Asap ikan bakar, tawa guru, dan kuah pliek u. Begitulah nuansa Selasa pagi di Ujong Blang berubah jadi ruang kelas tanpa papan tulis.
BIREUEN – Setelah dua minggu penuh berkutat dengan lembar ujian akhir semester genap dan rapat kerja yang bikin kepala mumet, para guru dan ustaz Al Zahrah akhirnya melepas penat. Selasa, 23/6/2026, Pinto Laot Ujong Blang tak lagi cuma jadi nama pantai. Ia jadi ruang tamu besar keluarga besar Pesantren Modern Al Zahrah berkumpul gembira.
Sejak pukul 09.00 WIB, gubuk pantai mulai ditempati. Yang datang bukan hanya ustaz dan guru madrasah, tapi juga anak-istri, suami, dan balita yang berlarian di pasir. Temanya satu: Al Zahrah Gathering. Sederhana namanya, tapi maknanya dalam yaitu memupuk persaudaraan yang kadang aus karena rutinitas mengajar dan menjaga asrama.
Acara dimulai bukan dengan sambutan panjang. Tapi dengan bara api dan wajan. Ikan segar dibakar, kuah pliek u diracik langsung. Aroma rempah Aceh bercampur angin laut. Di meja kayu panjang, guru yang biasanya di kelas berkutat dengan pena dan buku, kini memegang centong menuang kuah. Makan siang bersama jadi jeda paling jujur: di sini nggak ada sekat ustaz dan wali santri, hanya keluarga yang lapar dan bahagia.
Usai perut kenyang, giliran Intan Aliya Yuskar dan Ikhwan Ramadhan ambil alih panggung pasir. Lewat game-game ringan, mereka memaksa guru matematika kerja sama dengan guru tahfidz, guru asrama lomba cepat dengan guru bahasa Arab. Aturannya cuma satu: kompak atau kalah. Hasilnya? Sorak-sorai, tawa yang pecah, dan tim yang awalnya canggung jadi satu suara.
“Ini bukan sekadar rekreasi,” ujar Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Tgk. H.M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., di sela acara. Bagi beliau, Al Zahrah Gathering adalah agenda wajib. “Silaturahmi antar dewan guru pengajar itu napas pesantren. Kalau batinnya erat, ngajarnya pun sampai ke hati santri.”
Tgk. Fadhil juga tak lupa mengapresiasi keluarga Al Zahrah. Para guru yang masih teguh berkhidmat, tidak mengenal letih mengurus santri.
“Mari kita rawat dan jaga persatuan bersama ini,” pesannya singkat, tapi mengena.
Di ujung acara, harapan dititipkan untuk tahun ajaran 2026/2027. Tgk. Fadhil berdoa agar energi baru dari pantai ini dibawa pulang ke kelas, ke asrama, ke setiap sudut pesantren. “Semoga di tahun ajaran baru menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya,” tutupnya.
Pukul 15.40 WIB, foto bersama jadi penutup. Kamera menangkap bukan pose kaku, tapi wajah-wajah yang benar-benar lega. Pasir di kaki, garam di baju, tapi hati penuh. Keluarga Al Zahrah lalu beranjak pulang satu per satu, meninggalkan Ujong Blang dengan bekal baru: persaudaraan yang lebih kuat dari ombak.












Menyala Al-Zahrah…..