Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Apakah Cinta pada Negeri Menjadi Sebuah Kesalahan?

redaksi by redaksi
28/05/2026
in Opini
0
[Opini] Apakah Cinta pada Negeri Menjadi Sebuah Kesalahan?

Oleh: Syahrul Amin, S.Sos. PMII Aceh

Di setiap perjalanan bangsa, kritik selalu hadir sebagai bagian dari denyut demokrasi. Kritik bukan sekadar suara penolakan, melainkan wujud kepedulian terhadap arah dan masa depan negeri. Sebab mereka yang benar-benar tidak peduli biasanya memilih diam.

Sementara orang-orang yang terus bersuara, mengingatkan, bahkan marah terhadap keadaan, sering kali justru adalah mereka yang masih menyimpan harapan besar bagi bangsanya.

Ironisnya, dalam banyak keadaan, pengkritik justru dianggap ancaman. Suara yang berbeda dipandang mengganggu ketertiban, sementara pertanyaan-pertanyaan kritis sering dianggap sebagai bentuk perlawanan. Padahal, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang membungkam perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mendengar kritik tanpa merasa runtuh oleh pandangan yang berbeda.

Membungkam pengkritik sama saja dengan menutup cermin bagi negara. Kritik adalah cara masyarakat menunjukkan bahwa mereka menginginkan negeri ini menjadi lebih baik. Ketika rakyat mengeluhkan ketidakadilan, korupsi, lemahnya pelayanan, atau kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil, itu bukan berarti mereka membenci negara. Justru karena rasa cinta terhadap negeri ini masih ada, mereka tidak rela melihat bangsanya berjalan ke arah yang salah.

Sejarah telah membuktikan bahwa banyak perubahan besar lahir dari suara-suara kritis. Para pejuang kemerdekaan dahulu adalah pengkritik terhadap penjajahan dan ketidakadilan. Mahasiswa yang turun ke jalan dalam berbagai fase sejarah Indonesia juga lahir dari kegelisahan terhadap keadaan bangsa. Jika semua kritik dibungkam, mungkin perubahan tidak pernah menemukan jalannya.

Tentu, kritik harus disampaikan dengan etika, tanggung jawab, dan niat yang baik. Kritik bukan fitnah, bukan kebencian, dan bukan upaya memecah belah bangsa. Namun negara juga harus mampu membedakan mana kritik yang membangun dan mana tindakan yang benar-benar merusak. Sebab demokrasi tidak akan pernah tumbuh di ruang yang dipenuhi rasa takut.

Hari ini, tanah surga yang kaya akan alam dan kehidupan satwa langka di pelosok timur negeri perlahan mulai rusak oleh kepentingan yang mengabaikan keberlangsungan masa depan. Hutan ditebang, alam dirusak, dan suara-suara yang berusaha mengingatkan justru sering diperlakukan tidak semestinya. Anak-anak negeri yang bersuara demi menjaga tanah airnya terkadang dianggap musuh, padahal mereka hanya ingin memastikan bahwa negeri ini tetap layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Negeri ini tidak membutuhkan rakyat yang hanya pandai memuji. Negeri ini membutuhkan warga yang berani mengingatkan ketika ada yang keliru. Karena mencintai bangsa bukan hanya tentang tepuk tangan saat semuanya terlihat baik-baik saja, tetapi juga keberanian untuk bersuara ketika keadaan mulai menyimpang.

Maka ketika pengkritik dibungkam, pertanyaan besarnya adalah: apakah mencintai negeri dengan cara mengingatkan kini telah dianggap sebuah kesalahan?

Previous Post

Bupati Armia Serahkan 2 Ekor Sapi Kurban dari Presiden Prabowo

Next Post

UTU dan Bank Aceh Syariah Sepakati Kerja Sama Pelayanan Digital Akademik

Next Post
UTU dan Bank Aceh Syariah Sepakati Kerja Sama Pelayanan Digital Akademik

UTU dan Bank Aceh Syariah Sepakati Kerja Sama Pelayanan Digital Akademik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Sang Kombatan [Jilid 2]

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 19

19/10/2026
Bupati Sibral Malasyi Dorong PB 2M Cup Jadi Ajang Pembinaan Atlet Bulu Tangkis Pidie Jaya

Bupati Sibral Malasyi Dorong PB 2M Cup Jadi Ajang Pembinaan Atlet Bulu Tangkis Pidie Jaya

18/10/2026
Mahasiswa UTU Dilatih Pendidikan Dasar Penanggulangan Kebencanaan di Abdya

Mahasiswa UTU Dilatih Pendidikan Dasar Penanggulangan Kebencanaan di Abdya

18/10/2026
Polemik Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan, Protes Meluas hingga Tegang dengan Turki

Polemik Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan, Protes Meluas hingga Tegang dengan Turki

18/10/2026
Warga Banda Aceh Diminta Waspadai Potensi Sebaran Asap

Pemko Siagakan Puskesmas 24 Jam dan Terapkan Pembelajaran Daring

18/10/2026

Terpopuler

Mualem Copot Teungku Muhammad Nur Dari Direktur Umum dan Keuangan di PEMA

Mualem Copot Teungku Muhammad Nur Dari Direktur Umum dan Keuangan di PEMA

17/10/2026

Aliansi Masyarakat Abdya Tolak PT CA, Layangkan Surat Pernyataan Sikap dan Tuntutan ke Menteri ATR/BPN

[Opini] Apakah Cinta pada Negeri Menjadi Sebuah Kesalahan?

Polemik Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan, Protes Meluas hingga Tegang dengan Turki

Video Tgk Wan Klibeut Berhadapan dengan TNI, Soroti Qanun Bendera Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com