Banda Aceh–Perubahan karakteristik peserta didik di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital menuntut guru tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memahami bagaimana generasi muda belajar, berpikir, berinteraksi, membangun motivasi, dan merespons lingkungan belajar.
Hal itu disampaikan oleh Dosen Departemen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP USK, Ika Apriani Fata, S.Pd., M.Hum., dalam kegiatan Bincang Series: Psikologi Pendidikan—Mengajar Gen-Z, Apa dan Bagaimana?” yang digelar oleh SMA Negeri Modal Bangsa Aceh Besar, Sabtu (22/08/2026).
Dalam kegiatan yang berlangsung di Ruang Konferensi SMA Modal Bangsa Aceh Besar itu, Ika Apriani memaparkan bahwa Gen-Z merupakan generasi yang tumbuh bersama internet, smartphone, media sosial, dan teknologi AI. Kondisi ini, kara dia, membentuk pengalaman belajar yang berbeda, terutama dalam hal perhatian, motivasi, kebutuhan akan relevansi, otonomi, interaksi, serta umpan balik.
“Gen-Z bukan kelompok yang homogen. Karena itu, pendidik perlu melihat siswa sebagai individu dengan kebutuhan, pengalaman, motivasi, dan potensi yang beragam,” ujarnya.
Ika juga menyoroti pentingnya pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju learner-centered learning. Menurut mantan Koordinator S1 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP USK itu, guru di zaman sekarang jangan lagi berperan sebagai sumber informasi, tetapi harus mampu sebagai learning designer yang menciptakan pengalaman belajar relevan, aman secara psikologis, kolaboratif, dan mendorong siswa untuk aktif mengeksplorasi.
“Pemahaman terhadap psikologi Gen-Z dapat membantu pendidik merancang pembelajaran yang lebih menarik, relevan, dan responsif terhadap kebutuhan siswa, sekaligus mengurangi kecenderungan melihat penggunaan gawai dan teknologi semata-mata sebagai gangguan,” tegas Ika.
Ika berharap melalui kegiatan tersebut guru memperoleh perspektif dan strategi praktis untuk mengelola perhatian, membangun motivasi, memberikan feedback konstruktif, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Di sisi lain, tambah Ika, siswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif, relevan, aman, dan memberi ruang bagi mereka untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, pesan yang dibangun adalah bahwa mengajar Gen-Z bukan berarti guru harus menjadi “keren” atau mengikuti setiap tren teknologi. Guru harus kompeten, relevan, autentik, dan suportif. Pada akhirnya, guru masa kini bukan sekadar penyampai materi, melainkan designer of meaningful learning experiences,” tegas Ika yang saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di Universiti Sains Malaysia.[]







