Jakarta – Kopi Gayo asal Aceh, Indonesia masuk daftar biji kopi terbaik dunia tahun 2026 versi Taste Atlas. Lantas, apa keistimewaan biji kopi Gayo sampai mendapat pengakuan ini?
TasteAtlas sebagai situs ensiklopedia kuliner sering mengumpulkan penilaian dan ulasan pengguna berbagai negara. Hasilnya kemudian menjadi daftar peringkat makanan dan minuman dalam berbagai macam kategori.
Baru-baru ini TasteAtlas mengeluarkan daftar Best Coffee Beans in Asia 2026. Dalam daftar tersebut, kopi Gayo dari Aceh masuk sebagai salah satu yang terbaik dengan penilaian 4.9.
Namun, apa yang membuat biji kopi Aceh ini diakui? Dilansir dari beberapa sumber, berikut keistimewaan kopi Gayo.
1. Kopi yang populer di pasar dunia
Kopi Aceh Gayo berasal dari pemerintah Hindia Belanda yang menanam tanaman kopi pertama di daerah Aceh setelah tiba di tanah Gayo. Melihat keberhasilan komoditas biji kopi tinggi, para petani lokal akhirnya tertarik menanam biji kopi daripada rempah-rempah.
Akhirnya kopi Aceh Gayo dimintai masyarakat Hindia Belanda di Indonesia, dan sedikit mulai dibawa untuk dipasarkan di Eropa. Sampai akhirnya perkembangan tanaman ini berhasil diproduksi stabil sejak tahun 1920-an.
Setelah dibawa ke Eropa dan mendapat banyak peminat, akhirnya Aceh Gayo merambah ke beberapa negara. Biji kopi ini bahkan sekarang sudah diekspor ke seluruh negara bagian Eropa. Amerika Utara, Asia, hingga Pasifik.
2. Karakteristik biji kopi Gayo
Biji kopi ini tumbuh subur di Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues). Ditanamnya di tanah vulkanik kaya mineral pada ketinggian 900 hingga 1700 mdpl, lapor unggahan Instagram @gnfi (28/8).
Kopi Gayo punya rasa yang tidak pahit tapi ada sedikit keasaman yang dapat dirasakan dan sedikit sentuhan manis. Karakteristik ini membuatnya sering dijadikan bahan campuran house blend coffee.
Biji kopi ini paling cocok ditanam di ketinggian 1000 mdpl. Tetapi uniknya, ketinggian perkebunan akan menentukan cita rasa kopi itu sendiri.
Namun, secara keseluruhan, kopi Gayo punya sentuhan rasa nutty atau seperti kacang-kacangan dan cenderung buttery dengan aroma rempah wangi. Bodynya tebal tetapi tingkat keasamannya cukup tinggi dan biasanya akan muncul serta membekas pada dinding mulut.
3. Proses penanaman dan pengolahan
Dilansir dari ottencoffee.com (26/9/2024), penanaman kopi Gayo masih dilakukan dengan metode tradisional yang melibatkan teknik pertanian berkelanjutan. Petani kopi daerah Gayo umumnya mengelola lahan secara organik, tanpa pestisida atau bahan kimia berbahaya.
Setelah dipanen, biji kopi diproses menggunakan metode semi-washed yang melibatkan penghilangan kulit biji kopi lokal, lalu dicuci, dan dijemur, sebelum akhirnya dipanggang. Metode ini juga membantu menghasilkan rasa bersih dan aroma khas yang membuat kopi Gayo dimintai.
4. Jenis-jenis kopi Gayo
Biji kopi Aceh Gayo memiliki banyak jenis, mulai dari Bergendal yang termasuk dalam jenis Arabika. Kopi ini tumbuh dalam ketinggian 1.200 hingga 1.500 mdpl dengan cita rasa seperti buah-buahan dan sentuhan herbal dan spicy serta tingkat keasaman rendah.
Ada juga rambung, yaitu kopi Gayo yang ditanam di tanah Gayo. Kopi ini memiliki pertumbuhan cepat dan membutuhkan lahan lebih banyak untuk membudidayakannya.
Kopi Sidikalang juga termasuk ke dalam biji kopi Aceh Gayo. Kopi ini tumbuh di ketinggian 1.500 mdpl yang memiliki masa hidup tanaman panjang tetapi harus dirawat dan melalui proses tepat.
TimTim Arabusta juga termasuk jenis biji kopi Gayo yang merupakan persilangan antara kopi Arabika dan Robusta. Awalnya ditanam di Timor Timur. Setelah tahun 1980-an, barulah TimTim Arabusta dibawa ke dataran tinggi di Aceh kemudian dikembangkan.









