BANDA ACEH – Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur ke-XV resmi dibuka oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP-FPTI) Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid).
Pembukaan secara langsung itu berlangsung di Venue Wall Climbing FPTI Aceh, Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya Kota Banda, Kamis (18/11/2021).
Prosesi pembukaan diawali dengan masuknya satu persatu perwakilan kontingen ke zona Venue Wall Climbing.
Defile ini di start oleh kontingen Provinsi Bali yang diwakili oleh Ni Kadek Dwiantari Saniasih, Ceding Bintang Arigayo dan Xien Lintang Tuahnaru dan diakhiroleh kontingen Provinsi Aceh yang diwakili oleh Anggara Yudha Pratama, Febri Aslam Maulana dan Nazwa Amelia.
Yenny Wahid pada pidato pembukuannya menyatakan bahwa, Kejurnas Kelompok Umur itu sangatlah penting, karena saat ini atlet-atlet Indonesia cukup disegani di pentas dunia. Untuk itu penting memastikan kesinambungan prestasi olahraga tersebut dengan mempersiapkan bibit atlet sejak muda.
Putri dari mantan Presiden Indonesia ke-IV Abdurrahman Wahid itu juga menyampaikan jika saat ini Panjat Tebing termasuk dalam salah satu Cabang Olahraga prioritas yang mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Indonesia.
Sementara Ketua Umum Pengprov FPTI Aceh, H. Muhammad Saleh menyampaikan laporan terkait pelaksanaan Kejurnas tersebut di hadapan Pegurus Pusat FPTI dan tamu undangan lainnya.
“Kejurnas KU ke-15 ini diikuti oleh 25 Provinsi, 127 atlet putra, 89 atlet putri dengan total keseluruhannya ada 216 atlet. Official tim ada 69 orang,”
Shaleh mengucapkan selamat bertanding kepada para peserta dan mengucapkan terimakasih kepada Kadispora, KONI Aceh dan dan beberapa pihak lainnya yang telah mendukung atas terselenggaranya kegiatan akbar tersebut.
Dihadapkan para tamu undangan dan pesrta Kejurnas itu Shaleh juga menyampaikan bahwa, Aceh sangatlah aman, tidak seperti image yang banyak dibayangkan orang di luar, padahal orang Aceh menurutnya sangat toleran.
“Sejak masa Kesultanan, sampai hari ini, belum pernah sejarahnya ada konflik Agama di Aceh. Kemudian jika ada kewajiban berjilbab di Aceh, itu hanya untuk kaum muslimah, bagi yang non muslim tak perlu khawatir, mereka hanya diminta tidak berpakaian seksi,menghormati tata krama dan norma-norma daerah Aceh.
Reporter: Rusman








