Jakarta – Dewan Pakar telah memilih tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah. Ketiganya dinilai memiliki dedikasi tinggi dalam melestarikan identitas budaya daerahnya masing-masing.
Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Ada empat kategori DPD RI Awards 2026, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan dan Pelestari Budaya Daerah.
Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 yaitu Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.
Siapa saja 3 sosok yang masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah? Berikut ini sekilas profilnya:
1. Anitawati (Maluku Utara)
Anitawati merupakan penggagas revitalisasi Tenun Tidore (Puta Dino Kayangan) yang sempat hilang lebih dari 100 tahun. Berbekal riset arsip sejarah serta penelusuran jejak penenun di Tidore, Anitawati merekonstruksi teknik, motif dan filosofi tenun sebagai identitas budaya Kesultanan Tidore.
Melalui pelatihan menenun, pendampingan usaha serta pemberdayaan perempuan, pemuda, pelajar dan warga binaan rutan, Anitawati tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi berbasis industri kreatif.
Anitawati mengembangkan motif-motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands. Dia menjadikan tenun sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya.
Anitawati juga membawa tenun Tidore tampil di berbagai ajang internasional, antara lain Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), Cape Town (2023), Paris (2024), dan Rabat (2024), serta berhasil menembus pasar ekspor melalui outlet di Hamburg, Jerman.
2. Endang Dzunuraini (Jawa Timur)
Endang Dzunuraini mendirikan Sanggar Mbah Guru, pusat komunitas pelestarian batik yang memberdayakan perempuan pedesaan dan seniman lokal di Lamongan, Jawa Timur. Di Sanggar Mbah Guru, para pengrajin batik berhasil kembali dihidupkan setelah sempat punah.
Endang membuka wisata edukasi membatik lengkap hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Sanggar Mbah Guru memiliki kebun budidaya berisi sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam sebagai laboratorium hidup sekaligus kebun pewarna alam percontohan yang terintegrasi dengan eco-edu culture tourism.
Sanggar Mbah Guru memproduksi batik dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman yang bisa diregenerasi dan juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.
Lewat Sanggar Mbah Guru, Endang memberdayakan kaum perempuan desa hingga mengurangi pernikahan dini, KDRT dan perceraian karena masalah ekonomi.
3. Muhammad Ridwan Alimuddin (Sulawesi Barat)
Muhammad Ridwan Alimuddin merupakan peneliti independen yang berdedikasi dalam merevitalisasi kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq. Dia juga Duta Baca Sulawesi Barat dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak tahun 2006.
Ridwan menginisiasi dan bertindak sebagai kurator program Student on Sandeq (SOS) yang dilaksanakan sejak tahun 2022-2026. Program ini menjadi wadah edukatif yang mendekatkan generasi muda pada teknik pembuatan hingga pelayaran perahu tradisional.
Dia juga aktif terlibat dalam pelaksanaan festival Sandeq Race untuk merawat marwah dan eksistensi pelaut lokal secara berkelanjutan sejak 2001. Selain itu, Ridwan terlibat dalam pelayaran rekonstruksi historis seperti ekspedisi Padewakang ke Australia (2019-2020).
Selain itu, Ridwan mendirikan museum Nusa Pustaka dan menggerakkan Armada Pustaka di Sulawesi Barat. Gerakan literasi bergerak ini menyalurkan akses bahan bacaan bagi anak-anak pesisir di pulau terpencil, mengintegrasikan pendidikan dengan identitas maritim lokal.










