BANDA ACEH – Para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh mengaku gundah jelas Muskot akhir September 2021.
Ini karena beberapa kebijakan incumben dinilai mengebiri hak KSR PMI univesitas. Dimana, sejumlah kebijakan dibuat incumben agar terpilih kembali dalam Muskot akhir September ini.
Pertama, menurut Zulfahmi, Ketua KSR PMI UIN Ar-Raniry, adanya upaya penggiringan pembentukan relawan Korp Sukarela.
Pada pemilihan sebelumnya, setiap KSR universitas memiliki satu suara untuk pemilihan ketua PMI Banda Aceh. Namun karena incumbent tahu bahwa sejumlah KSR universitas tak lagi mendukungnya digiring agar membentuk Korp Sukarela yang nantinya semua KSR universitas digabung ke sana dan hanya memiliki satu suara.
“Dengan dibentuknya Forum Relawan KSR hanya ada satu suara mewakili dari KSR Perguruan Tinggi, ini rencana yang diagendakan oleh Incumbent agar enam KSR perguruan Tinggi yang tidak mendukung kembali Incumbent menjadi ketua PMI Kota Banda Aceh menjadi satu suara,” ujarnya lagi.
Yang paling parah lagi, kata dia, penggiringan surat dukungan dari KSR perguruan tinggi untuk salah satu calon yaitu surat dukungan bermaterai 10.000 yaitu surat dukungan tertulis langsung untuk pemenangan saudara Qamaruzzaman Hagny sebagai Ketua PMI Banda Aceh 2021-2026.

Informasi lain, PMI Banda Aceh juga terkesan buru-buru membentuk PMI kecamatan atau ranting jelang Muskot.
Isu ini mencuat di beberapa grub WhatsApp Relawan Palang Merah Indonesia Kota Banda Aceh dan Relawan Palang Merah Indonesia Propinsi Aceh yang memposting dan membagikan SK struktur Kepengurusan PMI Kecamatan.
Salah satunya Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Periode 2021-2026, yang ditetapkan dengan No 20/KEP/IV/2021 tertanggal 12 April 2021 ditandatangani langsung oleh ketua PMI Kota Banda Aceh yaitu Qamaruzzaman Hagny. SK PMI kecamatan Ulee Kareng yang diketuai oleh Jamaluddin, sekretaris Hasbi, SH dan Bendahara Agus Wardana serta diisi oleh empat anggota.
Postingan SK kepengurusan kecamatan ini di grub WhatsApp membuat para relawan yang tergabung dalam Forum Relawan Kota Banda Aceh dan Forum Relawan Propinsi Aceh terkejut.
“Lho kok tiba tiba udah ada PMI kecamatan atau ranting di saat mau acara pemilihan ketua PMI kota. Banyak anggapan yang beragam dari para relawan seperti ada kata hana pelhuh lee PMI kota. Serta banyak lagi komentar -komentar miring lain saling mengejek dalam grub WhatsApp sambil ketawa dengan persoalan Muskot PMI kota,” ujar sumber atjehwatch.com.
Salah seorang relawan PMI Kota Banda Aceh, Muhammad Akbar, settingan jelas Muskot PMI Banda Aceh dirasakan benar oleh pihaknya.
“Ketika kita amati sepertinya ini sudah disetting dari jauh jauh hari demi mengamankan pucuk kepemimpinan PMI Kota Banda Aceh,” kata dia.
Akbar berpendapat bahwa, membentuk ranting atau PMI cabang itu sah -sah saja, memang ada dianjurkan dalam surat edaran PMI Pusat No 3793 tahun 2010.
“Akan tetapi kenapa ketika mau acara Muskot baru dibentuk, kenapa waktu KSR perguruan tinggi tidak mau lagi memberikan hak suara kepada Incumbent, itu SK yang dikeluarkan oleh Ketua cabang PMI kota untuk PMI kecamatan kan bulan 4 kemaren. Jadi kalau mau bentuk PMI Kecamatan koordinasilah dengan KSR Perguruan Tinggi, perwakilan relawan kota Banda Aceh, dan unsur -unsur terkait untuk pembentukan PMI Kecamatan /ranting.”
“Jangan asal asal bentuk seperti ini dan dadakan, “ katanya lagi.
Akbar juga mempertanyakan bagaimana proses pembentukan, kapan, dimana, unsur apa saja yang dilibatkan.
“Kalau kita lihat ini kayaknya asal tunjuk aja untuk kepentingan Muskot dalam waktu dekat ini. Yang lebih parahnya lagi ada beberapa yang diangkat jadi pengurus kecamatan tidak paham dengan PMI. Jangan jangan 7 Prinsip aja gak tahu dan gak hafal apa lagi yang lain berkaitan dengan PMI, dan malah ketika beberapa orang kami hubungi namanya yang tercantum di SK dan mempertanyakan malah SK itu tidak tahu apa apa. Gak tahu ada namanya di SK. “
“Ada juga yang mengatakan bahwa apresiasi dari PMI Kota sebagai pendonor rutin. Sejak kapan?” kata Akbar dengan nada kesal.
Akbar juga merasa heran janggal dengan kepengurusan periode ini.
“Setidaknya ketua PMI Kota Banda Aceh sekarang yang sudah duduk 3 periode selama 15 tahun harus harus melihat ke belakang. Bagaimana relawan KSR Perguruan Tinggi bekerja menyukseskan acara PMI kota setiap even even. 15 tahun loh relawan KSR membantu kegiatan PMI kota,” ujar Akbar dengan suara kecewa. []










