BENER MERIAH – Konflik gajah dan manusia kerap terjadi diduga karena rute gajah di Aceh kini kian sempit.
Hal ini disampaikan oleh Kepala CRU DAS Peusangan, Syahrul Rizal, kepada atjehwatch.com, Jumat 16 Juli 2021.
“Gajah itu menyimpan memori perjalanan dalam jangka waktu lalu. Ada rute perjalanan yang diwarisi dari generasi ke generasi,” kata Syahrul Rizal.
“Sebenarnya bukan konflik. Gajah melintasi jalur yang sama. Nah, saat dalam perjalanan di jumpai makanan, berupa kebun warga, gajah memakannya. Sedangkan pemilik kebun marah. Nah, ini yang kemudian menyebabkan korban jiwa.”
Apalagi, kata dia, dalam kebun di rute yang dilalui gajah tersebut ditanami pohon-pohonan yang disukai gajah, seperti tebu, pinang dan pisang.
“Sedangkan kebun yang ditanami kopi dan lemon biasanya tak diganggu. Gajah tak suka dengan kopi dan lemon,” kata Syahrul.
Sebelumnya diberitakan, konflik gajah dengan manusia kembali terjadi di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Konflik kali ini terjadi di Desa Panton Lah.
“Kasus ini sedang kita tangani bersama masyarakat. Kita coba giring gajah kembali ke dalam hutan,” ujar Syahrul Rizal.
Menurut, DAS Peusangan merupakan salah satu daerah paling rawa konflik gajah-manusia.
“Pintu Rime Gayo paling sering terjadi (konflik gajah-manusia-red). Beberapa waktu lalu, satu rombongan gajah sekitar 12 ekor. Sedangkan kali ini sekitar 24 ekor,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena rute gajah kini banyak berubah menjadi kebun milik masyarakat.
“Saya bersama tim CRU sedang melakukan pengiringan gajah keluar dari perkampungan dibantu masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Yahwa ini. []










