USAI beberapa jam berlalu, nomor Bram muncul di layar handphone milik Ibnu. Lelaki itu bergegas menerima sambungan tersebut.
“Hallo, dengan siapa ini?” ujar seseorang di seberang sana.
Ibnu yakin bahwa yang menelponnya tersebut adalah Bram, pengancara keluarga Dara. Mungkin beberapa waktu tadi, Bram tak menerima telepon Ibnu karena sedang sibuk atau nomor tersebut tak terdaftar di handphone.
“Walaikumsalam, Bang Bram. Ini Ibnu, yang bertemu dengan Bang Bram di Bireuen,” ujar Ibnu.
Pria di seberang sana terdiam. Ia kemudian terdengar seperti menarik nafas panjang.
“Syukurlah kamu telepon, Nu. Aku mencoba mencari nomor teleponmu ke sejumlah kenalan Dara, termasuk menelpon KBRI Sidney. Tapi tak kunjung terhubung,” ujar Bram tiba-tiba.
“Dara kecelakaan usai pulang dari Bandara mengantarmu. Kini ia masih koma di RS. Sudah beberapa hari,” kata Bram lagi.
Penjelasan Bram membuat Ibnu shock. Kabar tadi bagai petir di telinganya. Handphone miliknya terjatuh dari tangan. Kekhawatirannya ternyata terbukti. Ia terbayang senyuman Dara beberapa hari lalu saat mengantarnya ke Bandara.
“Hallo, hallo.”
Suara Bram masih terdengar di ujung telepon. Ibnu mengambil kembali handphone miliknya.
“Aku segera kembali ke Jakarta, Bang Bram. Aku berharap Dara baik-baik saja,” ujar Bram di ujung telepon. Komunikasinya kemudian terputus.
Ibnu memantapkan hati untuk kembali ke Jakarta sementara waktu. Apalagi proses perkuliahannya baru dimulai dua pekan ke depan.
Ibnu ingin menemani Dara melewati fase kritis. Ia tidak ingin kembali kehilangan orang-orang yang disayanginya. Hatinya kini tak lagi mendua.
Dilema yang dialaminya selama beberapa hari terakhir membuatnya semakin yakin jika Dara adalah wanita pilihannya selama ini. Ia takut kehilangan Dara seperti ia kehilangan orang-orang terdekatnya selama ini.
“Ya tuhan. Jangan kau rebut Dara dari sisi-ku. Aku tak sanggup jika harus kembali kehilangan,” gumamnya dalam hati.
“Beri dia umur yang panjang. Bantu dia melewati fase kritis ini,” gumamnya lagi.
Ibnu memesan tiket pesawat via online pada hari yang sama. Beruntung, tiket yang dicari masih tersisa beberapa slot walaupun dengan harga yang cukup mahal. Penerbangan akan berlangsung sekitar dua jam kedepan.
Dari apartemen, ia kemudian memasan taksi dan bergerak ke bandara. Di sana, ia justru bertemu dengan Riska, Dela dan Sri.
Riska ternyata mengantar dua sahabatnya itu untuk pulang ke Indonesia. Keduanya sudah menghabiskan masa liburan di Sidney.
Ketiga wanita itu terkejut melihat Ibnu memegang tiket pulang.
“Apa yang terjadi,” ujar Riska.
Belum sempat Ibnu berbicara, handphone kembali berdering. Ada Bram yang muncul di layar.
“Nu, Dara….dara…”
Wajah Ibnu pucat.
[Tamat]











