BANDA ACEH – Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI Aceh) Periode 2018-2020 didesa untuk segera melaksanakan Musda.
Zulfata, Sekum HMI Aceh mengakui adanya dinamika dirinya dengan Ketum adalah sebuah proses kematangan demokrasi kepemimpinan.
Dirinya mendesak Ketum untuk menggelar Musyawarah Daerah (MUSDA) Badko HMI Aceh.
“Seharusnya seorang Ketum harus mampu mengelola dan mengontrol sikap pengurusnya untuk mengarah pada progresifitas pergerakan. Bukan melempem, banyak klaim sana-sini,” kata dia.
“Hal seperti ini contoh kepemimpinan yang tidak elok yang dipertontokan oleh Ketum Badko HMI Aceh. Dari kondisi ini seharusnya seorang Ketum harus bersifat konsolidatif dan mengayomi pengurusnya, ketum harus memiliki kecakapan mitigasi konflik di internalnya, jangan bertapa dan jauh dari kekacauan kepengurusan. Ini masa kepengurusan Badko HMI Aceh sudah habis, mungkin Ketum ingin jadi ketua Badko HMI Aceh seumur hidup,” kata Zulfata.
Belakangan ini Zulfata dianggap sebagai Sekum yang kontroversial, ia tampak tidak ingin tunduk dengan ketum dengan alasan bahwa ada kecelakaan kepemimpinan yang dialami ketumnya, sehingga ia tidak ingin tunduk atas nama Sekum.
“Betul saya (Zulfata), tidak ingin tunduk dengan Ketum bukan lantaran persoalan pribadi, dia (ketum) teman saya, teman berjuang menumbangkan pohon besar, tapi apa yang saya lakukan ini percayalah hanya untuk menjaga arus akal sehat di Badko HMI Aceh khususnya, HMI Se-Indonesia pada umumnya” Jawab Zulfata.
Saat ini publik terus menilai terkait lemahnya peran Badko HMI Aceh, terutama di kalangan Ketua Cabang se-Aceh. Melalui media Zulfata menghimbau kepada seluruh Ketum Cabang HMI Se-Aceh untuk tidak diam dan berpangku tangan melihat kondisi Badko HMI Aceh saat ini, lembaga koordinasi ini sedang dinakhodai dengan lamban melebihi lambannya Keong berjalan.
“Untuk itu Ketum Cabang HMI Se-Aceh jangan enggan mengkritik peran Badko HMI Aceh Periode 2018-2020, termasuk juga terus mendesak pelaksanaan Musda Badko HMI Aceh,” kata Zulfata.








