak, seandainya ada seseorang yang mencela atau mengajak bertikai maka hendaklah ia mengatakan ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang berpusa itu lebih wangi dari minyak kasturi di sisi Allah, Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan yaitu tatkala dia berbuka dia bahagia dengan sebab bukanya dan tatkala bertemu dengan Rabbnya dia bahagia dengan puasanya.”
Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan : “Setiap amalan anak Adam adalah baginya dilipat gandakan kebaikannya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman:’kecuali puasa karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan langsung membalasanya’.”
Maka sudah semestinya bagiborang yang berpuasa menjadikan puasanya benar-benar sebagai penghalang dirinya dari api neraka, menghalangi dia dari melakukan perbuatan-perbuatan maksiat sehingga orang tersebut dapat memperoleh pahala puasa yang tidak terhitung. Para ulama sampai menyerupakan antara puasa dengan sabar sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu akan diberikan balasan mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).
Keenam, sebagai syafa’at pada hari kiamat. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda : “Puasa dan Al-Qur’an keduanya memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat, berkatalah puasa: ‘Ya Rabb aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya, maka jadikanlah aku syafa’at karenanya’ Berkatalah Al-Qur’an: ‘aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari maka jadikanlah aku syafa’at karenanya’. Maka keduanya pun dapat memberikan syafa’at.” (HR. Ahmad).
Begitulah beberapa keutamaan yang tersedia di bulan Ramadhan. Rasanya sungguh rugi jika kita masih lalai dan abai terhadap hamparan keutamaannya, sedangkan sya’ban telah tiba dipenghujungnya. Mari siapkan diri, keluarga walaupun kita sedang berada di tengah musibah wabah virus Corona atau Covid-19. Berdo’alah kepada Allah Ta’ala agar hadirnya Ramadhan dapat mengikis habis wabah dan dapat beribadah penuh kekhusyukan.
اللهم لا يأتي شهر رمضان إلا وقد أزلت عنا الوباء والبلاء والغلاء، ولا تحرمنا لذة الصلاة بالمساجد يارب العالمين.
“Ya Allah datangkan bulan Ramadhan dikala wabah, bencana dan kesulitan hidup sudah dihilangkan dari kami. Dan jangan jauhkan kenikmatan shalat di masjid bagi kami, Ya Rabb semesta alam.”









