Usai pertemuan di Hotel Cakra Donya, kelompok kami beberapa kali pindah tempat tinggal. Sesuai peunutoh Bang Yan, kami harus mengawal hingga struktur pemenangan jalur independent hingga resmi terbentuk.
Terakhir kami menetap di kawasan Lamnyong, Darussalam, sembali menunggu pertemuan selanjutnya yang rencananya berlangsung di AAC Dayan Dawood, pada 21 hingga 23 Mei 2006.
Namun sepekan usai pertemuan di Hotel Cakra Donya, Muti melaporkan bahwa rumah kami mulai sering didatangi oleh para utasan yang mengaku dari elit di Swedia. Awalnya, mereka mengaku cuma bersilaturahmi biasa. Namun ujung-ujungnya menitip ‘paket besar.’
“Bukan pasukan Pase. Mereka mengaku hanya ingin ketemu dengan Abang. Bicara baik baik,” kata Muti melalui handphone. Saat aku tanya siapa utusan tersebut. Muti enggan bercerita.
Padahal aku cuma ingin tahu siapa yang sedang bermain di ‘air keruh’ ini. Karena semasa konflik, aku mengenal hampir seluruh penghubung GAM di Aceh maupun luar negeri. Mereka adalah rekan yang bisa dipercaya.
Tapi berulang kali kupaksa Muti bicara, ia sepertinya tetap enggan bercerita banyak melalui telepon.
“Pulanglah Bang. Muti takut,” ujarnya cemas.
“Mereka sudah datang dua kali.”
“Terakhir, mereka menitipkan sebutir selongsong peluru. Ibu dan ayah tidak tahu. Muti cuma khawatir,” ujarnya lagi singkat.
Mendengar hal ini, aku panik. Mereka gagal menjalin komunikasi dengan kami, tapi justru mengancam keluarga.
Aku tidak menyangka perkara menjaga keamanan di Hotel Cakra Donya kini mulai merembes ke konflik internal. Padahal, damai baru berjalan seumur jagung.
“Dulu peluru menyasar ke lawan. Cuma satu tahun berlalu. Selongsong peluru kini justru dibawa ke rumahku,” gumamku geram.
Perihal yang dihadapi Muti, aku enggan bercerita pada Bang Yan dan para petinggi yang hadir di Hotel Cakra Donya. Aku yakin tekanan yang mereka terima jauh lebih besar meski dalam pertemuan sehari-hari, mereka tetap tersenyum.
Aku cuma minta izin pada Bang Yan untuk pulang sebentar ke Pase guna menyelesaikan persoalan keluarga. Dan Bang Yan mengiyakan.
“Kau pulang satu mobil saja. Satu minggu selesaikan persoalanmu. Bilang sama orang-orang itu. Terlalu cepat mereka menodongkan senjata ke rekan sendiri,” ujar Bang Yan. Ia ternyata tahu apa yang sedang kuhadapi.
Aku mengangguk. “Saya izin kembali bersama Rambo dan Rusli. Cukup bertiga. Sedangkan pasukan lain tinggal. Ada Dani yang akan mengatur di sini,” ujarku.
[Bersambung]
Baca juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)



